Search This Blog

11 December 2018

Pulang

Cuaca di Hong Kong makin tak menentu sama seperti cuaca hatiku. Dari hari ke hari aku seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Kehilangan arah, tak tahu harus kemana melangkah. Ah, entahlah....
Aku sedang bingung membuat keputusan. Sebuah keputusan yang tak mudah, ketika berada di titik nol. Semua serba membingungkan. Hidup memang penuh liku-liku, seperti jalan setapak di sebuah pegunungan yang penuh tanjakan yang mengharuskan kita merangkak dan memanjat tapi kemudian harus turun drastis dan berkelok-kelok seperti sebuah roller coster yang memacu andrenalin. Semua terasa berat namun ada kalanya disaat beada di tempat yang "berbahaya" pun aku menikmatinya. Semua indah jika kita benar-benar bisa menikmati situasi apapun itu. Begitulah manusia! Kadang sungguh menyebalkan!

Hari ini cuaca cukup cerah. Untuk menghilangkan suntuk, aku pergi hiking ke sebuah pulau kecil bagian Hong Kong. Aku belum pernah kesana sebelumnya dan merasa takjub ketika berada di sana. Sungguh indah, hutan pinus yang rindang dan hijau di kelilingi hamparan laut yang luas, langit biru dihiasi gumpalan awan putih membuatku betah berlama-lama walau aku sendirian. Aku duduk di sana memandang hamparan laut yang luas, mendengarkan debur ombak yang terdengar syahdu di telingaku. Dikeheningan dan semilir angin hutan pinus, anganku bekecamuk. Otak dan hatiku bertengkar dahsyat. Aku hanya terdiam dan sesekali berbisik lirih,"Tuhan...saya capek! please give me a break!"

Aku masih terdiam tapi hatiku riuh berbicara. Sebuah pertanyaan muncul di kepalaku,"inikah saat yang tepat?" Keputusan pulang ke Indonesia bukanlah hal mudah. Ada sebuah ketakutan yang akan memhantui dan membayangi kemanapun kaki melangkah.

Pulang, bukan perkara mudah ketika separuh hidupmu, kamu berada di negeri orang. Akan banyak pertanyaan dibenak kita. "Bisakah aku hidup di Indonesia?" "Apa yang bisa aku lakukan di Indonesia?" Dan masih banyak pertanyaan lain.
Tapi aku memang sudah merasa jengah hidup di Hong Kong. Saat aku kembali menoleh masa lalu, damn....why am i stuck here? I have to get out from this comfort zone! Harus!!

Entah mengapa tiba-tiba air mataku meleleh. Oh Tuhan, kenapa aku harus menangis? Tidak! aku tak boleh cengeng. Jika memang keputusan itu harusku ambil, semoga itu menjadi yang terbaik. Tuhan, kuatkan aku!
Aku tergugu pilu, meluapkan dan menumpahkan segala rasa pada alam semesta. Hatiku berkecamuk, aku terdiam, aku menangis.

Sayup-sayup aku mendengar seseorang berteriak lewat pengeras suara, rupanya aku tertidur. Aku belum sadar sepenuhnya, aku melihat jam tangan dan fuck! jam 3.30 sore. Aku bergegas membereskan ranselku. Aku tak mau terlambat sampai dermaga karena jam 4 tepat, ferry itu akan membawaku kembali ke Hong Kong. Walau itu bukan ferry terakhir tapi aku tak mau terlalu malam pulang. Setengah berlari aku menuju dermaga. Sambil ngos-ngosan aku masuk dalam antrian dan akhirnya melompat ke dalam ferry deck atas karena aku masih ingin menikmati hamparan laut yang biru dan melanjutkan mimpi.

Akhirnya setelah 45 menit terkatung-katung di atas ferry, aku sampai di hiruk pikuknya Hong Kong. Hari mulai gelap, lampu-lampu dari gedung pencakar langit mulai tampak kerlap kerlip menambah semarak suasana Hong Kong. Langkah kakiku terasa ringan menuju menuju halte bus. Aku menunggu bis yang akan membawaku pulang. Ya, keputusan itu telah aku ambil. Aku pulang! Aku harus pulang. Indonesia tunggu aku, i am comingggggg home!!!...



Fanling, 25 October 2017

26 December 2015

Simbok


Belakangan ini, simbokku sering banget datang dalam mimpi. Kata orang-orang, kalau mimpi didatangi orang yag sudah meningggal, artinya orang tersebut minta dikirimi doa. Tapi aku pikir bukan hanya masalah minta dikirimi doa, karena mendoakan orang tua sudah menjadi wajib bagi anak-anaknya. Aku memang sedang merindukan sosok simbokku dan bukan karena hari ibu. Mungkin hanya moment-nya saja yang bertepatan dengan hari ibu. Aku merasa masih bisa "berkomunikasi" dengan simbokku lewat mimpi. Entahlah, tetapi itu yang aku rasakan. Semua orang punya caranya sendiri untuk selalu merasa dekat dengan orang yang dicintainya. 

