Search This Blog

09 July 2012

# 3 # Siapa BiLang Jadi TKW Itu Enak? (AKU BUKAN "ATM")

"Dancuk!!! Rumangsane aku iki neng Hong Kong gak butuh duit tah?” Dikirimi pira-pira kok panggah kurang wae, jan-jane apa toh sing dituku wong ngomah ki? Aku ngrasakne kok kelar mumet. Masa kebutuhane ngluwihi kebutuhane sing kerja. Rumangsane aku ki apa ATM ngana pa piye? Tak belan-belani kirim, jebule digawe selingkuh. Sapa sing ora mangkel?" Seorang mbak terlihat emosi setelah menyudahi obrolan di telpon, entah dengan siapa.
"Sabar ta mbak…" sahut yang lain.
"Owalah, nasibmu kuwi kok meh padha karo aku ta Yu, aku iki ya bola bali kapusan duwit wae. Aku wonge ora mentalan dadi  ya kuwi sing marai aku diakali kanca-kancaku dhewe. Nek wis ngene ki jan muangkel. Biyen nyilihe duwit penak, la barang saiki wayahe mbalekne diicir wae marai dhuwitku mawut. Sing marake nesu maneh dadak ora kenek ditelpon tiba tanggale, tambah nemene ngenteni ditagih dhisik. Arep ora nesu ki ya piye jal?" Suara lain ikutan menyeletuk.

Begitulah obrolan saur manuk  yang sering terdengar di Toko Indonesia. Terlihat beberapa Buruh Migran Indonesia (BMI) bergerombol, saling bertukar cerita atau sekedar mengungkapkan kekesalannya.  Tak jelas awal mulanya, cerita mengalir begitu saja. Ketika salah satu dari mereka memulai cerita, yang lain akan sambung menyambung bercerita. Maka terjadilah obrolan yang seru antara mereka walau tak saling kenal.Sepintas obrolan seperti itu sudah biasa dan sering terdengar di mana-mana. Sesekali diselingi guyonan, tetapi lama kelamaan mulai serius menceritakan atau bertukar cerita masalah masing-masing. Berbicara mengenai persoalan uang, seakan tak ada habisnya. Selalu saja ada cerita berbagai versi bermunculan. Tak sedikit BMI yang mengeluh mengenai uang. Entah karena utang atau karena selalu dijadikan “ATM” dari keluarga bahkan tetangga pun ikut-ikutan (pinjam duit) dalam jumlah yang tidak sedikit. Misalkan buat Mantu atau mungkin sunatan yang umumnya dirayakan gedhe-gedhean. Di kampung juga lazim, jor-joran antara yang satu dengan yang lain. Kebacut tenan!!

Orang awam di Indonesia sana, mungkin selalu berpikir kalau bekerja di Hong Kong selalu berlimpah uang. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Dengan gaji HK$ 3740 (sekitar Rp 4.547.840, tergantung kurs) itu juga bagi yang digaji full, seorang BMI harus pandai mengatur keuangan. Berapa yang mesti dikirim ke keluarga, berapa untuk kebutuhan diri sendiri di Hong Kong dan berapa pula yang masuk ke rekening tabungan. Bagaimana pun BMI harus punya tabungan untuk keperluan tak terduga atau masa depannya. Jadi kalau orang berpikiran BMI banyak uang, itu bisa salah bisa juga benar. Toh semua itu hanya sawang sinawang saja.

Mendengar dan melihat keluh kesah mereka, sangat terasa bebannya. Ketika mereka dimintai sejumlah uang dengan nominal yang tidak sedikit. Apa keluarga mereka tidak tahu atau tak mau tahu bahwa gaji BMI tak lebih dari HK$ 3740, bahkan masih ada yang digaji HK$ 1800-2000 (gaji underpayment yang menyalahi peraturan HK), tetapi mengapa ada yang meminta lebih dari itu? Bisa dimaklumi jika kebutuhan mendesak, karena ada keluarga yang sakit atau apa. Namun, kalau untuk kebutuhan jor-joran, apa itu bukan suatu beban? Kalau sudah begitu, darimana BMI mendapat uang kalau tidak ngutang sama teman atau perusahaan financial? Nah! Kalau sudah berurusan dengan utang/uang, urusan bisa semakin pelik. Masalah utang piutang, kadang datang dari tuntutan keluarga di IndonesiaSebenarnya berhutang pada perusahaan financial yang ada di Hong Kong, tak ada salahnya buat BMI asal mereka punya tanggung jawab. Namun, perlu digaris bawahi, BMI HK terikat kontrak kerja. Dan sebagai BMI kita tak pernah tahu akan nasib. Jadi, akan lebih baik kalau dihindari sebisa mungkin untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan. 


Terjerat utang pada perusahaan finansial, bukan perkara sepele. Jika tidak punya rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap kewajiban, urusan bisa melebar kemana-mana. Sering terjadi, berimbas kepada si pengutang. Diterminate sebelum berakhir masa kontrak kerja. Kalau sudah begitu, siapa yang kelabakan? Diri sendiri kan? Di Hong Kong, banyak BMI terjerat utang, saling menipu sesama BMI, dan masih banyak lagi. Kejadian ini sudah sering terjadi, tapi entah kenapa masih saja terus terjadi. Belakangan muncul penipuan via sms yang mengabarkan menang undian sekian puluh juta, bahkan kian marak terjadi. 


Rupanya BMI-HK adalah sasaran empuk bagi oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Semakin banyak juga tawaran investasi yang menggiurkan. Dan sayangnya banyak juga yang terlena oleh tawaran semacam itu. Sebaiknya pahami dan pelajari dulu apa yang ditawarkan. Berpikir seribu kali belum mengambil keputusan yang mungkin bisa merugikan dan menyesal dikemudian hari. Tetapi, jangan takut mencoba hanya berhati-hatilah.

07 July 2012

Cerpen berdasarkan kisah nyata seorang BMI-HK berjudul "Sebuah Pilihan"


Sudah lama aku menunggu taksi, tapi tak satu pun taksi lewat. Sial!! Padahal, aku harus segera tiba di rumah majikan baru. Siang tadi Mr Lam melalui telepon berjanji menjemputku di pintu gerbang pukul 8 malam. Ini hari Minggu. Seharusnya banyak yang menggunakan taksi karena lebih nyaman ketimbang berdesakan dalam transportasi umum lain. Tapi, kemana perginya taksi-taksi itu? 

Aku berdiri di pinggir jalan seorang diri dengan travel bag besar di sebelahku, tak kunjung ada taksi lewat. Ketika aku sedang berpikir untuk menggunakan transportasi lain, tiba-tiba ada sebuah taksi. Berharap tak ada penumpang, aku pun menyetopnya. Setengah jam kemudian aku sampai di alamat Mr Lam. 
Aku masih asing dengan tempat ini. Memutarkan pandanganku pada sekeliling dan mencoba menerka-nerka. Aku tersadar dari lamunan dan baru teringat Mr Lam yang mungkin telah lama menunggu. Segera ku hubungi nomer HP yang dia berikan sesaat setelah tanda tangan kontrak di agen 2 pekan lalu.
"Hallo," suara Mr Lam.
"Hallo, Tuan. Ini Mina," jawabku.
"Oh, hai...apakah kamu sudah sampai?" tanyanya.
"Ya, aku sudah berada di bawah apartemen. Bisakah Tuan turun menjemputku karena penjaga gerbang tidak mengizinkan aku masuk?" pintaku kepada Mr Lam.
"Ok, tunggu beberapa menit."
"Baik Tuan." 

Di Hong Kong tidak semua orang bisa mengakses ke dalam sebuah apartemen. Penjagaannya sangat ketat dan di mana-mana kamera CCTV on 24 jam. Jadi, terpaksa aku minta Mr Lam menjemput di bawah apartemennya. Tak lama, Mr Lam datang. Sambil tersenyum, aku minta maaf karena terlambat. Sekilas aku menangkap kesan Mr Lam orang yang ramah. Semoga majikanku kali ini baik hati, doaku. Ini adalah kontrak ketiga ku di Hong Kong. Kali ini aku bekerja di Central District tepatnya di Mid-Levels.

Kami masuk lift yang membawa kami naik ke lantai 25. Keluar dari lift aku mengikuti langkah Mr Lam, menuju pintu bernomor 25 B. "Selamat datang di rumahku Mina." Aku tersenyum saja mengiyakan ucapan lelaki berumur setengah abad ini. Tuanku ini tinggi besar, penuh wibawa, berwajah ramah dan murah senyum. Mr Lam  menunjukkan kamarku dan menjelaskan ala kadarnya lalu meninggalkanku. Tapi sebelum mencapai pintu, dia berbalik dan berkata,"Mina, beritahu aku kalau kamu butuh sesuatu!" 
"Baik, Tuan," jawabku.

