Search This Blog

27 March 2012

Kedatangan Presiden SBY Disambut Demo Oleh BMI HK

1500 Buruh Migran Indonesia kepung KJRI HK
Minggu (25/3) adalah hari yang bersejarah bagi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Menyambut kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, BMI Hong Kong melakukan aksi demo besar-besaran. Bahkan sejak hari Sabtu (24/3), SBY telah disambut demo oleh sebagian BMI yang libur atau pun BMI yang tidak libur tetapi mendapatkan izin dari sang majikan untuk bergabung demo hari itu. Demo dilakukan dua gelombang di tempat yang berbeda. 


Demo gelombang pertama, diadakan di pintu belakang Hotel Shangri La, Admiralty, di mana SBY beserta istri dan rombongannya menginap. Karena ketatnya penjagaan di sekitar hotel, maka demo hanya diikuti oleh sekitar 100 BMI HK. Akan tetapi beberapa perwakilan dari buruh migran Filipina pun ikut mendukung dan bergabung dalam aksi tersebut. Bahkan dalam orasinya, salah satu perwakilan buruh dari Filipina meneriaki Presiden SBY.
"SBY...shame on you. Look they are a woman, why you dont want to come down and talk to them as a man?" begitu dia berteriak yang disambut gegap gempita buruh migran Indonesia.
100 Demonstran yang berada di belakang Shangri La Hotel.
Seperti dilansir di beberapa media, Presiden SBY melakukan kunjungan ke Hong Kong selain bertemu dengan Chief Executive Hong Kong  Special Administrative Region (HK SAR), Donald Tsang, juga untuk melakukan dialog dengan perwakilan BMI, tapi pada kenyataannya tak satu pun dari organisasi vokal yang ada di Hong Kong diundang untuk bertatap muka dengan Presiden Republik Indonesia tersebut.


Dengan alasan keamanan dan keselamatan, orang nomer satu di Indonesia itu meminta penjagaan dan pengawalan ketat. Kurang lebih 400 polisi dikerahkan sejak (24/3) kedatangan Presiden SBY berserta rombongan yang sehari sebelumnya berada di Shanghai, China. Namun, keberadaan 400 polisi tak membuat gentar dan menyurutkan langkah para buruh migran. Mereka tetap berjuang demi hak-hak yang terabaikan. Dalam tuntutannya selain menolak harga BBM, BMI HK juga menyerukan Tolak KTKLN, Izinkan Kontrak Mandiri, Cabut UUPPTKILN No 39/2004.


Harapan BMI setelah kunjungan Presiden SBY ke Hong Kong akan adanya perubahan nyata terkait hukum perburuhan untuk BMI Hong Kong. Akan tetapi harapan itu sepertinya sulit terwujud karena tak pernah ada dialog yang benar-benar mewakili BMI. Dialog yang ada telah di setting oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong. Sepertinya KJRI HK tak ingin kebobolan tentang borok-boroknya selama ini.


Kekecewaan tak cuma dirasakan oleh BMI, tetapi salah satu perwakilan media berbahasa Indonesia di Hong Kong pun ikut kecewa. Saat diberi kesempatan berorasi di depan massa, wartawan tersebut membacakan sms dari Konjen RI, Teguh Wardoyo. Berikut isi sms tersebut," Pak Lud, maaf tempat sudah penuh, maka kami menolak anda untuk masuk ke ruang dialog."


Ditutup dengan pembacaan doa dan sholawat, para demonstran bubar. Mereka beralih tempat menuju KJRI HK.


Membludak
Pada gelombang kedua yang dilakukan di depan KJRI, demonstran kian membludak. Diperkirakan 1500 demonstran memadati jalanan 127-129 Leighton Road, 6-8 Keswick Street, Causeway Bay. Ketika massa tiba di depan KJRI, tak terlihat polisi berjaga-jaga seperti biasanya. Ini jarang terjadi, ketika demo tak ada polisi di tempat demo.


Eni Lestari (Ketua IMA) saat berorasi didampingi Anik Setyo (Ketua Imwu)
Seperti yang dikatakan Antik Pristiwahyudi, mantan ketua Indonesian Migrant Worker Union (IMWU), "Massa yang diperkiraan 800 orang, tapi terlihat massa kian membludak hingga mencapai sekitar 1500 orang lebih". Ketika demo telah berjalan sekitar setengah jam, tampak beberapa polisi datang mengamankan. Bertemu dengan perwakilan buruh migran dan memastikan demo hari itu telah mendapatkan izin. Demo terus berlanjut, berteriak yel-yel hingga menarik perhatian siapa saja yang melintas di jalanan saat itu. Bahkan bergabung hingga massa terus bertambah.


Tak banyak polisi berjaga, karena hari itu, Hong Kong tengah mengadakan pemilihan Chief Executive. Pada hari yang sama pula, di kawasan Causeway Bay ada pertandingan Rugby Sevens, sehingga polisi dikerahkan kedua titik rawan. Polisi dan masyarakat Hong Kong memberikan keleluasaan demo hari itu. Aksi demo pun tertib tanpa pengawalan polisi. Satu bukti bahwa BMI HK bisa menjaga martabat bangsa, berdemo tanpa tindakan anarkis.


Setelah hampir satu jam berlalu, serombongan staff KJRI yang berpakaian rapi, melintas di antara pendemo. Sontak massa berteriak, "Huuuuuuu........" sambil membalikkan jempol. Bukannya masuk ke dalam gedung, beberapa staff KJRI malah berdiri di pojokan sambil sesekali mengambil foto.
Tampak beberapa Staff KJRI berdiri di pojok gedung.
Bahkan ada staff KJRI yang menyeletuk dari belakang,"Arek-arek kuwi padha ngapa?" begitu laporan dari mbak-mbak BMI yang berdiri berjajar di pojok bareng bapak-bapak KJRI. Demo berjalan lancar, rapi, aman dan tertib dengan massa terbanyak sepanjang sejarah BMI HK.
"BMI bersatu, tak bisa dikalahkan!! BMI Bersatu, bergerak, berjuang!!" yel-yel wajib setiap demo. Lanjutkan!!!

09 March 2012

Nasib PAHLAWAN Devisa dan OPTIMALISASI Peran Pemerintah Daerah.


Buruh Migran Indonesia di Hong Kong
Memutuskan menjadi buruh migran bukanlah sebuah pilihan yang mudah di tengah tingginya angka pengangguran di Tanah Air. Bisa dipastikan buruh migran bukanlah sebuah cita-cita yang diimpikan ketika masih duduk di bangku sekolah. Tekanan  ekonomi telah memaksa mereka menjatuhkan pilihan untuk menjadi buruh migran dan pergi meninggalkan keluarga di Tanah Air. Seandainya pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai, tidak mungkin rakyatnya berbondong-bondong menjadi buruh migran di negeri orang, mengadu nasib demi keberlangsungan hidup.

Minimnya lowongan pekerjaan dengan gaji yang memadai memang menjadi  persoalan klasik yang tak pernah menemukan solusi dari Pemerintah Indonesia. Dari tahun ke tahun angka pengangguran semakin meningkat tajam. Merantau menjadi buruh migran menjadi salah satu dampak dari ketiadaan lapangan kerja di dalam negeri. Akan tetapi, mengapa setelah rakyat Indonesia menjadi buruh migrant, pemerintah terkesan memarginalkan kaum buruh? 

Bahkan meremehkan keberadaan kaum buruh migran yang biasa disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW), Pembantu Rumah Tangga (PRT), Buruh Migran Indonesia (BMI), Tenaga Kerja Indonesia (TKI), babu, kuli atau apalah. Seakan kaum buruh tak lebih dari sekelompok kaum marginal strata rendah yang tak pantas dihargai. Begitukah?

Pandangan itu tak lepas dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih gemar mengelompokkan suatu golongan, membeda-bedakan status sosial dalam lingkup kehidupan masyarakat di sekitarnya. Tentu saja ini sangat ironis. Apalagi bila melihat persoalan kebutuhan utama hidup manusia dan perjuangan perbaikan ekonomi (bekerja) tidak bisa dikhususkan hanya bagi atau dengan status tertentu. Persoalan pemenuhan kebutuhan utama alias bekerja dan persoalannya tidak cukup pada perbedaan status sosial. Sebab, apa pun itu, tujuan bekerja setiap orang adalah sama yaitu mencari penghidupan. Pekerjaan hanyalah status sosial dan yang mengerjakan sama yaitu manusia.