Mungkin ada yang bisa merasakan apa yang aku rasakan ketika kehilangan seorang ibu. Jujur aku belum pernah bisa membahagiakan beliau semasa hidupnya. Malah simbokku yang selalu berusaha membuatku tersenyum ketika beban hidup menghampiriku. Simbok yang selalu menguatkan aku untuk selalu berdiri tegak. Sepertinya hidupku lebih berat ketimbang simbok yang telah lama menjalani semua fase hidup dibandingkan aku. Simbok selalu ada buatku. Ketika cobaan hidup menerpaku, simbok ada disana, untukku. 

Tak ada yang lebih menyakitkan di dunia ini selain kehilangan Simbok untuk selama-lamanya. Saat mendengar kabar Simbok meninggal, dunia terasa runtuh. Aku limbung, aku ingin menangis tapi tak satu bulir pun air mata menetes. Aku ingin berteriak, namun suaraku tersekat di kerongkongan. Aku tak tahu harus bagaimana. Seolah jiwaku pergi bersama Simbok. Aku hanya terduduk lemas tak berdaya.

Baru ketika malam tiba, aku bisa menangis meraung-raung menumpahkan segala sesak di dada. Amarah, benci, kerinduan, cinta, kesedihan tertumpah dalam tangisku malam itu. "Kenapa saat ini ya Allah? Kenapa harus sekarang? Kenapa harus aku yang harus menerima cobaan ini?" sejuta tanyaku dalam hati. 

Sampai saat ini aku masih sangat merindukan simbokku dan apa yang bisa kulakukan selain menangis? Aku hanya bisa berdoa dan mendoakan semoga Simbok bahagia di sisi-Nya. Kalau itu memang yang terbaik, aku harus ikhlas. Ya Allah, muliakan simbokku di sisi-Mu. Amin


22 November 2014

Aku Tetap Mencintaimu

Menjadi ibu kemudian meninggalkanmu, itu sama sekali bukan mauku. Kalau pun sekarang kamu membenci ibu, ibu ikhlas . Kamu terlahir sebagai perempuan, suatu hari kelak kamu akan merasakan menjadi ibu. Dan kamu akan tahu bagaimana rasanya seorang ibu yang jauh dari buah hatinya. Sumpah, ibu tidak pernah melupakanmu walaupun satu detik saja. Kalau banyak orang yang bilang padamu bahwa ibu melupakanmu, ibu maklum karena mereka tidak pernah mengenal ibu secara utuh. Ibu tahu, sekarang kamu belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kalau sekarang ibu terkesan "melepaskanmu" bukan berarti ibu sudah tidak menyayangi dan melupakanmu. Ibu melakukan itu demi kebaikan kita. Ibu tak mau rebutan dengan siapapun yang bisa mengganggu perkembanganmu. Sejauh kamu bahagia, ibu turut bahagia karena kebahagiaanmu adalah yang utama. 

Kalau ibu terlihat "bahagia" sekarang ini, mungkin karena rasa ikhlas itu. Ibu tahu banyak orang di sekitarmu yang berusaha "mencuci otakmu" dan "meracunimu" bahwa seakan-akan ibu melupakanmu. Ndak papa nak, iyakan saja untuk menyenangkan hati mereka. Sekali lagi, ibu percaya ketika kelak kamu dewasa, kamu akan paham segalanya. Ibu tidak sedang mengingatkanmu untuk membalas jasa karena ibu telah melahirkanmu. Tidak!! itu bukan tujuan ibu. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa ibu tak pernah melupakanmu, itu saja tak lebih. Karena ibu tahu, melahirkan adalah kodrat perempuan yang suatu hari nanti kamu pun akan menjalani kodrat itu.

Bulan agustus lalu, saat ibu pulang dan menjemputmu ibu masih ingat ceritamu dengan wajah takut-takut. Hari pertama, ibu tahu kamu masih ragu untuk mengungkapkan apa yang ada di hatimu dan ibu tak pernah memaksamu untuk bercerita. Ibu biarkan kamu melakukan apa pun yang kamu mau. Hari kedua, kamu sudah merasa ibu bukan "orang lain" dan kamu mulai bermanja-manja. Ibu suka itu, karena ibu pun merasa menemukan anaknya yang telah lama "hilang". Kamu mulai bercerita ini itu tanpa sedikitpun keraguan. Ibu menyimak dengan serius, candaan dan kadang juga "mem-bully" mu [maafkan ibu nak, ibu hanya tidak ingin kehilangan moments saat itu]. Kamu bercerita yang masih ibu simpan di memori sampai sekarang. Bagaimana mereka berusaha "menjatuhkan" ibu di hadapanmu. Bagaimana "racun-racun" itu berusaha dimasukkan alam bawah sadarmu. Ibu hanya tersenyum saja mendengar itu. 