Kupandangi kamar ini. Di pojok kamar ada sebuah almari dan di sebelahnya ada meja kecil dengan kursi. Ada pula kamar mandi di dalam. "Ehmm, lumayan," pikirku.
Segera ku bereskan baju-bajuku. Saat memindahkan baju, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Mrs. Lam. Kemanakah dia gerangan? Kenapa dari tadi tak menampakkan diri? Atau dia sedang keluar?
Entahlah, aku merasa aneh. Seribu pertanyaan berkecamuk. Tapi ah, biarlah. Yang penting aku sudah di rumah majikan baru. Kenalan dengan nyonya kan bisa besok pagi. Batinku menepis segala pertanyaan yang ada di kepalaku. Lalu aku bergegas mandi dan setelah itu aku istirahat buat persiapan stamina karena besok adalah hari pertama kerja.

*****
 Pukul 5.30 pagi aku terbangun, bergegas ke kamar mandi. Sambil menunggu majikan bangun, kubuat secangkir kopi. Tak lama Mr Lam bangun, membuka pintu dan berjalan terseok menuju dapur. Dia menyapaku dengan mata masih setengah terpejam.
"Selamat pagi, Mina. Tolong bikinkan aku kopi juga ya."
"Selamat pagi. Baik, Tuan."
Tapi aku tak tahu di mana kopi disimpan. Aku belum tahu benar seluk beluk rumah ini. Ku beranikan diri bertanya pada Mr. Lam. Sebelum berlalu, dia menjawab," Semua kopi dan teh serta minuman instant lainnya ada dalam laci di sebelah kulkas itu." 
Masih setengah bingung aku berusaha mencari yang dimaksud. Akhirnya ku temukan juga. Segera kubuat kopi. 


Tak berapa lama Mr Lam keluar dari kamarnya. Rapi dan siap berangkat ke kantor. Segera ku sajikan kopi pesanannya. Mr Lam tersenyum dan menyuruhku duduk. Aku merasa sungkan bila harus duduk dengannya. Dan tuanku itu menangkap gelagatku.
"Tak apa-apa Mina, duduk saja. Aku ingin berbicara padamu."
"Baik, Tuan."
" Kamu tahu? Aku punya dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki sekolah di Kanada. Dan yang perempuan, masih menginap di rumah neneknya bersama istriku. Nanti malam mereka pulang. Jadi, setelah aku ke kantor, sebaiknya kamu bersihkan rumah. Okey?"

Mr Lam menjelaskan panjang lebar sambil berdiri dari duduknya. Kemudian membawaku keliling ruangan, menjelaskan seluk beluk tentang rumahnya. Rumah dengan luas 1900 square feet ini lumayan gedhe untuk 3 orang dan cukup luas untuk ukuran apartemen di Hong Kong. Ada tiga kamar, satu master room lumayan luas lengkap dengan toilet. Kamar sebelahnya, kamar anak perempuannya yang berumur 13 tahun. Begitu pintu di buka aku tersenyum melihat sekeliling kamar itu. Semua bernuansa pink dengan soft toys di sana sini. Lumayan rapi untuk ukuran anak Hong Kong. Kelihatan dia mandiri. Lalu beralih ke kamar anak laki-lakinya tapi berhubung dia tidak ada, kamar ini beralih fungsi menjadi ruang kerja tuanku. Di rak terjejer rapi buku-buku tebal berbahasa China.
Mr Lam melirik rolex di pergelangannya. Aku pun melirik jam dinding, jam 08.30, tuanku segera pamit. "Mina, i have to go now. See you later. Bye...bye..."
"Yes Sir, See you laterBye..bye..."

Tuan pergi, aku pun segera mengerjakan tugasku membersihkan rumah sebagaimana biasa yang kulakukan di rumah majikan sebelumnya. Di ruang tamu, semua perabotan serba lux terbuat dari kristal. Ku bersihkan semua, sambil sesekali memperhatikan foto-foto yang dipajang. Ku perhatikan foto keluarga ini, ehmm...mungkin ini nyonyaku, gumamku dalam hati, ketika aku melihat seorang wanita gendut berfoto bersama tuan dan anak-anaknya. Ku amati wajahnya, wajah antagonis. Matanya melotot besar karena kaca minus terlalu tebal. Tak ada senyum di sana. Ah, segera ku tepis bayangan tentang nyonya. Semoga saja tidak seperti itu. Aku bersenandung kecil untuk menghalau resah.

Aku berusaha melakukan yang terbaik walau hanya bekerja sebagai pembantu. Aku hanya butuh waktu 3 jam untuk membereskan rumah ini. Setelah selesai, aku bingung mau mengerjakan apalagi. Aku ambil buku-buku yang kubawa dan mulai membaca untuk membunuh waktu. Ketika aku tenggelam dengan bacaan, telepon rumah berdering.
"Hallo..." kataku
"Hallo, Mina. Ini aku Mr. Lam, aku hanya ingin memberitahumu, malam ini kami tidak makan di rumah. Kamu masak buat kamu sendiri ya. Bye-bye..."

Malam yang ku tunggu tiba, tepat jam 8 malam Mr Lam beserta istri dan anaknya pulang. Aku menyapa mereka dengan ramah,"Hallo..."
Tuan tersenyum, nyonya datar saja, Sedangkan anaknya tertawa riang. Anak ini kelihatan senang sekali, seolah dia punya teman baru yang bisa diajak bermain. Aku pun senang dengan sikap dia yang mau menerimaku di rumah ini. Nyonyaku entah mengapa hanya melirikku sekilas tanpa senyum lalu beranjak ke kamar dan tak keluar lagi. Mungkin dia capek, aku menghibur hati.
*****
Waktu terus mengalir tanpa sadar, aku sudah 7 bulan bekerja dengan keluarga Lam. Awalnya semua baik-baik saja. Tapi sebulan belakangan ini hubunganku dengan nyonya retak. Suatu malam sepulang kerja, nyonya menemukan sekelopak bunga anggrek kesayangannya jatuh. Dia marah sekali.
"Lihat ...." ujarnya, sambil menunjuk pada kelopak anggrek yang jatuh.
"Kenapa kelopak bunga ini terjatuh?" tanyanya.
"Maaf, aku tidak tahu nyonya, mungkin sudah layu dan kering." jawabku
"Bagaimana kamu tidak tahu? Kamu di rumah seharian, apa saja yang kamu lakukan?" 
"Ya, aku memang seharian di rumah tapi apakah aku harus  memelototi bunga itu? Bunga layu lalu gugur, itu hal yang biasa kan nyonya?"
Nyonya kelihatan tidak suka dengan argumenku. Dengan tatapan menghujam dan emosi tertahan dia berlalu. Ada apa dengan nyonya hari ini? Mungkin ada masalah yang dia bawa dari kantor, pikirku. Nyonya seorang marriage consultant di gereja. Yang aku dengar, orang yang bekerja sebagai penasehat perkawinan, emosinya cenderung labil. Dia mudah stress dan depresi, karena terlalu banyak kasus yang dihadapi dan perlu pemecahan.

Sejak saat itu hubunganku dengan nyonya kian memburuk. Apapun yang aku lakukan selalu salah di matanya. Komunikasiku putus sama sekali dengan nyonya. Kami berkomunikasi lewat tulisan layaknya orang bisu. Bila nyonya ingin aku mengerjakan sesuatu, dia akan menempelkan sebuah kertas pesan di tempat yang dia inginkan, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Suatu hari aku pernah mencoba membangun kembali komunikasi dengan nyonya tapi fatal akibatnya. Dia ngamuk tak karuan sebabnya. Semua yang ada di hadapannya melayang. Aku takut, saat itu tuan tidak ada di rumah. Dia sering bepergian keluar negeri untuk urusan bisnis. Tuan tidak pernah tahu perlakuan nyonya terhadapku. Setiap kali pulang dari luar negeri, tuan akan mendekatiku dan bertanya,"Are you ok?"

Sebenarnya aku sudah lama penasaran, kenapa tuan selalu bertanya demikian. Hingga suatu hari tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang bikin kaget. Inikah jawaban dari ganjalan hatiku? Aku menemukan beberapa kontrak kerja di saat aku membersihkan laci penyimpanan arsip keluarga ini. Aku benar-benar kaget. Ternyata keluarga ini telah 14 kali ganti pembantu dalam 8 tahun. Bagaimana bisa dalam 8 tahun ganti pembantu sampai 14 kali, padahal per kontrak adalah 2 tahun? Kaget, bingung, sedih, takut berbaur menjadi satu. 