Tidak Mudah
Bukan perkara mudah ketika memutuskan untuk bekerja di luar negeri sebagai buruh migran. Banyak hal yang harus dipikirkan. Karena bagaimanapun situasi, lingkungan hidup dan budaya pasti sangatlah berbeda antara negara asal dan negara tujuan. Di satu sisi menjadi buruh migran adalah solusi untuk mengangkat derajat ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, terutama keluarga. 

Melihat kompleksitas menjadi buruh migran, di sini seharusnya pemerintah justru berterima kasih kepada para buruh migran dan bukan mengucilkannya bahkan mengabaikannya. Mengapa berterima kasih?  Karena dengan adanya warga yang memutuskan menjadi buruh migran, berarti Pemerintah telah diuntungkan karena ini bisa mengurangi angka pengangguran di daerahnya. Dan tentu saja juga meningkatkan pendapatan pemerintah daerah setempat asal BMI, melalui kiriman uang yang disampaikan ke keluarganya di kampung halaman. Tak seharusnya masyarakat membeda-bedakan status sosial berdasarkan pekerjaan.

Haruskah perbedaan itu ada? Bukankah perbedaan itu indah? Jika saja masyarakat kita mau berpandangan luas, berpikir positif, tentu tak perlu ada pembagian suatu golongan atau kelompok tertentu dalam masyarakat itu sendiri. Hidup berdampingan secara rukun, saling tolong-menolong dan berpikir bahwa kita saling membutuhkan serta saling mengisi kekurangan masing-masing, menselaraskan kehidupan dengan alam yang dapat menciptakan harmonisasi dan sinergi maka tak perlu ada pembagian golongan dalam bermasyarakat. Namun selama ini masyarakat terlalu egois untuk mengakui perbedaan.

Dalam kehidupan yang kian hedonistis cara pandang yang seperti itu tentu saja sangat merugikan bagi kaum termarginalkan salah satunya buruh migran. Gelar pahlawan devisa yang diberikan pemerintah hanyalah omong kosong. Kenapa sebagai pahlawan devisa (jika memang dianggap pahlawan) tersingkir dan dianaktirikan oleh bangsa sendiri? Pemerintah Indonesia tidak terlalu tanggap dengan permasalahan buruh migran. Tidak juga memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada para penghasil devisa itu.

Tak Cukup Bekal 
Pelatihan yang diberikan selama di penampungan tak cukup untuk membekali para calon BMI. Minimnya fasilitas yang disediakan di penampungan dan dibatasinya ruang gerak bagi para calon BMI , tidak mendukung calon BMI untuk belajar lebih banyak tentang tata cara dan adat istiadat negara tujuan. Pemerintah kurang peka terhadap apa saja yang dibutuhkan para calon buruh migran. Dan terkesan membiarkan warga negaranya yang memutuskan bekerja di luar negeri tanpa bekal yang memadai. Para buruh migran tidak melulu harus belajar tata cara pelaksana rumah tangga. Kalau pun ada pembekalan, itu juga sangat terbatas malah terkesan seadanya. 

Mengapa pemerintah tidak mensosialisasikan bagaimana budaya negara tujuan? Dan harus kemana bila terjadi sesuatu pada buruh migran setelah bekerja di negara tujuan? Perwakilan pemerintah di negara tujuan pun tidak cukup membantu. Karena perwakilan pemerintah di negara tujuan jarang berpihak kepada BMI.  Banyak buruh migran di Hong Kong (yang baru datang khususnya), yang tidak tau kemana harus mengadukan masalah yang menimpanya. Buruh migran justru meminta tolong kepada Labour departement atau non goverment organisation. Pertanyaannya, Mengapa buruh migran lebih percaya NGO? kemana pemerintah selama ini?

Pemerintah Indonesia begitu teliti saat menghitung jumlah remittance yang dikirim buruh migran hingga digit terkecil sekalipun. Selama ini pemerintah menutup mata dan telinga. Permasalahan bahkan bertambah kompleks.  Apakah itu timbal balik yang diberikan negara? Diakui atau tidak, buruh migran adalah penyumbang devisa terbesar kedua setelah minyak dan gas. Dan para buruh itu yang notabene hanya lulusan SMP atau SMA telah melakukan sesuatu untuk negara, pantaskah pemerintah menelantarkan buruh migran? Karena siapapun itu, semua rakyat Indonesia mempunyai hak yang sama sebagai warga negara Indonesia untuk mendapat perlindungan.

Menjadi buruh migran tidaklah semudah yang dibayangkan khalayak selama ini. Bekerja di negeri beton  (Hong Kong), tentu ada tantangan tersendiri. Ritme kerja yang serba teratur dan serba cepat, juga menuntut BMI untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan kerja. Dan ini sangat kontras dengan keadaan di Indonesia yang serba santai. Pemerintahan pun terkesan lamban dalam melayani kebutuhan masyarakat. Banyak pejabat yang hanya mementingkan kepentingan pribadi daripada harus mengabdikan diri kepada masyarakat. Maka, muncullah masalah-masalah baru di pemerintahan.

Semakin banyaknya masalah yang terjadi di Tanah Air semakin pula masalah itu tidak terselesaikan dengan tuntas. Bahkan, semakin carut marut, sehingga masalah ketenaga kerjaanpun terabaikan. Rasanya tidak muluk-muluk kalau BMI menuntut perlindungan kerja yang jelas. Aturan-aturan yang tertera selama ini hanya tertuang dalam selembar Surat Keputusan (SK), tanpa terealisasi dengan baik. Akan tetapi, bagaimanapun BMI punya hak untuk tetap memperjuangkan dan mempertahankan hak-haknya.

Masyarakat kita selama ini telah terdoktrin bahwa menjadi buruh migran adalah pekerjaan gampang yang menghasilkan uang jutaan. Namun, pernahkah terlintas dalam pikiran mereka bagaimana proses menjadi BMI? Dan bagaimana pula memerankan buruh, di negeri orang berbeda budaya? Berada jauh dari sanak keluarga, bekerja keras di antara cucuran keringat, di bawah tindasan majikan, teraniaya dan hak-haknya yang terampas. Tekanan psikis dan fisik pun harus di terimanya. Sungguh bukanlah suatu hal yang mudah. Hong Kong dari segi financial boleh diacungi jempol tetapi sisi kehidupannya yang keras membuat sesak nafas hingga tak adanya waktu buat diri sendiri. Bahkan jatah waktu tidurpun terenggut paksa.

Salah Sistem 
Banyaknya kasus penganiayaan terhadap buruh migran belakangan ini, tak lepas dari salahnya sistem perekrutan, dokumentasi dan pelatihan calon BMI yang akan dikirim ke luar negeri. Pemalsuan dokumen yang terjadi sejak di daerah asal BMI, akan menjadi masalah di kemudian hari. Bila terjadi sesuatu pada BMI, maka akan sulit mengidentifikasi yang bersangkutan. Keterbatasan informasi dan peran aktif pemerintah, terutama di daerah, membuat sponsor seakan-akan menjadi dewa penolong mereka.

Sponsor atau perusahaan jasa tenaga kerja indonesia (PJTKI), berkeliaran mencari siapa saja yang berminat bekerja ke luar negeri dengan janji gaji yang menggiurkan tanpa disertai dengan informasi yang jelas. Mereka bekerja demi mengeruk keuntungan pribadi. Maka, tak heran jika di daerah asal para BMI berdiri dengan megahnya istana para sponsor BMI. Nah!! kalau sistem di pemerintah daerah asal BMI saja sudah ngawur, bagaimana nasib BMI kedepannya? Pemerintah mengirim BMI ke luar negeri hanya demi aliran devisa semata. Tragis!!