Ya!! ibu memang bukan ibu yang baik buatmu. Ibu tak pernah ada ketika kamu butuhkan. Jadi kamu tak perlu merasa harus balas jasa karena ibu melahirkanmu. Tapi percayalah ibu melakukan itu bukan suatu kesengajaan atau tanpa alasan. Ketika dewasa kamu akan mengerti semua. Hanya menunggu waktu saja. Sekarang nikmati yang ada di depanmu. Berusahalah untuk selalu bahagia, karena bahagiamu adalah bahagia ibu juga. 

Anakku, percayalah ibu masih menyayangi sampai detik ini. Posisimu di hati ibu belum tergantikan oleh siapa pun. You're still my beloved one and the only one for me. 




Dedicated for my beloved one Syalsa 
[22 November 2014, Fanling, Hong Kong]

09 July 2013

Kisah Nyata TKW Hong Kong


Pagi yang indah seindah mentari di ufuk timur yang sedang tersenyum menyapa bumi. Kuayunkan langkah di jalanan Hong Kong yang padat, di antara orang-orang yang berjalan dengan tergesa-gesa. Aku berjalan menuju sebuah halte bis di ujung jalan. Begitu sampai, ternyata antrian panjang sudah terjejer rapi di sana. Beberapa menit kemudian bis yang di tunggu-tunggu datang. Satu persatu para penumpang naik. Sengaja aku memilih bangku dekat jendela biar puas memandang alam. Di sebelahku, duduk seorang mbak dengan dandanan tomboy yang asyik masyuk nggedebus di ponselnya.
"Iya, sekarang aku dah naik bis ini," ucapnya dengan lawan bicara di ujung telpon itu.
"Engko nek ngomong piye?" lanjutnya dengan logat jawa yang khas.
Aku diam dan asyik dengan duniaku sendiri, sehingga tak sempat lagi mendengar pembicaraan mbak di sebelahku. Terkadang aku tersenyum sendiri. "Gilakah aku?"

Setelah melewati beberapa halte bis, aku baru tersadar dari lamunan dan saat itulah aku menangkap gelagat aneh dari mbak yang duduk di sebelahku tadi. Dia tampak gelisah, entah apa yang ada di benaknya. Sebentar-sebentar dia garuk kepalanya yang mungkin tidak gatal itu. Aku hanya diam sambil melirik segala tingkahnya sambil bertanya-tanya dalam hatiku,"ada apa dengan mbak ini?"...

Sampai pada akhirnya, aku baru tahu apa yang membuat dia gelisah setelah dengan gugup dia berdiri dan menyeru pada pak sopir untuk menghentikan bis "Eh, pak-pak berhenti lok che (turun)". Tanpa sadar dia berbahasa indonesia sedangkan sopir yang tak paham bahasa Indonesia itu dengan mendadak dengan mata melotot menghentikan bisnya. Seketika itu juga meledaklah tawaku. Sambil ku pegangi perutku aku dan juga mbak itu turun dari bis. Dengan tatapan aneh dia bertanya padaku,"Orang indonesia?"
"He eh, mbak..." jawabku.
"Tak pikir wong Filipina mbak, tahu gitu tadi aku diam saja nunggu mbak yang kasih komando pada sopir bis," cerocosnya.
"Eh, kok tadi mbak tertawa sampai ngakak gitu, ada apa ya?"dengan polos dia kembali bertanya.
"Mbak sadar ga kalau ada di Hong Kong?" aku balik bertanya.
"Sadarlah, emang kenapa?" Mbaknya dengan pede nanya kembali dan tampaknya dia belum ngeh dengan apa yang baru saja terjadi.
"Bukankah tadi mbak memanggil "pak" pada sopir bis? memangnya sopir tadi tahu mbaknya ngomong apa? Lagian mbak tinggal pencet tombol di atas kepala sampeyan itu, sopir dah ngerti kok."
Dia berpikir sejenak, baru kemudian tertawa terbahak-bahak mengingat kekonyolannya.
"Oh, iya yah hahahahha....ya maklum mbak aku kan durung isa bahasa kantonis, makasih ya mbak dah diingatkan." ujarnya sambil nggeloyor pergi.
"Dasar bocah gemblung!!!"batinku...
"He..he..he....


Fanling 10 April 2010

22 February 2013

....TEST PACK OH TEST PACK....

"Yu, anu...sing jenengane test kehamilan kuwi neng ndi leh tuku? trus priwe oleh ngomong?" Begitu tiba-tiba sebuah suara menyapaku siang ini di sebuah jalan saat aku mengantar makan siang ke sekolah Sailo (momonganku). Dari jauh aku memang melihat mbak itu tersenyum tapi aku tidak berpikir dia tersenyum padaku. Aku pun cuek saja berjalan melewatinya. Aku yang terburu-buru dikejar waktu, tak menyangka mbak itu akan menarik tanganku.  Aku yang tadinya mau ngomelin dia degan memasang muka galak, jadi tersenyum mendengar logat ngomong dan mimik culun-nya. Pikirku tadi, enak saja main tarik tangan orang. Sambil lalu aku menjawab," kuwi neng Manning apa Watson's kan akeh tho."
"Terke aku tho, Yu...." Rengeknya sambil menarik tanganku lagi.
"Eh, aku telat ini nganterin makan siang Sailo. Tinggal 5 menit lagi,bisa dipecat dengan tidak terhormat aku nanti. Wis ah rana dhewe!" jawabku sambil benar-benar pergi menjauh. Aku memang jarang ngobrol dengan mbak-mbak di bawah rumah. Karena mereka sering rasan-rasan  dan itu yang membuatku ga suka. Aku lebih memilih asyik mendengarkan musik setiap ke pasar atau kemana saja. Atau kalau pun ngobrol seperlunya saja.