Berdebar aku menunggu Mr Lam pulang. Aku harus mengungkap apa yang tersembunyi dalam keluarga ini, tentang kontrak-kontrak itu. Tuan pulang, aku sambut dia seperti biasa. Setelah makan malam, aku mendekati tuan," Maaf Tuan, apakah tuan ada waktu? Aku ingin bicara sesuatu."
"Oh, ya pasti. Apa kamu ada masalah?" 
"Boleh aku tahu, kenapa di keluarga ini seringkali ganti pembantu sebelum habis masa kontrak?" Mr Lam terperanjat kaget. Dia diam sejenak, lalu menatap hampa ke sekeliling ruangan. Namun, akhirnya Mr Lam bercerita bahwa istrinya sering stress berlebihan. Hubungan tuan dan nyonya pun ternyata tak semulus yang tampak di depan mataku selama ini. Mereka juga sudah lama tak berkomunikasi. Tentu saja aku tak menyangka akan hal ini. Sebab di depan saudara-saudaranya, mereka tampak mesra. Tapi semua keluarga dari pihak tuan sudah tahu semua masalah di rumah ini.
"Itulah mengapa mereka tidak betah kerja di sini, tak seorang pun yang bisa mengerti sikap istriku. Bahkan, pada ibuku pun, sikapnya sama seperti pada kalian," lanjut tuan.
"Bagaimana denganmu, Mina? Apakah kamu mau menyelesaikan kontrakmu dengan kami?" tanya tuan kemudian. 
Aku hanya menggelengkan kepala dan mengangkat bahu. Aku sendiri bingung harus menjawab apa. Bagaimana aku bisa menyelesaikan kontrak, sedang aku sangat tersiksa dengan sikap nyonya. Dia selalu mengintimidasi aku, selalu membuatku tak berdaya. 


Akhirnya aku menceritakan semua kejadian selama tuan tak berada di rumah. Tentang perlakuan nyonya yang tidak memanusiakan aku. Tentang bagaimana dia berkomunikasi denganku. Tuan tidak kaget sedikit pun karena dia sudah hafal betul istrinya. Memarahi pembantu tanpa ampun. Aku juga bercerita semua perlawananku pada nyonya. Tuan tak mampu lagi berkata.


 *****
Minggu pagi yang cerah, aku pergi berlibur bersama teman-teman dari kampung halaman. Kami pergi ke Causeway Bay atau juga yang di sebut "Kampung Jawa". Di sana biasa kami melepas penat setelah sepekan bekerja. Seharian aku bersama, makan, tertawa, bercerita tentang keluarga di Indonesia. Tak jarang kami menangis bersama pula. Terasa sekali rasa kekeluargaan di sini. Walau jauh dari keluarga tapi kami berusaha saling berbagi kebahagiaan.

Senja pun datang. Itu artinya kami harus berpisah dan kembali ke rumah masing-masing majikan. Jam 19.00 aku stand by menunggu bis yang menuju jalur rumahku. Setengah jam telah berlalu tapi bis yang ku tunggu selalu penuh. Jengkel aku dibuatnya. Setiap hari minggu bisa dipastikan semua transportasi penuh sesak. Aku mendapat bis setelah satu jam menunggu. Segera aku meloncat masuk berharap bis melaju dengan cepat.
Aku tiba di halte bis di bawah apartemen, 20 menit kemudian. Bergegas aku menuju apartemen. Jam tanganku menunjuk angka 08.05. Aku telat 5 menit. Pelan kubuka pintu. Nyonya ternyata duduk di sofa. Kusapa dia, tapi diam seribu bahasa. Aku pun cuek dan ngeloyor ke kamar. Tapi teriakan "Stop!" menghentikan langkahku. Berputar, kemudian bertanya,"Ya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Kemana saja kamu?" dia balik bertanya, tumben berbicara padaku.
"Nyonya lupa hari ini hari minggu? Tentu aku keluar bersama teman-temanku. Ada masalah Nyonya?" jawabku santai.
"Kenapa kamu terlambat?"
"Terlambat? Oh, maaf. Ya, aku terlambat tapi cuma 5 menit. Apa itu masalah besar bagimu? Bagaimana di hari kerjaku, Nyonya? Kadang aku bekerja sampai jam 2 dini hari, tapi apa pernah aku komplain?"
Aku berargumentasi panjang lebar, nyonya semakin ngamuk, tapi aku tak peduli. Aku tak akan diam kali ini, aku sudah tak tahan. Mr Lam hanya diam, dia tak akan berani membela siapapun. Dia terlalu lemah di hadapan istrinya.

Tiba-tiba nyonya melemparkan sesuatu ke arahku. Refleks aku berkelit. Emosiku pun memuncak. Dengan suara lantang aku berkata,"Dengar Nyonya, aku tak akan tinggal diam kali ini, ini sudah keterlaluan. Kalau Nyonya tidak suka aku bekerja di sini, kenapa tidak berterus terang? Jujur, aku pun sudah tidak tahan dengan semua perlakuanmu. Nyonya pikir aku ini binatang? Kalau Nyonya ingin dihormati, hormatilah orang lain. Atau setidaknya hormati diri sendiri. Aku ini juga manusia Nyonya, sama sepertimu. Aku punya emosi, punya perasaan. Kalau disakiti, aku pun bisa marah. Aku tahu kenapa Nyonya lakukan ini, karena Nyonya pikir aku hanyalah pembantu bodoh. Asal Nyonya tahu, Aku bisa saja melaporkan Nyonya ke Imigrasi Hong Kong untuk mem-black list keluarga ini agar tak bisa mengambil pembantu dari Indonesia, tapi itu tak aku lakukan karena aku masih punya rasa kemanusian. Dan asal nyonya tahu, aku diam selama ini bukan berarti aku bodoh tapi aku hanya menunggu waktu yang tepat dan saat inilah waktunya. Maaf Nyonya, sudah lama aku berpikir untuk memutuskan kontrak kerja ini."

Mr Lam kaget mendengar keputusanku, tapi apa boleh buat aku sudah tak tahan dengan perlakuan istrinya yang keterlaluan. Ibarat aku telah lama menyimpan bisul dan hari ini bisul itu pecah. Terlalu lama batinku tertekan. Mengakhiri masa kontrak sebelum waktunya, ini sudah menjadi keputusabku. Aku  juga tidak melaporkan  kejadian ini pada agen atau pun KJRI HK, toh mereka juga tidak akan berpihak pada buruh migran.


*****
Senin pagi aku sengaja menunggu tuan di ruang tamu untuk menyerahkan surat peringatan satu bulan sebelum pemutusan kontrak kerja. Dengan sedih tuan menerima keputusanku. Hari-hari kulalui dengan berat dan penuh siksaan dari sang Nyonya dan aku hanya bisa menangis. Tapi biarlah dia berbuat semaunya, tinggal sebulan lagi aku bekerja di rumah ini. Terasa waktu berputar pelan sekali. 

Akhirnya hari yang ku nanti tiba, hari kebebasanku. Waktunya aku keluar dari neraka ini.
Segera aku bersiap diri. Detik berlalu berganti menit dan dimenit-menit terakhir inilah aku merasa sedih. Aku teringat segala kebaikan tuan. 

Jam 07.00 tuan bangun kemudian memanggilku untuk menyelesaikan semua tuntutan yang harus dipenuhi. Uang satu bulan gaji, tiket, dan uang transport ke bandara. Setelah beres, tuan berbicara dengan sedih.
"Mina, aku minta maaf atas segala perbuatan istriku."
"Sudahlah Tuan, lupakan saja. Kita saling memaafkan. Tak ada manusia yang sempurna bukan? Maaf Tuan, aku harus pergi."
"Hati-hati Mina."
"Baik, Tuan."
Aku melangkah keluar dari rumah ini. Ku seret travel bag. Baru tiga langkah aku berjalan, tuanmemanggilku. Dengan suara bergetar dia berucap,"Sekali lagi aku minta maaf Mina, Aku berharap ke depannya kamu mendapatkan yang lebih baik."
"Terima kasih Tuan, aku juga minta maaf bila ada salah yang aku sengaja ataupun tidak aku sengaja. Aku pergi, Tuan, bye..bye..." kataku sambil masuk ke dalam lift.
Masih sempat ku dengar Mr Lam membalas ucapan perpisahanku.