Pemerintah daerah seharusnya membantu mensosialisasikan/mengedukasi masyarakat,  agar tidak tergiur dengan iming-iming gaji besar setelah bekerja di luar negeri tanpa disertai jaminan perlindungan yang jelas dari PJTKI. Disini peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan. Dorongan dan dukungan dari pemerintah daerah sejak awal, mungkin bisa meminimalisir korban/penganiayaan/kematian terhadap buruh migran. Hendaknya pemerintah daerah lebih giat dalam memperingatkan masyarakatnya, agar lebih jeli/kritis memilih PJTKI yang memang mau mempedulikan nasib buruh migran dan tidak hanya melihat keuntungan yang didapat dari dolar, ringgit atau riyal semata. Bila masyarakat cerdas tentunya pemerintah daerah pun akan bangga. "Oh, ini lho BMI hasil binaan pemerintah daerah...."

Hong Kong 28 Desember 2010

(Repost lagi yang pernah terhapus. he he...)

02 March 2012

Suasana Hari Minggu di Victoria Park


Causeway Bay- “Bakso..soto…dawet... jamune mbak e…..,” teriakan-teriakan seperti itu terdengar hilir mudik setiap minggu di Victoria Park. Hari minggu adalah hari kebebasan bagi Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Mereka bisa bebas menghirup udara pagi untuk sejenak melupakan beban hidup. Di hari minggu itulah mereka memiliki waktu sepenuhnya tanpa harus memikirkan rutinitas yang menjemukan. Setelah 6 hari bekerja di rumah majikan lebih dari 16 jam setiap harinya. Jadi tak ada salahnya ketika akhir pekan tiba, mereka memanjakan diri di “Kampung Jawa” (Victoria Park), tempat nongkrong BMI Hong Kong asal Indonesia.

Victoria Park adalah sebuah taman yang terletak di pusat kota Hong Kong tepatnya di kawasan Causeway Bay. Begitu masuk ke taman ini, suasananya akan terasa banget seperti di kampung halaman. Di sana sini akan terdengar riuhnya BMI Hong Kong dengan logat medhok-nya. Malah, banyak pedagang lokal maupun buruh migran Pakistan yang sengaja menggunakan bahasa Jawa untuk menarik minat BMI.

"Mulah…mulah…seket telu….apik-apik," begitulah mereka menawarkan dagangannya. Mungkin yang baru pertama menginjakkan kakinya di taman ini, merasa heran dan tersenyum sendiri. Akan tetapi pemandangan seperti itu sudah biasa bagi BMI Hong Kong. Dan akan menambah ramai suasana taman tersebut, karena semua berbaur menjadi satu.
Pedagang dan BMI berbaur di Victoria Park.

Ketika matahari belum meninggi, suasana minggu pagi di "Kampung Jawa" masih terlihat lengang. Hanya tampak beberapa penduduk lokal yang melakukan aktivitas jogging di jogging track yang tersedia di area lapangan. Semakin siang, semakin banyak BMI yang datang memadati lapangan rumput/taman. Di Victoria Park inilah mayoritas BMI melakukan aktivitas untuk mengisi waktu libur mereka.

Ada 2 buah lapangan yang bisa dijadikan tempat BMI melakukan kegiatan. Satu lapangan rumput dan satunya lagi lapangan sepak bola. Di hari minggu semua BMI tumplek bleg di sana. Mereka datang dari berbagai penjuru kota di Hong Kong. Datang untuk bertemu dengan saudara. Bergerombol di salah satu sudut taman, duduk melepas penat sambil ngobrol.
Lapangan sepak bola ini akan dipadati BMI ketika sore telah tiba.


Mencari Kiblat di Kaki Langit Hong Kong

Hong Kong dengan gaya hidup yang megapolis, mampu mempengaruhi siapa saja yang berada di dalam lingkupnya. Tak terkecuali buruh migran. Mereka seringkali mendapat godaan yang menggiurkan hingga terjerumus ke dalam gaya hidup glamour. Berfoya-foya menghamburkan uang demi kepuasan semu. Lebih parahnya, seakan mereka tak punya tujuan hidup. Mereka telah terbius kenikmatan duniawi. Maka, untuk mengantisipasinya dan mempertebal keimanan, kegiatan pengajian pun sering diadakan oleh beberapa organisasi di Hong Kong yang digelar di taman/lapangan rumput. Ada beberapa komunitas muslim dari kalangan BMI. Sebut saja Persatuan Dakwah Victoria (PDV) Hong Kong. Komunitas ini sangat aktif dalam berdakwah di lapangan rumput. Walau banyak rintangan yang mereka hadapi, tapi mereka tak patah semangat.

“Demi kebaikan sesama BMI dan semua umat, marilah kita beramal sebanyak-banyaknya, mumpung suasananya pas ramadhan,” begitulah ajakan dari salah satu anggota PDV yang tak mau disebutkan namanya. Dengan gigih komunitas ini, selalu mendatangi/mengajak BMI. Siapa pun boleh bergabung dalam komunitas ini tanpa pandang bulu. Mereka berkeliling lapangan menyerukan ajakan untuk selalu mengingat Sang Pencipta, untuk menambah ilmu keagamaan atau setidaknya membentengi diri dari pengaruh lingkungan.
Moment Lebaran tahun 2011


Selain aktif berdakwah, mereka juga melakukan kegiatan sosial. Seperti pada hari minggu lalu (21/8/2010), mereka berkeliling taman membersihkan sampah-sampah yang berserakan, dalam rangka peduli ramah lingkungan di Hong Kong yang bertajuk “Support Clean of Hong Kong.” Kegiatan ini bertujuan mengajak BMI Hong Kong untuk lebih sadar kebersihan lingkungan seperti yang selalu diserukan pemerintah Hong Kong.

Selain PDV, masih ada beberapa organisasi yang aktif di bidang dakwah. Ada Majelis Ta’lim, Ikatan Persaudaraan Muslimah Hong Kong (IPMH), Gabungan Migran Muslim Indonesia (GAMMI). Dilihat dari sekian banyak organisasi yang bergerak di bidang keagamaan, tergambar jelas antusiasme buruh migran untuk belajar dan mendalami ilmu agama walau di perantauan. Inilah salah satu sisi positif BMI dari sekian berita-berita miring, terutama BMI Hong Kong. "Hidup diperantauan, penuh resiko dan godaan. Jadi hidup butuh keseimbangan,” kata salah satu muslimah BMI.

Duta seni dan budaya 

Tanpa disadari sebenarnya buruh migran di Hong Kong, punya andil besar dalam memperkenalkan budaya Indonesia. Lewat berbagai kegiatan yang selalu menampilkan tari-tarian daerah. Atau kadang saat berdemo pun, BMI sering melakukan atraksi tari-tarian sehingga menarik penduduk lokal maupun turis asing. Maka, tak heran jika ada pertanyaan, siapa mereka? Tari apa yang mereka peragakan? Pada saat itulah rasa bangga menyeruak dalam dada. Bangga ketika ada orang yang bertanya tentang budaya Indonesia. Dan bangga pula bisa memperkenalkan budaya Indonesia, walau hanya berprofesi sebagai buruh migran. Ini juga sisi kegiatan positif BMI yang luput dari perhatian media di Indonesia dan pemerintahnya juga. Sekali lagi, selama ini yang ada hanya berita miring saja. Huhh....

Biasanya sejumlah BMI yang gemar atau punya hobby yang sama ini, akan belajar secara otodidak. Mereka giat berlatih setiap minggunya di Victoria Park. Rasa kebersamaan yang terbangun menjadikan mereka bersatu dalam segala suasana. Dari seni mereka belajar banyak tentang kehidupan. Seni yang telah mempersatukan mereka. Dan lewat seni juga biasanya mereka berjuang melawan ketidakadilan yang mereka terima. Drama teaterikal selalu mereka suguhkan dengan tema isu-isu yang bersangkutan dengan buruh migrant. Menyindir pemerintah lewat seni. Tapi seperti yang telah kita ketahui, pemerintah Indonesia terlalu bebal.

Dari komunitas seni Sekar Bumi yang berslogan,” Lewat seni kami melawan,” sering menampilkan tarian tradisional. Group ini sering di undang untuk mengisi acara penduduk lokal (Hong Kong) mau pun mengisi acara yang diselenggarakan kawan-kawan BMI.  Juga dari group Sanggar Budaya Indonesia  yang ada di bawah naungan Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI). Mereka juga sering menampilkan tarian dari berbagai daerah di Indonesia.
Group Sekar Bumi Hong Kong

Teater Angin, komunitas buruh pecinta sastra dan teater pun tak kalah ketinggalan. Komunitas ini aktif di kegiatan tulis menulis dengan tema seputar buruh migran. Begitu juga dengan Forum Lingkar Pena (FLP), mereka aktif di bidang kepenulisan dan berdakwah melalui tulisan keagamaan.