Dengan wajah tanpa dosa, dia membuntutiku sampai sekolahnya Sailo. Begitu aku selesai meletakkan lunch box-nya Sailo, dia menggelangdangku menuju Manning. Eh, kampret nih anak, aku membatin lagi. "Emang sapa tho sing meteng? pacaran karo Pakistan tah?" tanyaku sedikit sewot.
"Kancaku sak omah, sak aken. Bocahe ki ora bisa metu, trus aku sing dikongkon. Bocahe iki pacaran karo bocah lanang seka Yuen Long. Trus siki kuwi ceritane sing lanang wis duwe pacar maning. Lha sing iki ya mencak-mencak wong wis telat rong wulan. Wong wedhok ngendi, sing ora lara atine jal?" Dia terus bercerita tanpa aku minta, sambil terus mengapit tanganku. "Sing lanang kuwi wonge terkenal neng pesbuk Yu. Siki sing meteng iki ya kenek kasus utang piutang mbarang." lanjutnya.
"Iki lho photone, trus iki sing meteng kuwi, lah saiki pacare sing lanang kuwi iki..." cerocosnya tiada henti sambil menunjukkan foto mereka satu-satu.
"Sampean iki kok ya gelem dikongkon tuku ngene iki? Ati-ati sampean ya isa kenekan kasus." Aku mengingatkan sambil berusaha melepaskan cengkraman tangannya. Tapi, rupanya dia belum mau melepaskanku.
"Aku mesakke Yu. Eh, aja ngedeni ta Yu. Kasus piye? Wong aku ora melu-melu." Tanyanya mulai ketakutan.
"Lha sampean nek disilihi duit trus bocahe kabur utawa bunuh diri kan ya sampean dhewe sing rugi tho?" jawabku.
" Eh, agih takonke maring pelayane Yu..." pintanya padaku setelah sampai di Manning.
"Lho kok aku tho? sampean kana sing takon."
"Piye leh takon? apa jenengane?"
"Sik tak golekane, aja rame wae." kataku sambil menuju rak obat-obatan. Berhubung Manning dalam renovasi, jadi semua barang tidak pada tempatnya. Entah di mana benda yang sedang kami cari itu.

Dengan tak sabarnya, kemudian mbak ini kembali menggelandangku ke depan kasir sambil berkata," sampean takon wae Yu, ben cepet ketemu."
"Ya wis sampean wae takon." aku balik menyuruhnya. Dengan bahasa kantonis yang patah-patah dia bertanya pada kasir. Ndilalah kersaning ngalah, kasirnya ga begitu ngeh. Terpaksalah aku yang ngomong. Huh....
"She need test pack for pregnancy, where is it?" aku menjelaskan dan bertanya pada pelayan yang dipanggil kasir. Si kasir dengan muka melongo kemudian bilang "sei lah" (mampus, bahasa kasarnya) sebelum menjawab kemudian meminta pelayan menunjukkan pada kami. Aku yang merasa tak enak hati dan malu, menatap atau lebih tepatnya memelototi dengan muka tak bersahabat pada kasir itu. (Kalau ga digituin, biasanya terjadi diskriminasi). Si kasir jadi salah tingkah.

Setelah mendapat apa yang diinginkan, si mbak antri untuk membayar. Aku pun pamit pergi. Mbaknya bilang,"matur nuwun ya Yu, moga-moga gusti Allah membalas kebaikan sampean."
Lhadalah, aku melongo sambil njrunthul ngalih....Duhhhhhh.....


Pesannya : Kalau pacaran hati-hati ya kawan, jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

04 February 2013

Indonesian Worker's Art and Cultural Exhibition (IWACE)

Invitation IWACE
Minggu (27/1) Buruh  Migran Indonesia (BMI) di Hong Kong menggelar pameran seni dan kebudayaan Indonesia di Ho tung Secondary School, Eastern Hospital Road, Causeway Bay, Hong Kong. Acara yang bertema Indonesian Worker's Art and Cultural Exhibition (IWACE) diselenggarakan oleh TCK Learning Centre (TCKLC)  for migrant worker's bertujuan mengenalkan seni dan budaya nusantara ke kancah internasional. Seperti yang disampaikan manager TCKLC Crista Rahayu, " Bahwa IWACE  memberikan wadah kepada BMI dengan segala kreatifitas yang dimiliki dan memberikan karya terbaiknya untuk ditunjukkan ke public".