Tiba di basement, aku segera mencari bis yang menuju ke bandara. Tak lama kemudian aku sudah berada dalam bis. Ku hempaskan tubuh ini ke kursi. Ku pejamkan mata ini mencoba untuk tidur walau sejenak. Satu jam kemudian bis telah tiba di bandara Chek Lap Kok. Segera aku chek-in. Sebelum aku masuk, sekali lagi kutoleh ke belakang. Yah, aku benar-benar meninggalkan Hong Kong.
"Selamat tinggal Hong Kong. Aku pulangggg...."







04 July 2012

# 2 # Siapa Bilang Jadi TKW Itu Enak? (Diskriminasi)

Setelah lelah beraktivitas pada hari minggu [1/7] kemarin, aku dan teman-teman Teater Angin (TA) bermaksud mencari makan di sebuah restaurant Vietnam. Sambil jalan menuju restaurant, aku memotret sisa-sisa para demonstran warga lokal Hong Kong, ditemani Teh Imas. Sedangkan Lia dan Teh Noena berjalan di depan. Begitu masuk restaurant, sambutan pelayannya sangat tidak ramah. Mereka tahu karena kami hanya pembantu/Buruh Migran Indonesia (BMI). Kami tak begitu menghiraukannya dan segera mencari tempat. Di pojokan ada meja berkursi empat, pas! Di meja sudut itulah kami duduk. 


Setelah membolak-balik buku menu, kami pun memesan sesuai selera masing-masing. Agak lama juga menunggu pesanan datang. Kami melanjutkan diskusi yang terpenggal. Ketika tengah asyik berdiskusi, HP Lia berdering. Meme (begitu kami biasa memanggil Mega Vristian sebagai mbok-e TA) menanyakan di mana posisi anak-anak TA. Kami senang, tambah lagi satu orang pasti makin seru diskusinya. Begitu tiba di restaurant, Meme ga dapat tempat duduk, karena kursi pas untuk 4 orang. Aku mengalah, mencari tempat lain yang berdekatan. Kebetulan di belakangku ada seorang bule duduk sendirian dan ada kursi kosong di depannya. 


Meme menyuruhku duduk dengan bule itu, "Wis ndang Giz, kancanana bule-ne." Aku menoleh padanya, tersenyum dan sesuai kebiasaan sopan santun orang Hong Kong basa-basi bertanya,"Hi, are you alone? or waiting for someone?"
Dan dengan ramah Si Bule menyilakan aku duduk, dia bilang kursi itu kosong. Tak lupa berterima kasih, lalu aku duduk dengannya. Walau mejaku berdekatan dengan Meme, Teh Imas, Teh Noena dan Lia, aku tetap saja harus menolehkan kepala saat diajak ngobrol. Keasyikan ngobrol, aku lupa makananku. Tiba-tiba pelayan datang dan mengambil mangkok mie-ku yang belum habis ku makan. Aku tertegun tak bisa berkata apa-apa karena merasa aneh. Sesaat setelah aku sadar, sumpit yang aku pegang aku letakkan di meja dan aku berdiri. 
Aku bertanya pada pelayan, "Tim kai lei pun ngo ke wun mien keh? ngo mei sik yun wo." Teman-teman TA dengan sendirinya beraksi, membelaku.
Teh Imas dengan lantang, kembali bertanya,"Goi mei sik yun, tim kai lei pun goi ko wun mien keh? tim kai?". Hanya ada dua pelayan di restaurant itu, satu bertubuh gendut agak muda dan satunya bertubuh kurus, setengah tua. Pelayan tua itulah yang memindahkan mangkokku ke meja lain. Di meja kasir, terlihat dua pelayan itu berargumen, tapi entah apa yang mereka debatkan. 


Sambil menuding-nuding, pelayan tua itu berkata,"Lei em ho yi , jho hai ko to!"
Serentak kami bertanya,"Tim kai?"
"Karena kamu tidak boleh duduk bersama bule itu. Kamu mengganggunya dan kami tidak suka!"
"Mengganggu? dia tidak merasa terganggu, sebelum aku duduk, aku sudah permisi. Dan dengan senang hati dia mempersilakanku!"
Sepertinya Bule itu paham apa yang terjadi, dia ingin memberikan pembelaan, namun kami mengisyaratkan untuk diam saja. Teh Imas hilang kesabaran, lantang dia berkata,"POK KAI! Aku tahu kenapa kalian memperlakukan kami seperti ini, karena kami hanya buruh migran? Kalian pikir kami bodoh dan akan diam saja? tidak akan pernah kami makan di restaurant ini kembali, ini yang terakhir!"
Rasa laparku pun menguap seketika, ku tinggalkan duit di meja, Lia mengambilnya kemudian menuju kasir untuk membayar. Sebelum kami keluar, kami melihat bill-nya. HK$ 261. Lia memegang uang HK$ 270, maka seharusnya kami masih menerima kembalian HK$ 9. Namun, kami diabaikan begitu saja. Terjadi kericuhan lagi, kebetulan restaurant agak ramai. Banyak orang memperhatikan, tapi kami tidak peduli. Tetap berargumen, tapi lama-lama merasa jengah, kami pun keluar tanpa menunggu uang kembalian. Yang penting kami puas melampiaskan kekecewaan kami. Diskriminasi tidak boleh dibiarkan. Hanya ada satu kata LAWAN!!!




Note :
1. Tim kai lei pun ngo ke wun mien keh? ngo mei sik yun ke wo. = Kenapa kamu memindahkankan mangkok mie ku? aku belum selesai makan
2. Lei em ho yi , jho hai ko to! = Kamu tidak boleh duduk di situ!

01 July 2012

# 1 # Siapa Bilang Jadi TKW Itu Enak? (Tidur Dengan Anjing)

Banyak orang beranggapan, bahwa menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) itu enak. Khususnya bekerja di Hong Kong. Mereka selalu melihat secara kasat mata apa yang tampak saja. Tetapi tak banyak yang tahu atau tidak mau tahu, bagaimana proses untuk menjadi TKW itu sendiri. Kalau dibilang enak ya enak, dibilang susah ya susah. Jadi menurut pengalaman pribadiku selama menjadi TKW di beberapa negara, memang ada susah dan senangnya. 


Belakangan ini di Hong Kong, ramai membicarakan sebuah kasus yang menimpa Buruh Migran Indonesia (BMI), yang bekerja pada sebuah keluarga kaya (menurut info : keluarga seorang artis). Rumah/apartement dengan seluas 1800 square feet, tentu bukan sebuah rumah/apartement yang sempit jika dibandingkan dengan apartement majikanku saat ini, yang hanya seluas 650 square feet. Tetapi, BMI tersebut tidak mendapat fasilitas yang layak. Dia tidur di atas ranjang sempit yang ada di atas toilet. Bahkan, ada juga BMI yang tidur di lantai toilet. Aku tidak bisa membayangkan ketika musim dingin tiba. Betapa tersiksanya menghalau rasa dingin yang menusuk tulang.
Tempat tidur seorang BMI-HK di lantai toilet di sebuah rumah mewah.

Aku tidak sedang bercerita tentang kisah kedua kawan BMI kawan kita ini, karena aku belum mendapat info yang lebih jelas tentang kasus tersebut. Di sini aku ingin berbagi cerita tentang pengalaman pribadi. Dulu, di kontrak pertama aku pernah tidur sekamar dengan anjing. Ketika menandatangani kontrak, tidak disebutkan ada hewan peliharaan di rumah majikan. Sampai aku terbang ke Hong Kong dan dijemput majikan, aku baru tahu. Itu pun saat ada dalam mobil, majikan menanyai aku," Yani, kamu takut anjing?" Serta merta aku jawab,"iya!"


Sampai di rumah, kami baru saja keluar dari lift dan belum membuka pintu tetapi sudah disambut gonggongan anjing yang membuatku semakin ciut nyali. Begitu masuk, Nyonya memanggil hewan kesayangannya dan "memperkenalkan" padaku. Nyonya mengendong kemudian menciumi anjing yang bukan berjenis anjing rumahan/pudel itu. Tentu aku merasa jijik melihat pemandangan yang tak biasa tersebut. Dua anjing itu bernama Ken dan Miu. Sepasang anjing jantan dan betina.