Sejumlah BMI, terlihat mondar mandir di Victoria Park setiap minggunya dengan menenteng kamera DSLR. Merekalah pecinta dunia fotografi. Berkeliling taman, mengambil moment BMI yang unik untuk dikoleksi. Mereka tergabung dalam satu wadah dan hobby yang sama yaitu Indografer. 
Salah satunya BMI asal Wonosobo, Nur Chasanah. Dia mengaku jatuh cinta pada dunia fotografi sudah sejak lama, namun baru serius 2 tahun terakhir. Awalnya dia hanya coba-coba, tetapi pada akhirnya dia benar-benar jatuh cinta pada dunia photografi. Dia ingin bercerita seputar BMI lewat hasil jepretan fotonya.

“Asyik banget kok, aku paling suka motret kegiatan kawan-kawan BMI. Dan aku mulai menekuni dunia fotografi, siapa tahu nanti saat kembali ke tanah air, ilmunya bisa dimanfaatkan. Kan lumayan ada pekerjaan daripada jobless setelah dari luar negeri,” ujar lajang kelahiran tahun 1981 ini.

Dari ribuan BMI tersebut juga ada group-group dancer. Dengan dandanan yang funky dan style yang selalu up to date dan tak kalah dengan selebritis tanah air. Meraka mampu merebut perhatian dan apresiasi dari kawan-kawan BMI yang lain. Banyak group dancer, diantaranya Alexa Dancer, Ck Funky Dancer, DIF dancer dan masih banyak lagi. Saat beraksi, jangan ditanya lagi kemampuan mereka. Walau belajar secara otodidak, namun mereka terlihat begitu atraktif dan kreatif. Biasanya peminat group dancer adalah anak-anak tomboy. Jadi disinilah sisi positif anak-anak tomboy di Hong Kong, tidak selalu berbuat hal-hal negative seperti yang selalu di soroti media dan menjadi berita heboh.

Warung Lesehan Pojok Victoria

Ketika melintas di sudut-sudut Victoria Park, di sana akan terlihat perempuan-perempuan duduk berjejer. Di depan mereka biasa tersaji aneka masakan khas Indonesia. Tak lupa kompor portable, cobek beserta uleg-nya dan perlengkapan yang lain, yang dimasukkan kedalam koper besar, lengkap dengan segala jenis sayuran atau bahan makanan (Bakso sapi, sambel kacang, kecap, tempe, plastik, daun pisang dsb), semua jadi satu tapi tersusun rapi.

Merekalah BMI yang sedang berjualan nasi dan aneka makanan Indonesia. Walau sebenarnya berjualan dilarang oleh pemerintah Hong Kong, namun mereka nekad melakukannya. Untuk menambah penghasilan, rata-rata begitulah alasan mereka. Tak jarang ketika ada operasi mendadak, beberapa diantara mereka ada yang tertangkap basah oleh “pakdhe” (pihak imigrasi Hong Kong). Kalau sudah begitu bisa panjang urusannya.

Seperti pengalaman salah satu penjual nasi pecel asal Banyuwangi. Selama 7 tahun menggeluti bisnis berjualan nasi secara illegal setiap minggu, sudah 2 kali tertangkap. Tetapi saat tertangkap, pihak imigrasi tak cukup punya bukti akhirnya dia lolos kembali. Pihak imigrasi Hong Kong, memang tidak sembarang menangkap korban-korban yang diincarnya. Walau sebenarnya mereka tahu perbuatan korban, tetapi mereka tidak punya bukti, biasanya korban akan dilepas kembali.

“Sayang kalau saya berhenti berjualan, karena dari berjualan inilah saya bisa mendapatkan uang tambahan. Jadi gaji saya sebulan bisa utuh saya tabung,” ungkapnya. Niken (nama samaran), mengaku bisa meraup keuntungan sebesar HKD 2000/minggu. Jadi dia merasa enggan meninggalkan bisnis ilegalnya ini. Bahkan dia mengaku tak kapok walau sudah 2 kali tertangkap. Dan bilang akan lebih berhati-hati menjalankan bisnis ilegalnya ini.
Salah seorang penjual yang melayani pembeli.

Antara satu penjual dengan penjual lainnya, terlihat kompak ketika petugas imigrasi mengincar atau mendatangi mereka. Biasanya salah satu dari mereka akan berteriak,” pakdheeeeeeeeeeeeeeeeeeee……” maka serentak mereka akan menutup koper-koper yang ada barang dagangannya dan akan berpura-pura asyik ngobrol dengan temannya untuk mengelabuhi si pakdhe. Seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu disana.

Begitulah warna-warni kehidupan BMI Hong Kong di Victoria Park. Begitu banyak cerita. Positif dan negative, semua ada. Tak seperti yang disuguhkan dalam film Minggu Pagi di Victoria Park-nya garapan Lola Amaria, yang hanya mengambil sisi negatifnya saja. Bukannya menampik cerita-cerita seperti itu. Kisah seperti itu memang ada, tapi alangkah lebih baik kalau disertai sisi positifnya juga. Jadi imbang tho? Biar masyarakat tahu kehidupan BMI yang sesungguhnya. Dan tidak berburuk sangka pada salah satu keluarganya yang mungkin bekerja di Hong Kong.
           
 Fanling, 26 Agustus 2011.

(Repost tulisan yang terhapus dengan tidak sengaja karena keusilan saya dan tulisan ini telah dimuat di Radar Madiun)

22 February 2012

Cinta Tali Kutang


Adegan perkenalan antara BMI dan Buruh Migran Pakistan.
Minggu (25/12/2011), Saya menghadiri acara yang digelar oleh Organisasi Kotkiho yang bekerja sama dengan 4 seniman asal Yogyakarta. Empat seniman itu adalah Exi, Anang, Tono dan Ben Hargrove (warga Amerika), mereka tergabung dalam komunitas seni teater Taring Padi. Mereka datang ke Hong Kong dalam rangka pagelaran kreasi seni dan karya sastra yang tertajuk Kidung Anak Negeri di Negeri Seberang. Acara tersebut digelar di jalanan sebelah Sogo, Causeway Bay. Diawali yel-yel buruh migran dan orasi, kemudian beberapa tarian tradisional sampai modern dance ditampilkan dari beberapa group. Ketika saya asyik memotret, ada satu adegan drama yang dimainkan oleh Buruh Migran Indonesia (BMI) yang tergabung dalam group Arimbi Dancer yang menarik perhatian saya. Di mana dalam adegan itu diceritakan seorang buruh migran asal Pakistan yang mengencani beberapa cewek buruh migran asal Indonesia. Sambil sesekali memotret, saya fokus dan terlarut dalam drama kocak itu.

Adegan saat Mbak BMI menolak kiriman/paketan dari orangtuanya di Indonesia.
Dalam adegan pertama, drama yang berjudul "Cinta Tali Kutang" tersebut menceritakan, seorang Buruh Migran Indonesia (BMI) yang kecantol dengan pria asal Pakistan. Kemudian mereka berpacaran dan itu mengubah perilaku BMI tersebut sehingga dia melupakan keluarganya di rumah (Indonesia). Dia juga menolak ketika mendapat kiriman makanan dari orang tua nya. Dengan mengatasnamakan cinta, dia habis-habisan merogoh koceknya untuk membiayai pria tersebut. Celakanya, si pria juga mempunyai pacar selain dia, yang juga seorang BMI. Dan ini tidak diketahuinya. Atau bahkan ketika teman-temannya berusaha mengingatkan, malah dia bilang begini," kowe aja iri ta ya, padimu ora payu wae kok. Eh, iya jenengku Cindy dudu Poini. Awas kowe nek nyeluk aku Poini," spontan penonton pun tertawa. Adegan ini menggambarkan betapa dia lebih mempercayai pria tersebut atas nama CINTA. Oalah...