Audience yang antusias.....
Dengan segala upaya IWACE berusaha menyajikan seni dan kebudayaan Indonesia yang beragam. Beberapa peserta IWACE menampilkan kesenian dari beberapa daerah, seperti menyanyikan lagu Batak, Bengawan Solo dan lagu-lagu khas Indonesia lainnya. Selain lagu daerah, mereka juga menampilkan tari-tarian. Ada Tari Merak, Tari Gambyong, Tari Jaranan dan masih banyak lagi tarian lainnya. Salah satu group peserta menampilkan cerita ketoprak dengan lakon Ande-Ande Lumut yang diselipi isu-isu buruh. Dalam dialog, mereka menggunakan bahasa jawa krama inggil. Satu bukti bahwa mereka tidak melupakan bahasa ibu. Dengan kreatifitas yang mereka miliki, diharapkan bisa memicu BMI lainnya untuk berkarya. IWACE  terbuka untuk semua BMI di Hong Kong baik dari organisasi maupun individu. TCKLC  memberikan wadah dan kesempatan kepada seluruh BMI yang ada di Hong Kong. Merangkul dan mengajak mereka untuk berpartisipasi memeriahkan acara tersebut, dengan syarat menampilkan murni karya BMI mau pun karya yag berbau Indonesia.
Tari Merak oleh Sanggar Budaya Hong Kong

Disela-sela acara, seorang BMI meluncurkan sebuah buku kumpulan beberapa tulisannya yang telah dimuat di beberapa media Hong Kong dan tanah air. Buku yang ditulis oleh Arista Devi berjudul Empat Musim Bauhinia Ungu. Dalam buku yang mengisahkan suka duka kehidupan BMI Hong Kong yang nyata terjadi. Namun kisah tersebut dikemas dalam berbagai cerita sehingga menjadi bacaan yang menarik. Selain launching buku, beberapa peserta pameran juga memajang buah tangan mereka. Di antaranya pernak pernik yang terbuat dari manik-manik, tas yang dibuat dari sampah daur ulang sehingga mejadi sebuah tas yang cantik, bunga yang diukir dari sabun dan masih banyak lagi barang-barang yang dipamerkan. 

Suksesnya acara tak lepas dari tangan dingin seorang bule yang biasa disapa Mas Chris. Pria yang berasal dari United Kingdom (UK) tersebut sangat mencintai budaya Indonesia. Selain sebagai Treasurer/advicer di TCKLC, Mas Chris juga Presiden sebuah lembaga pendidikan Living Values Education (LVE) dengan senang hati membantu/mencarikan link-link yang berhubungan dengan pendidikan/budaya. Dengan harapan BMI Hong Kong menjadi BMI yang cerdas dan mampu menjunjung tinggi kebudayaan Indonesia, serta menanamkan rasa cinta akan nilai-nilai budaya yang dimiliki Indonesia. Beberapa organisasi/individu pun dengan sukarela bahu membahu demi kelancaran acara.

Indonesian Worker's Art and Cultural Exhibition yang diselenggarakan oleh TCKLC kemarin, mendapat dukungan baik dari beberapa pihak. Bentuk dukungan dari Bank Negara Indonesia (BNI) dan Dompet Duafa Hong Kong adalah dengan menjadi sponsor untuk acara tersebut. Lalu kemana Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI)? Menurut Crista, KJRI tidak mau mendukung acara tersebut dengan menolak menjadi salah satu sponsor. Ketika dimintai alasan, pihak KJRI hanya menyampaikan tidak ada alasan apa pun.Sangat disayangkan dengan sikap KJRI yang seharusnya menjadi rumah/tempat bernaung bagi warganya justru terkesan "memusuhi". Tapi itu sudah menjadi rahasia umum.

Di antara tamu non BMI yang datang berkunjung, ada beberapa warga lokal, serombongan mahasiswa UII yang kebetulan sedang melakukan riset di Hong Kong dan mampir ke acara IWACE. Dan juga hadir  Mr Paul O'Connor seorang penulis yang juga Adjunct Assistant Professor Department of Antrophology, The Chinese University of Hong Kong. Penulis buku Islam in Hong Kong : Muslims and everyday life in China's world city tersebut datang bersama istri dan 3 anaknya. Mereka merasa takjub dengan budaya Indonesia. Bahkan menawarkan untuk ikut membantu untuk event selanjutnya. Nah! kalau orang luar saja mengapresiasi seni dan budaya Indonesia, kenapa kita tidak?

So, be ready for the next event on earlier April, See you there....



20 October 2012

Sebuah Kisah

Hong Kong


Awal tahun 2010 akhir bulan Januari, ku jejakkan kembali kaki ini di negerinya sang kungfu master, Jacky Chan. Ketika memutuskan untuk pulang kampung pada tahun 2009 lalu, aku sudah tak ingin kembali lagi ke Hong Kong. Tapi karena persoalan yang datang bertubi-tubi menghampiri, akhirnya membawaku kembali ke negeri beton ini. Tak mudah mengambil keputusan waktu itu, antara iya dan tidak. Satu sisi aku ingin melihat dan mendampingi tumbuh kembang anakku. Namun, disisi lain aku juga butuh biaya hidup. Dan dari mana aku dapatkan biaya hidup kalau aku tidak ada pekerjaan mapan di Indonesia.