Dengan bahasa kantonis pas-pasan yang kupelajari di penampungan waktu itu, aku beranikan diri bertanya pada nyonya. Kenapa dalam kontrak tidak mencantumkan ada hewan peliharaan. Tentu aku bisa membatalkan kontrak, jika itu tak sesuai denganku. Tetapi setelah aku sampai di negara tujuan, aku tak bisa seenaknya membatalkan kontrak. Karena membatalkan kontrak sama saja "bunuh diri" karena terjerat utang pada perusahaan finansial yang bekerja sama dengan agen. Dan tentu aku akan dikejar-kejar rentenir, bagaikan seorang buronan, kalau aku tidak menyelesaikan cicilan utang, selama 7 bulan potongan gaji sebesar HK$ 3000 tersebut. Nyonya tak berkata apa-apa, tetapi dia berjanji akan merawat anjingnya sendiri karena dengan tegas aku menolak merawatnya. Tugas utamaku yang tertera di kontrak adalah merawat balita usia 2 tahun. Jadi aku tidak mau terbebani oleh 2 ekor anjing itu, selain karena merasa takut/jijik. Penolakanku bisa dibilang berani mengingat aku baru saja tiba di rumah majikan. Karena hal itu jarang dilakukan BMI baru sepertiku. Satu point kemenangan.


Kemenangan yang kugenggam, bukan berarti aku bisa berbuat sakpenak udhelku dhewe. Dalam Villa majikanku, ada kamar khusus pembantu lengkap dengan kamar mandi (jauhkan dari bayangan sebuah kamar yang nyaman). Di kamar itu, bukan hanya aku yang menempati, tetapi dua ekor anjing itu pun ada di dalamnya. Aku tidur di atas (bukan ranjang susun) dan kedua anjing itu ada di bawahku. Semula aku takut, tapi lama-lama kau terbiasa juga. Sangat tidak nyaman, "tidur" dengan mereka. Baunya membuatku ingin muntah, belum lagi kalau mereka usil. Kadang dini hari, aku terbangun karena ulah mereka. Dua ekor anjing itu kadang memakan kotorannya sendiri kemudian memuntahkannya kembali. Bisa dibayangkan seperti apa. Dengan mata terpejam, tubuh capek pun aku harus membersihkan kamarku demi kenyamanan "bersama". Jujur saja, aku selalu mengumpat kesal.


Majikanku memperlakukan 2 ekor anjing melebihi perlakuannya padaku. Aku sempat berpikir,"kok bisa ya, anjing lebih istimewa daripada seorang pembantu." Aku akui, walau bagaimana pun, majikanku memperlakukanku baik meskipun tak seistimewa anjingnya. Nasibku masih beruntung bila dibanding dengan kawan-kawan yang lain, hingga aku bisa menyelesaikan kontrak selama 2 tahun. Kondisi kerja di Hong Kong tak selalu enak seperti apa yang dibayangkan orang selama ini. Melihat senyum BMI HK di Victoria Park saat hari minggu, sepertinya senyuman itu hanya senyum semu belaka. Seakan hanya "nylimur" untuk melupakan beban sejenak. Maka, tak heran jika ada yang bilang jadi BMI itu enak. Padahal masih banyak BMI-HK yang tertindas, digaji underpay, diperlakukan tidak manusiawi dan sebagainya.


Aku hanya ingin mematahkan pandangan orang, bahwa bekerja atau menjadi TKW itu enak. Untuk menjadi TKW, butuh perjuangan keras.  Soal enak atau tidak semua tergantung nasib dan hanya sawang sinawang saja. Di manapun bekerja, pasti ada enak dan tidaknya. Jadi, siapa bilang jadi TKW itu enak? Siapaaaaaaaaaaaaaaa??

20 June 2012

Rindu #Simbok#

ingin aku memelukmu
saat kau telah pergi jauh
hingga tanganku tak mampu merengkuh


kini hanya airmata yang tertinggal
di pusaramu ingin aku bersimpuh
sebagai penebus dosa saat aku tak bisa mengantarkanmu pergi jauh.

01 June 2012

Kalimat Itu Begitu Perih Menusuk Hati BMI

Kemarin (31/5) dunia Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong, dikejutkan oleh sebuah tulisan seorang penulis terkenal. Seorang Pipiet Senja rupanya telah salah menggoreskan penanya hingga menuai hujatan yang sedemikian rupa. Saya pribadi tidak begitu mengenal dengan beliau ini walau pun saya pernah bertemu untuk mengikuti acara workshop-nya di Hong Kong tahun lalu. Secara saya tidak tertarik dengan metode dan penyampaiannya, maka saat itu saya bersama beberapa kawan "walk out" dari acara tersebut. Saya heran dengan beliau ini, dulu pernah bilang dia peduli dan prihatin terhadap nasib buruh migran. Lalu, apakah ini salah satu bentuk kepeduliannya terhadap BMI HK?


Penulis sekaliber PS, masa iya harus menulis sesuatu yang belum benar dipahaminya? Hanya bermodal "katanya" dari seseorang yang nggak jelas, beliau bisa memainkan jari lentiknya untuk sebuah tulisan yang tak valid sama sekali. Wajar kalau BMI HK merasa kecewa bahkan "sakit hati" membaca tulisannya. Tulisan tersebut (mungkin) telah meracuni pembaca di tanah air yang seperti kita ketahui begitu hina memandang BMI HK. Selama ini begitu santer berita-berita miring tentang BMI HK. Saya yakin, pembaca tulisan PS di tanah air, bergidik membayangkan apa yang terjadi dalam tulisan itu. Atau mungkin malah tidak bisa membayangkan keadaan HK sama sekali. Karena memang jauh dari bayangan.


Saya tidak menampik adanya komunitas tersebut di Hong Kong. Namun siapa PS bagi kalangan BMI, mengapa sedemikian berani menelanjangi/menghakimi satu komunitas di HK? Seberapa jauh beliau ini mengenal lingkungan/komunitas itu di HK? Saya yang bertahun-tahun tinggal di HK saja, masih belum paham dengan dunia mereka (atau saya saja yang bodoh). Berulang kali saya mencoba masuk di lingkungan mereka, tapi sekali lagi saya katakan itu TIDAK MUDAH!! Pertanyaan saya, berapa lama PS tinggal di HK? kok begitu mudahnya beliau memainkan penanya tanpa didukung keakuratannya? Dengan gaya bahasa yang mungkin menurut beliau biar terlihat gaul atau apa lah. Tapi walau hanya sebagai BMI/TKI/TKW/BABU (yang selalu dianggap bodoh), kami bisa merasakan pelecehan dari setiap kalimatnya. Itu juga yang menjadi salah satu faktor penolakan terhadap tulisannya. Kami BMI HK hanya menolak tulisannya, bukan orangnya.


Kemarin, banyak BMI HK memposting status di Facebook yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap PS dan saya salah satunya. Saya bukan bagian dari komunitas yang ditulis PS tetapi rasa ke-BMI-an saya telah disentil sedemikian dalam. Tentu saya berontak dan saya juga melihat reaksi yang sama oleh beberapa kawan BMI lain. Maka, saya dan kawan-kawan berinisiatif membuat sebuah group di Facebook. Group tersebut kami beri nama : BMI HK Menolak Tulisan Pipiet Senja. Sesaat setelah group itu terbentuk, saya kebanjiran inbox, sms dan telpon yang menyatakan ingin bergabung dalam group tersebut. Awalnya saya bikin group tersebut khusus untuk BMI HK tetapi karena open group, maka spontan membuat kawan-kawan non BMI HK dan non BMI pun penasaran ingin bergabung.  Saya kewalahan tapi dengan senang hati saya menyambut kepedulian mereka untuk bergabung. Mereka dengan sendirinya tergerak untuk gabung berdiskusi di dalamnya. Bermacam-macam pula reaksinya.


Ini bukan untuk pertama kalinya PS membuat tulisan yang menjatuhkan harga diri BMI, Hong Kong khususnya. Sebelum tulisan yang menuai hujatan kemarin, telah beberapa kali PS memposting tulisan serupa di Kompasiana. Waktu itu ada teman yang mengajak saya membuat pergerakan, namun saya masih diam. Dan mungkin waktu itu juga belum banyak yang tahu. Tapi untuk tulisan kali ini, bagi saya sungguh tidak bisa ditolerir lagi. Maka dengan sengaja saya dan kawan yang lain memposting tulisan tersebut di Facebook. Saya pikir, inilah saat yang tepat untuk bergerak dan kawan-kawan harus tahu. Dan seperti yang saya duga, reaksi muncul dengan begitu cepatnya. Mereka yang tidak tahu menjadi tahu. Dengan amarah yang meletup-letup mereka mengecam keras tulisan PS tersebut.