Drama yang dimainkan oleh 6 orang BMI tersebut dikemas dalam adegan-adegan lucu sehingga penonton pun tak merasa jemu bahkan malah terhibur. Seperti ketika si BMI yang sudah habis-habisan berkorban demi pria Pakistan itu, si BMI hanya mendapatkan seutas tali kotang sebagai tanda cinta dari pria Pakistan itu.
"senajan amung tali kotang, i love you honey," begitu ungkap si BMI dalam adegan tersebut. Dan membuat penonton terpingkal-pingkal lagi. Tidak hanya dari percakapannya yang lucu tapi juga dari gerak mereka yang kocak banget. Drama yang diselipi bahasa kantonis dan bahasa inggris itu, juga menarik perhatian warga lokal (Hong Kong). Walau mungkin agak tersendat pemahamannya karena juga dicampur-campur bahasa jawa. Tetapi saya yakin dari gerak gerik pemain, mereka tau apa maksud dari drama tersebut.

Adegan saat si BMI hamil dan berusaha mencari pria Pakistan itu.
Dalam adegan lain, menggambarkan glamournya kehidupan di Hong Kong, telah menjerumuskan mereka berpacaran kelewat bebas sehingga menyebabkan dia hamil di luar nikah. Ketika dia berusaha meminta pertanggungjawaban dari pria yang menghamilinya, dia malah dituduh memfitnah dan pria tersebut pura-pura tak mengenalnya. Saat itulah dia baru sadar kalau dirinya telah dijadikan korban oleh pria Pakistan tersebut. Dia berusaha membela mati-matian, tapi toh pria itu lebih memilih meninggalkannya walau pun dia mengandung anak dari pria tersebut.Kalau sudah begitu, siapa yang rugi?
Adegan saat memperebutkan pria Pakistan oleh sesama BMI.

Sudah banyak yang menjadi korban pria hidung belang asal Pakistan, tetapi mengapa masih ada saja korban-korban selanjutnya? Sudah banyak yang mengingatkan lewat media dan lisan, tetapi mengapa tidak pernah menggubrisnya?

Pelajarannya : Tidak ada yang melarang kalian (BMI HK) pacaran. Tetapi, berpacaranlah sewajarnya saja. Ingatlah tujuan awal kalian ke Hong Kong. Kalau sudah terjadi kejadian seperti drama tersebut di atas, SIAPA YANG RUGI?? Kehilangan pekerjaan dan hasil kerja keras kalian selama di Hong Kong melayang begitu saja. Sayang kan?
Berhati-hatilah kawan!!

23 January 2012

Tradisi Tahun Baru China. (Angpao, Lopak Ko, Celana Dalam Merah)

Tumpukan cokelat dan biskuit di supermarket .
Hong Kong - Seminggu sebelum Tahun Baru China atau Imlek, sudah terasa dan terlihat kesibukan di sana sini. Pasar tradisional mau pun supermarket penuh dengan pernak pernik khas imlek. Beraneka macam makanan kecil tersedia. Dari permen, cokelat hingga aneka roti kering terlihat  menggunung di setiap supermarket. Acara bersih-bersih rumah pun tampak di setiap rumah warga Hong Kong. Tak beda jauh dengan persiapan saat lebaran umat islam di tanah air. Untuk urusan bersih-bersih rumah, sudah pasti menjadi urusan mbak-mbak buruh migran yang memang bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Maka, tak heran bila mereka mengeluh capek. Dan untuk membuang jenuh di antara kepenatan bekerja, biasanya mereka ber-haha..hihi di Facebook. Tak terkecuali aku, he he..


Untuk menambah keindahan, pasar bunga pun tak mau kalah. Bunga-bunga indah khas imlek bertebaran di setiap toko/pasar bunga. Terlihat di sudut rumah, pertokoan, mall dan perkantoran dihiasi berbagai bunga yang berwarna-warni. Hiasan yang ditempel mau pun digantung menambah semarak suasana imlek. Tak ketinggalan musik khas tahun baru China diputar di mana-mana. Bau dan debu hio menambah sakral suasana tahun baru China yang kali ini jatuh tepat di tahun naga.


Sehari menjelang Imlek, berhubung hari minggu maka aku tinggal liburan. Karena aku memang sudah terlalu capek seminggu sebelumnya. Aku bikin lopak ko, (sejenis makanan yang terbuat dari lopak atau wortel putih yang diparut) sendirian dan nyonyaku malah keluar makan malam bersama keluarga besarnya. Lopak ko atau pun Lin ko punya makna yang berarti mencapai tujuan yang lebih tinggi. Ini diambil dari kata Ko yang berati tinggi. Jadi lopak ko adalah menu wajib saat tahun baru China, yang berrati supaya tahun depan bisa mencapai suatu tujuan yang lebih tinggi. Untuk membikin lopak ko ini dibutuhkan kesabaran extra. Sudah bisa dipastikan seharian berkutat dengan wajan, sotil dan sebagainya. Bahkan mungkin hingga larut malam. Sabtu lalu, aku baru bisa beristirahat lewat tengah malam dan paginya pun aku masih mbangkong. He he....


Aneka pernak pernik khas imlek
Hari minggu lalu dan minggu kemarin, aku sengaja liburan dengan ndlesep-ndlesep di pasar tradisional untuk mencari objek gambar yang menarik. Di Wan Chai, North Point hingga Mongkok, aku membaurkan diri untuk sekedar mengamati keramaian dan persiapan orang-orang Hong Kong untuk merayakan imlek. Tak beda jauh dengan tradisi orang Indonesia. Lazimnya orang Hong Kong pun akan menyerbu toko baju yang sudah pasti ada diskon besar-besaran. Dan mereka juga gila-gilaan membelanjkan uang. Mereka akan memakai semua yang serba baru, dari baju hingga sepatu dan aksesoris lainnya. Bahkan sebagian orang Hong Kong juga akan mengganti perabotan rumah. Membuang yang lama dan menggantikannya dengan yang baru walau pun belum rusak.


Ada satu mitos yang dipercaya hingga sekarang, yaitu sesuatu yang berwarna merah. Misalkan saja, siapa pun yang memakai pakaian dalam berwarna merah, maka keberuntungan akan mengikutinya. Yang dimaksud keberuntungan adalah akan mendapat angpao/red pocket lebih banyak. Aku tersenyum saja, ketika nyonya memaksaku memakai CD dan Bra berwarna merah. Dalam hatiku aku bergumam, dari mana aku bisa dapat angpao lebih banyak, kalau aku hanya tinggal di rumah atau liburan bersama teman-teman BMI yang lain. Dulu, aku pernah punya pengalaman dapat angpao separuh dari gajiku sebulan, karena aku ikut keluarga besar yang tinggal bersama orang tua/kakek nenek yang biasanya akan banyak tamu berdatangan. Dan setiap tamu yang datang akan memberiku angpao atau lei si. Lha kalau ikut majikanku yang ini, walau aku pakai celana dalam double dan bra merah pun tak akan bertambah lei si-nya. Ha ha ha.... karena kedua majikan ku ini bukan anak mbarep semua. Jadi ketika tahun baru, mereka lah yang mengungsi ke rumah orangtuanya. So, rumah ini ga bakal ada tamu datang. Jiahhhh....
Beberapa perempuan sedang hunting "keberuntungan" he he..


Ada beberapa tradisi yang tak boleh dilanggar di hari pertama tahun baru China.  Di mulai dari malam tahun baru, satu jam sebelumnya harus segera mandi dengan air yang telah dicampur beberapa daun ilalang dan daun entah apa namanya (menurutku daun itu adalah daun jeruk bali), untuk membuang sial. Aku pun harus ikut-ikutan mandi dengan air tersebut dan aku tak boleh menolaknya. Tetapi tak mengapa kalau tujuannya baik, toh juga bukan sesuatu yang merugikanku. Dan pada pagi hari, tidak boleh menyapu lantai, tidak boleh mencuci baju dan harus makan vegetarian food sebagai makanan pembuka atau sarapan.  Kalau nekad melanggar, kata nyonyaku, keberuntungan tidak akan berpihak selama satu tahun ke depan.  Masih banyak tradisi unik dan menarik seputar perayaan tahun baru China. Tradisi adalah sebuah tradisi, boleh percaya boleh tidak. Entahlah....