Singkat kata aku mendaftarkan diri lagi. Kali ini, seorang teman di Hong Kong membantuku melalui calling visa. Tak sampai sebulan aku mendapat panggilan terbang. Saat itu aku benar-benar bimbang antara berangkat dan tidak. Setelah aku pikir dengan masak dan minta pertimbangan sana sini, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat walau dengan berat hati. Sungguh perih bila mengingat aku yang tak bisa mendampingi tumbuh kembang anakku dimasa kanak-kanaknya. Tapi, sekali lagi apa boleh buat. Mungkin inilah jalanku. Dan inilah jalan yang aku pilih, menjadi buruh migran (kembali).

Masih aku ingat hari itu, kamis malam. Diiringi rintik hujan yang sejak pagi mengguyur bumi, aku berpamitan pada seluruh keluarga. Suasana haru biru oleh tangisan orang-orang yang kusayangi tak menyurutkan tekad. Dengan hati perih kulangkahkan kaki meninggalkan mereka. Sengaja aku tak menengok kebelakang lagi, demi menyembunyikan titik bening di sudut mata. Panggilan buah hatiku kian membuat hati ini teriris-iris. Sungguh aku tak ingin berpisah darinya. Namun, aku tak berdaya menolak takdir. Pergi meninggalkannya demi masa depannya juga. Namun dia belum mengerti. Kelak dikemudian hari, dia pasti mengerti mengapa aku pergi meninggalkannya. Sepanjang perjalanan menuju bandara malam itu, air mataku terus bergulir tanpa mampu ku bendung. Tak semenitpun aku terlelap.

Pagi yang basah ketika aku tiba di bandara Juanda Surabaya, hatiku masih bimbang. Rasanya berat melangkahkan kaki ini. Aku hanya bisa berdoa, semoga kali ini mendapat majikan yang baik hati dan paham tentang hak-hak buruh migran. Dan semoga aku bisa melalui semua rintangan dan harus kuat menjalaninya. Semua kulakukan demi keluargaku tercinta. Aku ingin membantu meringankan beban keluarga. Dan tak ada salahnya bila aku kembali bekerja di negeri beton ini.

Tiba di Bandara Chek Lap Kok Hong Kong, aku dijemput orang dari agency (aku pikir orang yang menjemputku juga pekerja migran sepertiku, yang dipekerjakan di agen. Dan dengan senang hati mereka mau bekerja di agen walaupun mereka tahu bahwa itu telah melanggar hukum perburuhan di Hong Kong). Dibawanya aku bersama dua orang teman yang satu penerbangan menuju agen. Sampai di agen hari sudah malam, karena kecapekan akupun tertidur tanpa sempat mandi. Aku menginap di agen sampai 2 hari karena majikanku tak kunjung menjemputku. Aku jadi semakin khawatir, jangan-jangan majikanku orang jahat, yang suka menelantarkan pembantunya. Pikiranku terus dihantui prasangka buruk.

Dihari ketiga orang suruhan agen mengantarkan aku ke rumah majikan. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya aku berdoa, semoga semua baik-baik saja. Setelah menempuh satu jam perjalanan, akhirnya sampai juga ditempat tujuan. Di bawah sebuah apartemen yang tidak begitu elit, aku berdiri menunggu sang majikan datang menjemput. Dari sebuah taman muncul seorang wanita yang tersenyum padaku. Diakah orangnya? hatiku bertanya-tanya. Dan memang benar dialah orangnya. Serah terima antara agen dan majikan berlangsung. Detik itu juga aku resmi dibawa majikan.

Kali ini aku bekerja pada keluarga bermarga Lui. Aku merawat 2 orang anak. 1 laki-laki berumur 8 tahun dan 1 lagi perempuan berumur 13 tahun. Kedua majikanku bekerja, jadi akulah yang mengurus kedua anak mereka. Dari urusan sekecil apapun, majikan perempuan mempercayakannya kepadaku. Saat pertama kali bertemu dengan majikan perempuan, aku sudah menangkap kesan baik ada pada dirinya. Dia orangnya supel dan cekatan. Dia suka sekali mengajakku ngobrol membicarakan segala sesuatu. Kadang aku dianggapnya sebagai teman diskusinya sebatas kemampuanku berpikir. Atau boleh dibilang aku malah banyak belajar kepadanya. Dari setiap obrolan, nyonyaku selalu menyelipkan wejangan-wejangan atau pelajaran berharga yang bisa aku petik. Dia selalu bercerita tentang tradisi keluarga Tionghoa. Tentang obat-obatan herbal China yang diyakininya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Ketika nyonya bercerita, aku dengan senang hati mendengarkannya. Kadang aku juga melemparkan beberapa pertanyakan kepadanya.