Saya membikin group tersebut, tentu bukan untuk menyerang balik PS atau pun menjatuhkannya di depan publik. Tetapi, saya dan kawan-kawan ingin berdiskusi dan ingin masyarakat tahu, betapa sakitnya tertusuk kalimat-kalimat yang diukir PS. Perihnya jangan ditanya lagi. Tersayat pisau, terkena setrika panas, mungkin sudah biasa kami rasakan. Tapi untuk kali ini, kalimat itu begitu tajam menghujam tepat di hati BMI. Apa maksud dan tujuan PS menulis itu semua? Kurang HINA kah kami di mata masyarakat Indonesia? Puaskah PS melukai hati BMI HK yang sedikit banyak telah membantu membeli buku karyanya? Mereka membeli dari uang gaji menjadi pembantu di negeri beton, bukan dari korupsi.


Semalam ketika saya mencoba menulis ini, saya berusaha kuat menekan emosi yang bisa membakar diri saya sendiri. Dan saya gagal, karena emosi begitu kuat menguasai, maka saya pun menghentikan menulis, kemudian saya lanjutkan pagi ini berharap ada kekuatan baru dalam diri saya. 


Kemarin setelah tulisan PS diunggah kemudian menuai kontroversi, PS pun sempat mengganti judul tapi tetap saja tidak mampu meredam amukan BMI HK. Maka PS segera membuat tulisan sanggahan, namun di dalam tulisannya, PS masih  berusaha mengalihkan/berkelit dengan mengatakan ada pihak yang memelintir tulisannya. Saya bertambah emosi membacanya. Sadar nggak sih beliau ini, bahwa BMI lah yang selalu dipelintir-pelintir oleh beberapa pihak yang mencari keuntungan di balik penderitaan BMI. Saya yakin seyakin-yakinnya, tulisan PS yang dikopas murni tulisannya sendiri. TIDAK ADA PIHAK YANG "MEMPERKOSA" kalimat demi kalimatnya. Benar PS telah meminta maaf, tapi di sana masih terbaca dengan jelas rasa ketidak-ikhlasannya. Tulisan PS sengaja didokumentasikan oleh beberapa kawan termasuk saya karena kami yakin tulisan tersebut pasti dihapus nantinya. Dan ternyata benar dugaan kami, link tersebut telah dihapus dari Kompasiana.


Sungguh masalah ini begitu menguras energi kami sebagai BMI HK. Dari beberapa kawan, ada yang bilang pekerjaannya menjadi keteteran gara-gara mengikuti kasus ini di Facebook. Ada yang mengaku telat menyusul momongan mereka, ada yang lupa belanja dari jam biasa dia melakukannya. Saya sendiri, sampai menyenggol setrika panas tanpa sadar. Dan paha saya menjadi korbannya. Dan perihnya tidak sebanding dengan perih di hati saya. Kami BMI HK berharap, untuk ke depannya seorang PS lebih bijak mengolah kata dan mempertimbangkan tulisan sebelum di posting di media. Khususnya tulisan tentang BMI HK. Semoga kedepannya akan lebih mawas diri. Jangan hanya karena sudah punya nama besar terus bisa seenaknya meremehkan BMI HK. "Mbok aja dumeh!!!"




Tulisan terakhir Pipiet Senja yang menuai kontroversi dari BMI HK :

[
CINTA ALA VICTORIA PARK PISANG TERTINGGAL DI VAGINA
Hong Kong, 31 Mei 2012

Berbagai cara dalam meraih dolar dilakukan oleh anak-anak Buruh Migran Indonesia kita yang berdomisili di Hong Kong. Mulai dari yang legal maupun ilegal; dari yang lempang-lurus dan tangguh hingga mereka yang aneh-nyeleneh dan bikin hati teriris miris.
Siang itu, aku nongkrong di sebuah rumah makan milik orang Indonesia di kawasan Causeway Bay. Bukan hari libur, jadi suasananya tidak sehiruk-pikuk hari Minggu. Ketika sedang asyik menikmati nasi campur rending (dagingnya hancur lebur) dengan perkedel dan terong balado, tiba-tiba datanglah dua orang bertubuh tinggi besar.
“Cewek apa cowok, ya Teteh?” bisik teman yang mentraktirku.
“Hmm, sekilas seperti cewek ya,” gumamku, sementara mataku mulai menjelajah.
Sekilas memang tampak seperti dua cewek, seperti bule, kulitnya putih dan tingginya di tataran 170. Tubuhnya sangat berisi, gempal dengan sepasang payudara ukuran super, demikian pula pinggulnya sungguh; bohay aduhay!
Pasangan sejenis itu beberapa saat lamanya asyik memilih menu masakan. Kemudian membawanya ke meja di sebelah kami. Saat itulah mendadak salah satunya mengeluarkan suara bariton, meminta pasangannya untuk mengambilkan sedotan.
“Opppps, bences ternyata,” bisik temanku, menahan tawa yang bila tidak kuperingatkan bisa dipastikan bakal meledak.
Obrolan pasangan itu diumbar dan bisa kudengar dari tempatku makan. Mereka dari Macau. Bisa ditebak jenis profesi apa yang mereka tekuni, pekerja penghibur yang bisa berkelindan antara Hong Kong dengan Macau.

Siapa sangka mereka Buruh Migran Indonesia
“Segala cara dilakukan bangsa kita demi meraih segenggam berlian dan segumpal emas di negeri beton ini,” kata teman yang telah 10 tahun berdomisili di negerinya si
Gayane anak-anak Tebe kita di Victoria Park
Dia bercerita tentang lakon seorang temannya, beberapa tahun yang silam ditemukan sudah “dempet” alias tak bisa dipisahkan, setelah mereka melakukan hubungan seks di pinggir pantai.
“Ada lagi yang lebih ngaco,” lanjutnya semangat.”Saking nafsunya, temanku pake pisang, nah itu pisangnya tertinggal sebagian di anunya!”
“Maksudmu, ketinggalan di vaginanya?”
“Iya, Teteh, terus dilarikan ke UGD!”
Gubraaaak, aaarrrgggh! (Causeway Bay – Hong Kong)]



NB : SAYA TIDAK MENGUBAH/MENGEDIT APA PUN, TULISAN INI MASIH ASLI TULISAN PS.



27 April 2012

Kupu-Kupu Malam Kau Tetap Sahabatku

"Cece...kami mau ke Macau Jum'at malam nanti, kalau kamu mau keluar jalan-jalan, pergi saja. Tak usah pulang, terserah mau kemana. Nikmati malam minggu bersama teman-temanmu, masa kamu di rumah saja, sendirian lagi, pasti hou mun. Kamu juga penakut kan?. Ha ha ha...." begitulah nyonyaku bilang pada kamis sore itu, sepulang kerja. Sebenarnya aku malas keluar, tapi membayangkan kata-kata Nyonya, tinggal di rumah sendiri, ihhhh..seremmmm. Dan ga enak selalu menolak kebaikan nyonya. He he he...


Jum'at sore, aku segera kabur keluar walau tanpa tujuan, mengikuti kemana kereta membawaku. Setelah melewati beberapa stasiun, kepalaku mendongak ke arah pintu MTR yang di atasnya ada denah/jalur yang menghubungkan kota satu ke kota lainnya. Mataku terbentur pada kota Mongkok. Tanpa tujuan yang jelas, akhirnya aku turun di Mongkok. Berjalan menuju Ladies Market yang sangat populer itu. Biasanya banyak turis belanja di sana, tak terkecuali wisatawan dari Indonesia. Karena berbagai barang bermerk dengan harga miring, ada di shopping street itu. Tapi tentu saja harus pandai menawar. Kalau tidak, bisa jadi malah tertipu dan harganya menjadi berlipat-lipat. 

Capek berputar-putar aku memutuskan untuk pulang ke rumah sahabat karibku yang stay out dari majikannya. Dia tinggal di kawasan Central. Dalam hitungan menit, aku telah sampai di Stasiun Central. Tergesa keluar dari MTR, berjalan kaki naik ke Mid-Level yang memang terletak di perbukitan. Sampai di depan gedung apartemen, baru aku menyadari aku tak punya kunci rumah dan pasti dia tidak di rumah. Sial!!
Terpaksa aku harus balik mencari sahabatku yang ada di diskotik Wanchai. Berjalan menuju halte bus dan berharap masih ada bus menuju kesana. Tak berapa lama, sebuah mini bus tampak dari kejauhan. Aku menyetopnya tanpa melihat nomer bus tujuan kemana. Dengan perasaan dongkol, aku duduk terdiam sambil mendengerkan musik dari HP. Dua kali melewati halte bus, pak sopir melirikku dari kaca yang tergantung di depannya. Aku yang sempat memergokinya, jadi merasa was-was. Tak ku sangka dia bertanya," Mau kemana Neng?"