Hari ini hari pertama tahun baru China, Hong Kong benar-benar beku. Cuaca amat sangat dingin mencapai 7 derajat. Nah! ini pun menjadi salah satu mitos keberuntungan. Katanya kalau pas imlek tidak disertai gerimis dan cuaca dingin, maka itu pun masuk kategori tidak beruntung. Jiahhhh...semua kok dijadikan mitos ya? ada-ada saja...
Berhubung cuaca amat sangat dingin, aku memilih mlungker saja di rumah dan ber-hah...hihi...di depan kotak ajaib. Ya wis, untuk kawan-kawan yang di Hong Kong saya mengucapkan Kong Xie Fat Choi, san dhai kin kong, hoi sam-sam taika....jangan lupa pakai celana dalam dan bra merah, biar dapat banyak angpao-nya yak..hehe..
Kalau liburan di luar rumah, pakai jaket yang cukup ya. Jaga kondisi badan, jangan pulang malam-malam.

17 January 2012

Komunikasi Masih Menjadi Kendala BMI HK (New Comer)

Sabtu (14/1) sore, aku bingung mau masak apa buat makan malam. Beruntung nyonya pulang dan bilang ga usah masak. Ku sambut dengan senyum lebar, selebar lapangan Victoria Park. He he he...
Nyonya bilang mau makan malam di rumah mama (mertuanya). Dalam hati aku senang dan membayangkan bisa leha-leha di rumah sendirian.  Sebelum pergi, dia menelpon mertuanya. Saya yang ada di dapur tak begitu jelas mendengar apa yang diomongkan nyonya, sampai akhirnya nyonya menghampiriku.

"Cece, nanti kamu ikut ya!"
"Ga usah, aku di rumah saja."
"Ikutlah, bantu aku menyelesaikan masalah. Mertuaku, darah tingginya kumat gara-gara pembantu baru itu."
Tak banyak tanya, akhirnya aku mengiyakan saja. Biasanya aku selalu menolak untuk ikut. Dan mereka tak pernah memaksa.Kemudian kami mempersiapkan diri, berangkat ke rumah nenek dengan perasaan khawatir. Aku menangkap kegugupan nyonyaku saat dalam perjalanan.

Tiba di rumah nenek, kami melihat ketegangan di sana. Pembantu baru (yang juga baru pertama aku lihat), sibuk menyiapkan makan malam di dapur. Sedangkan nenek duduk di sofa dengan muka masam. Nyonya mendekatiku dan berbisik menyuruhku menggantikan mbaknya yang lagi masak. Aku masuk dapur yang luar biasa sempitnya dan menyapa mbaknya.
"Masak apa mbak?"
Mbaknya yang masih muda, kira-kira berusia 21 tahun dan bernama Ami (aku tahu namanya, ketika nyonya memanggil dia untuk keluar dari dapur dan menyerahkan tugasnya padaku), menjelaskan sebentar kemudian keluar.

Selesai masak, mereka makan bersama sambil ngobrol santai. Aku yang memang tidak pernah makan malam, memilih keluar dan jalan-jalan di bawah apartemen. Karena nenek tidak suka melihat aku ga makan. Tetapi tak seorang pun berhak memaksaku makan. Entah apa yang terjadi selama aku tinggal keluar, satu jam setelah aku naik kembali, semua bermuka masam. Duh!!!

Nyonya memanggilku dan bilang padaku untuk mengajari Ami tentang apa pun (bahasa kantonis dan pekerjaan). Lho kok? Bukan kah dia sudah berpengalaman 2 tahun sebelumnya? Banyak pertanyaan dalam hati dan pikiran. Namun, aku simpan. Sedikit informasi dari nyonya, bahwa Ami terkendala masalah komunikasi dengan nenek. Ami tak paham apa yang diomongkan nenek, pun sebaliknya nenek juga tak paham maksud omongan Ami. Dari sinilah muncul konflik yang berujung misunderstand antara keduanya. Aku mulai paham kenapa nyonya membawaku ke rumah nenek. Kenapa nenek selalu kumat darah tingginya dan sering masuk rumah sakit belakangan ini.

Selama aku ngobrol sebentar dengan nyonya, diam-diam aku memperhatikan gerak tubuh Ami dan juga menyimak komunikasinya dengan nenek. Tersendat memang. Bahkan terkesan keduanya tak suka satu sama lain. Nenek akan lebih banyak ngobrol dan bercanda denganku dibanding dengan Ami yang memang khusus untuk menjaganya. Walau nyonya dan aku berusaha menjadi mediator, nenek tetap keukeuh menegaskan kalau dia tidak suka Ami. Ketika obrolan sedikit cair, aku dan nyonya berusaha memasukkan karakter Ami. Ajaib! Nenek dengan lancar mengeluh di depan kami. Dia bilang kalau Ami selalu pok choi atau membantah . Saat itu juga, kami konfirmasikan ke Ami, apa benar yang dikeluhkan nenek. Dan Ami pun membantah tidak.

Beberapa saat suasana kembali menegang. Nyonya pun sedikit terbawa emosi. Aku isyaratkan untuk rileks supaya tidak menambah runyam suasana. Nyonya menurut, menarik nafas berat sambil berlalu ke dapur mengambil air minum. Aku kemudian bertanya pada Ami, apakah dia benar-benar paham dengan apa yang diomongkan nenek atau pun nyonyaku ketika dia diajak ngobrol. Serta merta dia menjawab TIDAK. Oh, ternyata.....

Aku menyuruh nyonya untuk bertanya atau menyuruh Ami mengerjakan sesuatu. Nyonya kemudian meminta Ami mengambil lap kering. Tergesa dan dengan berlalu begitu saja tanpa menunggu nyonyaku selesai ngomong, Ami ke dapur. Kami menunggu di meja makan. Karena lama tak muncul, nyonya memanggil Ami keluar. Giliran aku bertanya," Ami, kamu ngerti ga, nyonya tadi ngomong apa?"
"Tidak mbak!"
"Lalu, kalau kamu ga ngerti kenapa kamu beranjak pergi? Kenapa kamu ga bilang saja belum paham?"
"Aku takut dimarahi! Dulu aku sering di marahi majikan yang lama ketika aku bekerja tidak cepat dan salah."
"Ami, kalau kamu ga tahu sebaiknya kamu bertanya dan mereka tidak akan marah. Tetapi, kalau kamu tidak tahu dan berpura-pura tahu, mereka malah akan marah. Kamu ga usah takut. Kamu harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Setiap keluarga itu punya kebiasaan yang berbeda."
"Iya mbak."

Kami bertiga (Aku, Nyonya, Ami) ngobrol panjang lebar. Peranku hanya men-translate obrolan Nyonya dan Ami. Selesai ngobrol dengan Ami, aku dan nyonya kemudian ngobrol dengan nenek. Dan juga panjang x lebar. Akhirnya kedua pihak paham dan  mengerti. Nenek mau mengerti kekurangan dan kelebihan Ami. Begitu pun Ami mau memahami nenek. Nenek dan Ami pun saling bersalaman. Berjanji saling mengerti dan memahami. Clear and deal!!

Kepalaku menoleh ke arah jam dinding. Wadauwww...jam 11 malam.Gila! mana rumahku jauh lagi. Rumah nenek masih berantakan, mangkok belum dicuci, lantai belum dipel. Nyonya ku paham, dia beranjak mengambil sapu kemudian menyapu sekaligus mengepel lantai. Sedang kan aku mencuci mangkok di dapur. Ami membantu nenek minum obat. Karena rumahnya yang kecil maka dalam sekejab pekerjaan selesai. Aku dan nyonya serta anak-anak berkemas untuk pulang ke rumah. Meninggalkan rumah nenek sudah lewat tengah malam.

Di tengah jalan, tiba-tiba nyonya berseru,"kita makan ice cream berempat yukkkk.....sambil me-rileks-kan otot sebentar."
"Aku ga ikut." jawabku spontan. Gila aja, dinginnya kaya es masih mau makan es krim.
"Ikutlah, enak lhoh...this is very famous place you know." Nyonya merayu dan kedua momonganku pun menambahi,"Cece, ada es krim rasa kopi, pasti kamu suka." sambil menarik-narik tanganku.
Akhirnya aku mengalah, makan es krim semangkok berempat. Selesai makan es krim, kami pulang. Nyampe rumah hampir jam 1.30 dini hari. Edyan! batinku. Bergegas aku mandi, kemudian  masuk kamar, karena kecape'an, wis  langsung bleg sek. Zzzzzz....zzzz....