Dia sempat heran dan berkata,” baru kali ini, dari sekian pembantuku yang tertarik dengan cerita-cerita tentang tradisi Tionghoa”. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Karena aku memang benar-benar tertarik dengan kultur Tionghoa.

Keakraban keluarga majikanku ini, membuat aku merasa nyaman bekerja dengan mereka. Majikanku selalu terbuka dalam setiap hal. Tak jarang nyonya mencurahkan uneg-uneg-nya padaku. Dari sinilah aku banyak belajar tentang kehidupan dari keluarga ini. Tentang kesederhanaan yang selalu diterapkan keluarga Lui. Tentang bagaimana nyonya selalu menempatkan diri sebagai seorang ibu dan seorang istri yang baik untuk keluarganya. Nyonya tidak pernah menunjukkan sifat berkuasa seperti para majikanku terdahulu. Sebagai seorang istri, nyonya selalu melayani tuan dengan baik. Segala kebutuhan tuan, nyonyalah yang menyediakan. Aku hanya membantu bila dibutuhkan. Dan sebagai seorang ibu, sesibuk apapun nyonyaku selalu meluangkan waktu bagi anak-anaknya. Dia berusaha menjadi ibu yang selalu melindungi buah hatinya. Aku melihat nyonya memperlakukan anak-anaknya bagaikan seorang sahabat yang selalu ada kapanpun dibutuhkan. Walau kadang nyonya capek bekerja seharian tapi dia selalu menyempatkan diri untuk bermain-main dengan anak-anak. Seakan rasa capeknya hilang setelah melihat keceriaan buah hatinya.

Ya, itulah nyonyaku. Akan tetapi bukan berarti nyonya tak punya amarah. Sesekali nyonya juga marah bila menemukan sesuatu yang tidak berkenan di hatinya. Satu pelajaran berharga lagi, bila nyonya marah dan semarah apapun, nyonya tidak punya rasa dendam. Dan nyonya juga tidak pandang bulu, siapapun yang dianggapnya salah, maka nyonya akan memarahinya. Namun begitu, nyonya tak pernah berlarut-larut dikuasai emosi. Aku menganggapnya suatu kewajaran bila dia marah. Karena memang rasa marah dimiliki oleh siapapun. Dan selama ini emosi nyonya masih dalam tahap wajar. Dalam hal mendidik anak, nyonya tidak terlalu otoriter dan memaksakan kehendak pribadinya. Nyonya selalu mengikuti apa kemauan anak-anaknya selama itu mendidik dan positif. Dia tidak pernah mengekang.

Majikanku kali ini lebih demokratis daripada yang terdahulu. Ketika dia bertanya apa saja kegiatanku disaat libur dan aku menceritakan bahwa aku aktif disebuah organisasi kepenulisan, dia mendukung aku sepenuhnya. Bahkan, dia memfasilitasiku dengan mengizinkan aku memakai internet rumah. Aku sama sekali tak pernah mengira majikanku mengizinkan aku memiliki laptop. Tetapi pradugaku semula meleset jauh. Betapa aku sangat beruntung memiliki majikan sebaik ini. Disaat mereka berkumpul sepulang kerja, mereka tak lupa mengajakku bersama, berbagi cerita apa saja yang terjadi seharian. Kami bertukar cerita dan selalu mencari solusi ketika siapapun diantara kami yang menemui kesulitan. Majikanku selalu menasehati anak-anaknya dan aku untuk saling menghargai satu sama lain. Tak hentinya aku mengucapkan syukur telah menemukan majikan sebaik majikanku ini. Sang majikanku pun sangat taat terhadap peraturan pemerintah Hong Kong terkait dengan hukum perburuhan yang berlaku. Mereka tak pernah melanggar hak-hak ku sebagai pekerja. Bila mereka benar-benar membutuhkan tenagaku disaat hari liburku, maka mereka akan menggantikannya dikemudian hari. Mereka tak pernah mengambil keputusan sebelah pihak. Selalu mengikutsertakan aku bila itu memang menyangkut keberadaanku.

Kini 2 tahun telah berlalu. Suka duka telah aku lalui selama dua tahun di rumah majikanku ini. Dan kontrak kedua baru saja aku tanda tangani. Majikanku sudah cocok denganku dan aku pun begitu. Harapanku, semoga aku bisa menyelesaikan kontrak keduaku ini dengan baik dan lancar.



Fanling, Hong Kong

28 Desember 2010


16 October 2012

Mengapa Saya Mengganti Alamat Blog?

Ketika mengetik kata kunci "Babu Hong Kong" di You Tube atau di Google, hampir bisa dipastikan yang muncul adalah foto atau video yang tak sedap di pandang. Saya yakin itu ulah sejumlah orang iseng. Sekitar tahun 2005, saat para Buruh Migran Indonesia (BMI) semakin mengenal internet, banyak di antara mereka yang memanfaatkan internet hanya untuk chatting. Saat itu, ketika memasuki warnet yang ada di Hong Kong, hampir semua BMI yang ada di depan komputer, bisa dipastikan sedang chatting. Beberapa BMI HK, sedang menjalin asmara dengan BMI Korea, Jepang dan juga negara tetangga kita Malaysia. Menjalin cinta jarak jauh melalui internet, tidak ada salahnya. Tetapi, beberapa di antara mereka ada yang "keblinger" keadaan. 