Deg!!! Sumpah, jantungku berpacu lebih cepat. Aku menoleh ke belakang dan ternyata aku lah penumpang satu-satunya. Ya, Allah...semoga ini bukan hantu. Dengan perasaan takut, aku balik bertanya pada sopir bus itu. "Om, na....nya say...ya?"
"Iyah, malam-malam begini mau kemana? ini bis terakhir lho. Kamu mau turun di mana?"
"Aku mau turun di Wanchai Om, lewat sana kan?" Jawabku takut-takut. Kali ini aku bukan takut karena hantu, tapi dalam benakku terlintas berita yang heboh di Indonesia beberapa waktu lalu tentang pemerkosaan dalam angkot. Kalau itu terjadi padaku, tamatlah riwayatku. Modyar tenan!! 
Segera ku tepis bayangan buruk itu, ku lirik si Om. Rupanya dia tahu kekhawatiranku, lalu dia pun berkata," Ga usah wedi, aku iki wong Surabaya. Padha wong Indonesia-ne, ga mungkin aku macem-macem Neng. Iki negara-ne wong. Kon, kate lha opo nduk Wanchai? kate nduk diskotik tah?". Aku menjawab hanya dengan senyuman.



Lega! Dengan keyakinan bahwa aku akan aman-aman saja, aku berusaha rileks dan ngobrol sama si Om sopir. Tak berapa lama, aku telah sampai di Wanchai. Berusaha menelpon temanku tapi tak diangkat. Huhhh! Sebel...

Daripada bete, aku nongkrong di salah satu restoran China yang berderet di jalanan Wanchai. Sambil menunggu makanan, aku asyik ngutak ngatik HP, sampai tak menyadari ada orang yang duduk di depanku. "Lapar juga tho Neng?" sapanya.
Mendongakkan kepala, menatapnya. Eh, ternyata om sopir tadi, lumayan ada temen ngobrol, pikirku. Sambil makan, kami ngobrol ngalor ngidul ngetan ngulon.


Karena aku masih bertahan duduk, si om pamitan setelah membayar makanannya. 
"Neng, aku duluan ya. Makananmu sudah aku bayar. Hati-hati, jangan pulang terlalu larut." pesannya.
"Iya om, makasih ya..."
"Nih buat temen selama menunggu temanmu." kata si om sambil menyodorkan sebungkus rokok ber-merk Indonesia yang baru saja dibuka dan diambil satu batang.
Sambil nyengir, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih sebelum dia benar-benar pergi. Ku terima saja rokok itu walau aku bukan perokok.



Aku melirik jam tanganku. Busyett..jam 1.30 dini hari. Buru-buru aku melangkah pergi menuju salah satu diskotik di kawasan itu. Sampai di pintu aku dihadang dua orang bodyguard. Jangkrik!! pasti gara-gara pakai sandal jepit, aku ga boleh masuk. Mereka menggeladah isi ranselku, menemukan roti dan langsung membuangnya ke tempat sampah. Aku marah dan mengumpat mereka.
"What the hell are you doing? throwing my stuff without my permission?"
"Hey, what are you talking about? you know the rule, right?
"No, i'm not!" bantahku sambil menatapnya tajam.

Karena rasa dongkol, aku tak peduli lagi, menyerobot masuk dan mencari karibku. Celingak celinguk di antara orang-orang yang asyik dengan dunia masing-masing dalam keremangan cahaya diskotik. Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku, aku terlonjak kaget. Ternyata orang yang aku cari. " Asem!! ngageti wae...Mana kuncinya? aku mau pulang dulu nih..." 

"Bentar lagi deh, aku juga mau pulang. Tunggu ya aku ambilin minum."
Tak berapa lama dia kembali dengan segelas jus,"nih! kamu minum dan duduk manis di sini menungguku. Aku janji ga akan lama." katanya sambil nggeloyor pergi tanpa menunggu persetujuan.

Aku mencari tempat duduk di pojok sambil main games. Tak berapa lama, seseorang menghampiriku. "Hi, are you alone? wanna dance with me?" sapa seorang bule.
"No, thanks." aku berusaha menampik dengan baik-baik, tetapi bule ini memaksa hingga aku merasa jengkel, kemudian beranjak beralih tempat. Belum lama aku duduk, kembali seseorang menghampiriku.
"Ada rokok mbak?" tanpa basa basi dia meminta rokok. Kebetulan sekali tadi aku dikasih om sopir, maka  aku pun memberikan padanya. Seorang cewek cantik nan sexy.


Sambil menghisap rokok dalam-dalam, kemudian megeluarkan asap dengan ekspresi kenikmatan yang dalam pula, dia mengajak ngobrol.
"Sendirian mbak?" dia memulai percakapan.
"Iya, lagi nunggu temen. Mbak juga sendirian?" aku balik bertanya.

"Iya..." jawabnya datar tanpa ekspresi. 
"Sepertinya, aku tidak pernah melihatmu di tempat ini. Juga melihat dandananmu, sepertinya kamu bukan bagian dari dunia malam ini. Untuk apa kamu ke sini? hati-hati ya?" kata si mbak sambil menatapku keheranan. Si mbak ini berperawakan kurus, dengan rambut di rebonding sebahu, tinggi semampai. Dan dengan model baju yang pas melekat di tubuhnya menambah sexy dan cantik.
"Dulu sebelum begini aku juga bekerja sebagai pembantu sama sepertimu." dia mulai bercerita tanpa ku minta. Aku diam mendengarkan. 
"Waktu itu majikanku sangat jahat padaku, sehingga aku tidak betah bekerja di rumahnya. Aku memutuskan kontrak dan berusaha mencari majikan baru lagi. Aku mendapatkan majikan baru tapi aku harus menunggu visa di Macau karena aku memutuskan tidak pulang ke Indonesia. Satu bulan kemudian aku balik lagi ke Hong Kong dan siap masuk ke majikan baru. Berharap majikanku ini baik hati. Tiga bulan lamanya aku bekerja tanpa ada masalah. Bulan keempat mulai kelihatan tabiat jeleknya. Dan aku mulai tidak betah, namun berusaha sebisa mungkin bertahan. Di majikan ini, walau aku diperlakukan tidak manusiawi, aku bisa menyelesaikan kontrak 2 tahun. Semua ku lakukan demi keluarga dan mereka tidak tahu aku diperlakukan seperti ini. Biarlah, aku tak mau membebani mereka. Biar semua ini aku tanggung sendiri asal mereka bahagia, aku turut bahagia. Aku ingin membahagiakan orangtua . Eh, kok aku jadi nyerocos kemana-mana. Maaf ya, nama kamu siapa?" tanyanya.
"Yany," sahutku singkat. "Panggil saja aku Dewi," balasnya sambil mengulurkan tangan menjabat erat tanganku. Kami kemudian tertawa-tawa bersama bagai sahabat lama yang tak pernah bersua. Mbak Dewi pun melanjutkan ceritanya.


"Kamu belum jawab pertanyaanku tadi lho Yan."
"Pertanyaan yang mana mbak?"
"Kamu ke sini ngapain? sama siapa?"
"Oh, aku tadi ga sengaja ke sini. Tadinya cuma mau ambil kunci rumah. Eh, malah aku disuruh nunggu sahabat karibku itu. Mau pulang bareng katanya."
"Oh, hati-hati lho berteman di Hong Kong. Kok kamu kayaknya ga pernah ke sini ya? melihat style-mu yang cuek gitu, beda banget dengan yang lain."
"Jangan khawatir mbak, dia sahabatku sejak kami masih sama-sama duduk di bangku SMP. Aku sering ke sini kok, tapi ya dandan biasa kaya gini. Dan harus ngeyel dengan bodyguard dulu baru bisa masuk. He he...., trus Mbak Dewi sekarang kerja apa?" tanyaku tanpa sadar.

"Aku ga punya kerjaan tetap, kadang aku bekerja nyuci piring di restaurant, kadang aku menemani bule untuk minum sekaligus menjadi tour guide mereka."
"Trus, Mbak Dewi tinggal di mana? ehmmm, maaf...apa Mbak Dewi Overstay (OS)?"
Matanya langsung menatapku tajam, curiga. "Kok kamu nanya gitu Yan? kamu takut berteman denganku?" tanyanya menyelidik.
"Oh, tidak Mbak, justru aku mengkhawatirkanmu. Aku juga punya teman OS, dan aku merasakan ketidaknyaman mereka, namun aku juga tidak bisa berbuat banyak."
"Aku tidak OS Yan, tapi ditanda tangani oleh seorang bule, tapi dia tidak tinggal di HK, hanya sesekali saja ke HK. Makanya aku juga kerja serabutan. Pasti kamu pernah dengar cerita macam begini kan?". Dan aku hanya mengangguk
"Bulan depan, aku mau pulang ke Indo (biasa BMI HK, menyebut Indo untuk Indonesia), aku sudah capek bekerja di HK. Aku ingin buka usaha kecil-kecilan. Doakan semoga aku berhasil ya Yan." katanya sambil memelukku tiba-tiba. Saat itu aku jadi terharu, aku pun membalas pelukannya. Perasaanku campur aduk tak karuan. Kami baru tersadar, di mana kami berada saat sahabatku datang mengejutkan kami. Dia terheran-heran melihatku dan Mbak Dewi. Tanpa banyak kata, dia memberi isyarat untuk keluar. 