05 January 2012

KECEWA yang berbuah MANIS

Tadi pagi, begitu melek byar, aku melihat duit di samping kiriku di atas komputer. Rupanya nyonya, diam-diam meletakkan duit gajianku di atas komputer. Tidak hanya duit gajian tapi juga lengkap dengan kalender 2012. Begitu melihat warnanya, wowww.....kesukaanku, ijooooooo.....
Wis, mataku langsung melek byar weruh duit, tambah ijo pisan weruh rupa ijo....ha ha...komplit..plit...
Rasa amarah semalam, langsung menguap. he he....
(Mungkin Nyonya sedang menghiburku untuk menebus rasa bersalahnya.)

Keluar dari kamar, bukannya ke kamar mandi trus gosok gigi tapi melongok kamar momonganku. Dua-duanya masih tidur nyenyak. Aku mencari nyonya yang telah bangun lebih awal. Tak ku temukan dia, entah di mana. Aku longok setiap sudut kamar sampai dapur, tak ada juga. Jogging, mungkin saja, pikirku. Maka, aku pun ke kamar mandi. Begitu keluar, ku dapati nyonya kemluthik bikin kopi. Untuknya dan untukku juga. ehmmm....betapa baik hatinya nyonya ku ini, kataku dalam hati. (Dan ini salah satu alasan, kenapa aku mau menandatangani kontrak lagi dengannya 2 hari  yang lalu.)

Sambil meringis, aku menyapa dia sebiasa mungkin dengan menekan rasa mangkel di dada," Cou san! Nyonya, yang di atas komputer itu duit buatku yah?"
"Iya. So mui....nih, kopimu cepet diminum!"
"He he he....tengkiyu  untuk gaji dan kopinya ya nyah..." tersenyum, sambil lalu.
Tiga langkah meninggalkanku, nyonya balik lagi dan memelukku sambil berucap," Yani, maafkan aku ya, semalam memarahimu. Aku lagi stress banget sampai aku pun tak bisa tidur dengan tenang. Maka, pagi ini aku bangun lebih awal darimu. Kamu memaafkan aku kan?"
Aku mengangguk tanpa kata. Ya, sudahlah. Toh, nyonya juga sudah minta maaf. Dan itu yang aku suka dari nyonya, dia tak segan meminta maaf padaku atau pada siapa saja. Jujur saja aku kecewa dengan sikap nyonya semalam, malah boleh dibilang aku nggondok banget. Bagaimana tidak? nyonya tiba-tiba saja ngamuk tanpa sebab padaku dan terjadi di tengah malam. Tentu, aku pun ingin melampiaskan balik amarahku padanya. Karena aku juga manusia biasa yang punya emosi tapi aku tak mampu melakukannya. Dia terlalu baik untuk ku sakiti. Maka, aku pun melawan hatiku sendiri dan meluapkan amarah dalam tangis semalam. Selalu begitu. Huhhhh!!!

Pagi ini begitu beku karena suhu udara mencapai 8 derajat celcius, hingga kopi panas pun tak terasa. Segera ku reguk habis secangkir kopiku. Menengok jam, melesat ke kamar Sailo, membangunkannya. Beberapa menit kemudian, siap berangkat ke sekolah. Tak seperti biasa, nyonyaku nginthil mengantarkan sailo sampai gerbang sekolah. Mencium, memeluknya, membisikkan sesuatu," Sailo, mommy fan kung. Lei kwai la ha, deng cece hwa. Mo yai-yai. Cece hou sek lei a.Yu guo emhai, cece cau ka lah. Okey, bye-bye...see you tonight.
Sailo mengangguk lalu beralih memelukku seraya berkata," bye-bye cece...." kemudian berlari masuk.

Dalam perjalanan sekembalinya dari sekolah Sailo, aku dan nyonya diam tak banyak kata. Sampai di persimpangan jalan, sebelum say good bye, nyonya bertanya," Cece, lei mo ye le ma?" 
Aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Take it easy, okey! see you tonight. Bye-bye...." Nyonya melambaikan tangan sambil berlalu pergi.

Aku terpaku memandangi nyonya di ujung jalan sampai dia menghilang. Dalam hati aku bersyukur, betapa beruntungnya aku memiliki majikan yang baik hati. Sedangkan banyak teman BMI yang terlunta-lunta karena memiliki majikan yang jahat. Berdoa yang terbaik untuk kawan-kawanku semua. Semoga selalu sabar dan tawakal. Dulu aku juga pernah tertindas tapi percayalah di balik kekecewaan pasti ada moment manis suatu hari nanti. Tetap semangat!

Aku berjalan pulang, ngopi lagi sambil pesbukan sebentar. Ya, wis saiki ngepel sik ya........



Cou san : Selamat Pagi
So mui :
Sai Lo : Panggilan kepada anak laki-laki kecil seperti dalam bahasa jawa thole
Sai lo, mummy fankung, lei kwai la ha, deng cece hwa. Mo yai-yai, Cece hou sek lei a.Yu guo emhai cece cau ka lah : Adik kecil, mami kerja, kamu jadilah anak pintar, dengarkan kata-kata mbak. Jangan nakal, mbak sayang kamu, kalau kamu nakal, mbak akan pergi (pulang).
Cece, lei mo ye le ma? : Mbak, kamu baik-baik saja kan?



23 December 2011

Untukmu Yang Di sana


Dalam pekat malam bayanganmu selalu hadir
Menjelma bersama semilir angin yang sejuk membelai
Aku merasakan damainya dekapmu
Lembutnya belaian tangan kasihmu

Dalam pekat malam bayanganmu selalu hadir
Mengajakku kembali mengenang tentangmu
Tentang kasihmu yang tulus  
Yang belum sempat terbalas olehku

Malam ini dadaku sesak oleh rasa rindu
Rindu ingin bertemu
Hingga mataku sembab tanpa terasa
Kehilanganmu teramat menyakitkan

Kutatap langit malam yang bertaburan bintang
Ku biaskan rasa rindu ini pada langit
Berharap kerlip bintang yang sama berpendar
Seperti pendar bintang di atas rumah kita dulu

Bila mungkin, malam ini aku ingin memberimu sekuntum mawar
Walau pun hanya meletakkan di batu nisanmu
Aku ingin mengucapkan selamat hari ibu
Aku akan mengenangmu hingga akhir hayatku

Terima kasih ibu….
Maafkan anakmu….

02 December 2011

Kalau memang harus menangis, menangislah....

Suatu ketika, adikku mempostingkan pesannya di dinding Facebook-ku. "Mbak, telpon ke rumah...." begitu pesannya. Setengah jam kemudian, baru aku tau pesan itu. Tanpa menunggu, aku langsung telpon karena aku yakin pasti ada sesuatu yang penting.

"Ada apa?" tanyaku begitu telpon diangkat.

Ku dengar isak di seberang sana. Makin penasaran, ku ulangi pertanyaanku, "ada apa?"
"Aku ga betah di rumah!" jawabnya di antara tangisnya.
"Lho? ada apa ta ndhuk?"
"Aku sakit hati mbak!"
"Dengan? putus cinta lagi?" tebakku.
"Bukan!"
"Trus?"
"Pokok e aku ora betah!"

Lhadalah, kalau sudah begitu aku hanya bisa nuturi. Aku mengerti, dia masih terlalu muda untuk menghadapi situasi yang tidak pernah dia duga. Aku tau dan bisa merasakan apa yang dia rasa. Tertekan!
Sepeninggalan ibu, aku dan dia memang seperti anak ayam kehilangan induk. Aku mengerti. Jangankan dia yang masih muda, aku yang sudah tua ini saja sik mbok-mbok en je.


"Memang abuot rasane. Tapi, harus bagaimana lagi. Hidup harus tetap berjalan, tak mungkin kita meratap terus-terusan. Belajarlah dewasa dan mandiri. Aku hanya bisa memantaumu dari jauh. Tegarlah! Kalau kamu memang sudah ndak kuat dan ingin menangis, menangislah....."

Tersenyumlah ndhuk.....
Suatu saat, kita pasti bisa bersama dan berkumpul kembali....

...Akibat Usil....

Semalam, tanganku terlalu usil, klik sana klik sini. Walhasil, ter-remove semua (ih, masih tersisa satu ding..) tulisan di blog ini. Getun? pastinya. Sumpah Indonesia raya aku menyesal! Sampai pagi tiba, kepalaku penuh terisi pertanyaan "kenapa dan mengapa?"
Tapi ndak seharusnya getun itu, walau nasi telah berubah menjadi bubur. Wong bubur aja kalau diolah lagi dan dikasihh ini itu tambah huenak kok, ya toh?

"Duh!...piye to jane mau bengi kuwi critane?"

Jujur, aku sendiri lupa (sebegitu pikunnya kah aku?). Yang ku ingat, dengan sedikit gusar aku menghapus apa-apa yang tertulis di sini. Jangan tanya "kenapa" karena aku sendiri ga tau jawabannya. (Bego ya? hi hi..)

Yo wis ra pa-pa lah....nulis maning bae, daripada pusing. Tapi, kenangan itu....terlalu indah untuk dilupakan namun terlalu sakit untuk diingat juga.

Walah....embuh lah...

01 December 2011

....Ndak Ahik Blas Ih...

Desember
Awal bulan angin kencang bertiup
Hawa dingin menyergap

Wahai angin
Sampaikan salam rinduku padanya
Di sini hatiku riuh berbicara
Aku rindu padanya

30 November 2011

Rindu #Simbok#

Tuhan...
Aku rindu ibu
Kapan bisa bertemu

Tuhan...
Aku rindu ingin bertemu dengan-Mu
Kapan tiba waktuku

28 November 2011

Nyonya...Izinkan Aku Pulang...


Aku menengok jam dinding, ketika baru saja aku menyelesaikan pekerjaan terakhirku, mengepel lantai. Jam 10 malam, oh, sudah larut malam rupanya. Setelah benar-benar beres, bergegas aku menuju kamar untuk sejenak melepas penat. Saat berada di kamar sendirian, pikiranku mengembara pulang ke rumah. Serasa jiwaku ada di sana. Membayangkan betapa Ponorogo ramai dengan hiruk pikuknya manusia. Menjelang perayaan grebeg suro, Ponorogo selalu penuh sesak. Perayaan grebeg suro yang memang sudah menjadi tradisi dan berbagai ritual digelar di kota itu. Untuk tahun ini, konon katanya memakan biaya yang tidak sedikit. Ada yang bilang tentang kisaran biaya untuk perayaan grebeg suro kali ini yaitu 1,2 Milyar. Wow, angka yang fantastis menurutku. Ah, entahlah…toh bukan urusanku. Aku hanya kangen dengan kota kelahiranku itu dan keluargaku tentu saja.

Sungguh! aku ingin pulang saat ini. Begitu asyiknya aku dengan pengembaraanku, sampai aku tak menyadari kehadiran momonganku yang kecil. Aku terkejut saat dia tiba-tiba memelukku dan berkata,”Cece…kamu jangan pulang ya,” pintanya tanpa memandangku. Aku melirik bocah ini sekilas. Dengan wajah innocent-nya, dia mampu meluruhkan hatiku.

“Tapi aku ingin pulang untuk menengok keluargaku,” jawabku kemudian.

“Aku ga mau kamu tinggal, aku ingin kamu tetap di sini, mengantar jemput aku sekolah, bermain bersama dan selalu bersama,” ujarnya memohon.

Aku diam dan membiarkan dia bermain-main di ranjangku. Rasanya ada berton-ton beban di kepalaku. Antara rumah dan tanggung jawab pekerjaanku. Seandainya aku punya sayap, ah…aku selalu berandai-andai. Ku raih kotak ajaib dan menyalakannya. Beberapa menit kemudian, aku mulai tenggelam dengan duniaku sendiri.

Tiba-tiba sailo (momonganku) berteriak nyaring di sampingku,” mamiiiiiiii…….”
Tergopoh-gopoh nyonya menyerobot masuk ke kamarku yang pintunya tertutup separuh. Melongok kami berdua yang nangkring di ranjang. Aku asyik dengan kotak ajaibku dan sailo asyik dengan mainannya. Aku menoleh ke sailo lalu beralih ke nyonya yang berdiri dengan wajah penuh tanda tanya.

“Ada apa?” tanyanya sambil memandangi kami berdua bergantian.

“Mami, tolong bilang sama cece, jangan pulang sekarang,” jawab sailo.
Nyonya memandangku dan beranjak duduk di sampingku, lalu hati-hati dia berkata,”Yani, aku tau kamu sudah merindukan kampung halamanmu sana. Aku tahu betapa kamu merindukan putrimu dan aku tahu betapa sulitnya kamu memendam semua rasa rindu itu. Aku bisa merasakan dan aku mengerti.”

“Jadi aku boleh pulang?” sergapku penuh harap.

“Bukan aku tak mengizinkanmu pulang bertemu keluargamu, bukan pula aku tak percaya padamu, aku percaya kamu pasti kembali. Tetapi, mengertilah. Aku mohon padamu, aku masih belum bisa mengizinkanmu pulang dalam waktu dekat ini. Kamu lihat sendiri kan, suamiku baru saja pindah kerja ke Macau dan itu artinya kita, aku dan kamu harus menjaga rumah dan anak-anakku. Aku tak sanggup kamu tinggal sendiri. Bayangkan, aku akan kewalahan mengurus mereka berdua sementara aku sendiri juga harus bekerja. Aku mohon pengertianmu."

“Nyonya…aku ingin menengok anakku, aku ingin tahu keadaan rumahku sepeninggalan ibuku. Aku ingin tahu di mana makam ibuku. Kamu juga tahu saat aku mendapat kabar kepergian ibuku. Aku sangat kehilangan, terpuruk dan sampai pekerjaanku pun amburadul waktu itu. Betapa durhakanya aku kalau sampai saat ini aku belum tahu di mana makam ibuku. Saat beliau sakit pun aku tak bisa mendampinginya. Hingga ajal menjemputnya, aku tetap tak ada di sampingnya,” cerocosku tak tertahankan di antara isakku.

“Yani, aku tahu apa yang kamu rasakan, tapi apa boleh buat? Aku tahu ibumu adalah spirit hidupmu. Beliaulah yang selalu menyemangatimu tiada henti, iya kan? Aku bisa merasakan semua itu, karena aku juga pernah kehilangan ibu. Sebenarnya aku pun tak ingin melakukan ini padamu. Aku sangat bersedih tak bisa mengizinkanmu pulang. Percayalah kami semua sayang padamu dan keluargamu. Kami berdoa untuk kebaikan dan kesehatan keluargamu di kampung halaman sana. Bila saatnya tiba nanti, puaskanlah bercengkerama dengan mereka. Tapi sekali lagi aku mohon maaf, aku tak bisa mengizinkanmu dalam waktu dekat ini,” nyonya masih saja berusaha membujukku.

“Nyonya, aku pulang hanya sebentar, hanya satu bulan. Dan itu tak sebanding jika aku harus meninggalkan keluargaku selama 2 tahun. Selama ini aku selalu berusaha mengabulkan permintaanmu dan menuruti semua keinginanmu bukan semata demi uang, tapi karena tanggung jawab pekerjaan yang kau bebankan padaku. Dan kini aku punya satu keinginan. Please...izinkan aku pulang.”

Nyonya mendesah berat, aku tahu dia pun bingung. Antara iya dan tidak. Kami tenggelam dengan perasaan masing-masing. Sementara momonganku tetap dalam pangkuanku dan memelukku dengan erat. Seakan tak mau berpisah denganku. Setelah terdiam beberapa saat, nyonya meraih sailo dari pangkuanku dan beranjak keluar. Sebelum benar-benar menutup pintu nyonya kembali berkata,” Sudahlah, malam telah larut. Kamu mandi dan istirahat. Jangan terlalu banyak pikiran dulu. Kita bicarakan lagi lain kali. Ok?”

Sepeninggalan nyonya, aku pun termenung sendiri di kamar. Dan rasa rindu akan kampung halamanku, kian membuat sesak nafasku. Kalau sudah begitu, apa yang bisa aku lakukan selain meneteskan air mata. Dan ini konsekuensi yang harus aku terima. Untuk pulang ke rumah sendiri saja begitu sulitnya. Oh Tuhan, aku ingin pulang, meski hanya sejenak....


Fanling, 26 November 2011