Aku kemudian pamitan kepada Mbak Dewi. Saat itulah ada semacam keterikatan batin di antara kami. Sekali lagi kami berpelukan. Dia membisikkan kata,"terima kasih ya, kau mau mendengarkan curhatku." Dan aku hanya mengangguk-angguk. Aku hanya ingin menyalurkan rasa simpatiku padanya dengan memeluk erat. Semoga Mbak Dewi diberi ketabahan menjalani hidup dan semoga mampu meraih masa depan yang membentang di hadapannya. Aku beranjak pergi tapi baru beberapa langkah, dia berteriak di antara hingar bingar musik disco, "Makasih rokoknya yaaaaaa...". Aku hanya menoleh sambil tersenyum membalas teriakannya.


Sebelum aku keluar dari diskotik, aku kembali bertemu dengan bodyguard yang menghadangku tadi. Sambil memonyongkan bibirku, aku berlalu di hadapannya. Dan mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala. 
Karena sudah tidak ada bis, aku dan sahabatku naik taksi pulang. Di dalam taksi sahabatku bertanya,"Kancamu tah kuwi mau?"  
"Lagi kenal mau pas ngenteni kowe." 
Sambil termangu-mangu aku teringat semua cerita Mbak Dewi. Dia begitu tegar menghadapi hidup walau bernasib kurang mujur, tapi tak pernah mengeluh. Dia rela berkorban demi keluarga tercinta. Pengorbanan yang tak sia-sia, karena dia mampu mengentaskan kemiskinan dalam keluarganya. Hidup memang penuh liku-liku dan kita tinggal menjalaninya. 
Entahlah, tiba-tiba aku merasa kehilangan seorang sahabat, walau aku baru mengenalnya. Sepertinya kupu-kupu itu akan terbang tinggi, jauh meninggalkan aku. Kupu-kupu malam, apa pun kau tetap sahabatku. Ah, Mbak Dewi kau begitu indah di mataku....




Cece = Mbak
Hou mun = Bosan/jenuh















27 March 2012

Kedatangan Presiden SBY Disambut Demo Oleh BMI HK

1500 Buruh Migran Indonesia kepung KJRI HK
Minggu (25/3) adalah hari yang bersejarah bagi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, BMI Hong Kong melakukan aksi demo besar-besaran. Bahkan sejak hari Sabtu (24/3), SBY telah disambut demo oleh sebagian BMI yang libur atau pun BMI yang tidak libur tetapi mendapatkan izin dari sang majikan untuk bergabung demo hari itu. Demo dilakukan dua gelombang di tempat yang berbeda. 


Demo gelombang pertama, diadakan di pintu belakang Hotel Shangri La, Admiralty, di mana SBY beserta istri dan rombongannya menginap. Karena ketatnya penjagaan di sekitar hotel, maka demo hanya diikuti oleh sekitar 100 BMI HK. Akan tetapi beberapa perwakilan dari buruh migran Filipina pun ikut mendukung dan bergabung dalam aksi tersebut. Bahkan dalam orasinya, salah satu perwakilan buruh dari Filipina meneriaki Presiden SBY.
"SBY...shame on you. Look they are a woman, why you dont want to come down and talk to them as a man?" begitu dia berteriak yang disambut gegap gempita buruh migran Indonesia.
100 Demonstran yang berada di belakang Shangri La Hotel.
Seperti dilansir di beberapa media, Presiden SBY melakukan kunjungan ke Hong Kong selain bertemu dengan Chief Executive Hong Kong  Special Administrative Region (HK SAR), Donald Tsang, juga untuk melakukan dialog dengan perwakilan BMI, tapi pada kenyataannya tak satu pun dari organisasi vokal yang ada di Hong Kong diundang untuk bertatap muka dengan Presiden Republik Indonesia tersebut.


Dengan alasan keamanan dan keselamatan, orang nomer satu di Indonesia itu meminta penjagaan dan pengawalan ketat. Kurang lebih 400 polisi dikerahkan sejak (24/3) kedatangan Presiden SBY berserta rombongan yang sehari sebelumnya berada di Shanghai, China. Namun, keberadaan 400 polisi tak membuat gentar dan menyurutkan langkah para buruh migran. Mereka tetap berjuang demi hak-hak yang terabaikan. Dalam tuntutannya selain menolak harga BBM, BMI HK juga menyerukan Tolak KTKLN, Izinkan Kontrak Mandiri, Cabut UUPPTKILN No 39/2004.


Harapan BMI setelah kunjungan Presiden SBY ke Hong Kong akan adanya perubahan nyata terkait hukum perburuhan untuk BMI Hong Kong. Akan tetapi harapan itu sepertinya sulit terwujud karena tak pernah ada dialog yang benar-benar mewakili BMI. Dialog yang ada telah di setting oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong. Sepertinya KJRI HK tak ingin kebobolan tentang borok-boroknya selama ini.


Kekecewaan tak cuma dirasakan oleh BMI, tetapi salah satu perwakilan media berbahasa Indonesia di Hong Kong pun ikut kecewa. Saat diberi kesempatan berorasi di depan massa, wartawan tersebut membacakan sms dari Konjen RI, Teguh Wardoyo. Berikut isi sms tersebut," Pak Lud, maaf tempat sudah penuh, maka kami menolak anda untuk masuk ke ruang dialog."


Ditutup dengan pembacaan doa dan sholawat, para demonstran bubar. Mereka beralih tempat menuju KJRI HK.


Membludak
Pada gelombang kedua yang dilakukan di depan KJRI, demonstran kian membludak. Diperkirakan 1500 demonstran memadati jalanan 127-129 Leighton Road, 6-8 Keswick Street, Causeway Bay. Ketika massa tiba di depan KJRI, tak terlihat polisi berjaga-jaga seperti biasanya. Ini jarang terjadi, ketika demo tak ada polisi di tempat demo.


Eni Lestari (Ketua IMA) saat berorasi didampingi Anik Setyo (Ketua Imwu)
Seperti yang dikatakan Antik Pristiwahyudi, mantan ketua Indonesian Migrant Worker Union (IMWU), "Massa yang diperkiraan 800 orang, tapi terlihat massa kian membludak hingga mencapai sekitar 1500 orang lebih". Ketika demo telah berjalan sekitar setengah jam, tampak beberapa polisi datang mengamankan. Bertemu dengan perwakilan buruh migran dan memastikan demo hari itu telah mendapatkan izin. Demo terus berlanjut, berteriak yel-yel hingga menarik perhatian siapa saja yang melintas di jalanan saat itu. Bahkan bergabung hingga massa terus bertambah.


Tak banyak polisi berjaga, karena hari itu, Hong Kong tengah mengadakan pemilihan Chief Executive. Pada hari yang sama pula, di kawasan Causeway Bay ada pertandingan Rugby Sevens, sehingga polisi dikerahkan kedua titik rawan. Polisi dan masyarakat Hong Kong memberikan keleluasaan demo hari itu. Aksi demo pun tertib tanpa pengawalan polisi. Satu bukti bahwa BMI HK bisa menjaga martabat bangsa, berdemo tanpa tindakan anarkis.


Setelah hampir satu jam berlalu, serombongan staff KJRI yang berpakaian rapi, melintas di antara pendemo. Sontak massa berteriak, "Huuuuuuu........" sambil membalikkan jempol. Bukannya masuk ke dalam gedung, beberapa staff KJRI malah berdiri di pojokan sambil sesekali mengambil foto.
Tampak beberapa Staff KJRI berdiri di pojok gedung.
Bahkan ada staff KJRI yang menyeletuk dari belakang,"Arek-arek kuwi padha ngapa?" begitu laporan dari mbak-mbak BMI yang berdiri berjajar di pojok bareng bapak-bapak KJRI. Demo berjalan lancar, rapi, aman dan tertib dengan massa terbanyak sepanjang sejarah BMI HK.
"BMI bersatu, tak bisa dikalahkan!! BMI Bersatu, bergerak, berjuang!!" yel-yel wajib setiap demo. Lanjutkan!!!