Saat hubungan sepasang kekasih yang berada di beda negara itu baik-baik saja, tak ada masalah yang berarti. Namun, masalah akan timbul dan menjadi heboh saat mereka putus hubungan. Seingat saya, ada beberapa kasus video porno yang beredar dan membuat gempar pada tahun itu. Biasanya salah satu pihak yang tersakiti akan mengupload video tersebut di You Tube dengan title,"Babu/TKW Hong Kong...bla..bla..."
Selama ini pihak perempuan (TKW/Babu Hong Kong) yang selalu dirugikan. Malah, ada oknum-oknum yang sengaja memberi judul yang sama walau sebenarnya yang diupload tersebut bukan TKW. Entah apa maksud dan tujuan mereka. Yang pasti kena imbas adalah para TKW/Babu Hong Kong.

Nah! dari situlah ide saya muncul untuk mengganti alamat blog saya dari www.anaknegeriyangterbuang.blogspot.com menjadi www.likalikulakonku.blogspot.com. Walau sebenarnya isi, visi dan misi blog tetap sama yaitu tentang buruh migran. Saya tidak sedang berusaha menghapus image jelek tentang BMI Hong Kong, tetapi saya ingin mengimbanginya dengan image babu Hong Kong yang positif. Saya ingin meng-explore kata babu Hong Kong dengan hal-hal yang positif. Dengan segala kegiatan yang selama ini tidak diketahui orang secara luas. Banyak yang tidak atau belum tahu sepenuhnya kegiatan-kegiatan positif BMI Hong Kong. 
Mereka adalah BMI HK yang mengharumkan nama Indonesia lewat budaya.
Mereka yang telah lulus kursus di sebuah Training Center.

Harapan saya, dengan blog ini saya ingin menyajikan kabar baik seputar babu Hong Kong untuk mengimbangi berita-berita miring yang telah beredar. Bukan saya menampik hal semacam itu ada, tetapi saya ingin masyarakat juga tahu sisi kehidupan lain tentang TKW Hong Kong. Saya ingin orang tahu dan mendengar aspirasi TKW Hong Kong. Tidak semua BMI Hong Kong ber-image seperti apa yang telah beredar selama ini. Saya ingin semua lapisan bahu membahu mengatasi masalah yang terjadi. Never look down to them. Sebagai warga negara Indonesia, mereka punya hak yang sama dengan yang lain. Semoga saya selalu bisa meng-update tulisan tentang BMI Hong Kong melalui blog ini. Dan semoga saya mendapat support dari kawan yang lain. 

07 August 2012

Kapan Aku Bisa Pulang?

Saat mengantar Doraemon pulang kampung.
Hampir satu jam aku menunggu bus A43 yang akan mengantarku ke bandara Chek Lap Kok.  Sedikit tak sabar menanti, karena aku harus mengejar waktu. Aku ke bandara setelah menerima SMS seorang kawan asal Ponorogo yang akan terbang ke Indonesia kemarin.  Tak ada rencana ke bandara, tetapi karena aku menitipkan sesuatu untuk adikku, maka aku harus ke bandara. Setelah bus tiba, segera aku meloncat naik menuju deck atas. Aku paling suka naik bus dan duduk di deck atas, karena aku bisa melihat dengan jelas pemandangan yang indah sepanjang perjalanan. 

Tak banyak penumpang dari halte bawah rumah tempat di mana aku tinggal. Setelah mendapat tempat duduk yang pas, aku kembali sibuk bermain HP. Suasana masih sepi jadi aku konsentrasi dengan game. Sepuluh menit perjalanan, masuk ke kota lain ternyata begitu banyak penumpang. Dalam sekejab bus telah penuh. Suasana menjadi riuh dengan beraneka ragam bahasa. Bahasa Jawa, Kantonis, Inggris dan Mandarin, campur aduk. Dua orang mbak duduk di deretan kursi sebelah, sedangkan kursi disampingku, diduduki lelaki separuh baya. Konsentrasiku buyar. Ku ambil kamera dan menjepret apa saja yang menarik.

Karena begitu dekat, aku bisa mendengar segala celoteh dua mbak di sebelahku. Betapa riangnya mereka ngobrol berdua. Bercerita tentang segala macam persiapan sebelum pulang, membeli oleh-oleh untuk keluarganya. Membayangkan betapa bahagianya nanti setelah berjumpa dengan keluarganya. Begitu bahagianya bisa merayakan lebaran di rumah dengan orang-orang tercinta. Sungguh, mereka terlihat begitu bahagia. Tiba-tiba ada perasaan iri menyeruak dalam dada. Ah, kenapa aku tidak bisa seperti mereka?...
Aku memalingkan muka, memandang keluar, berharap bisa membuat perasaanku baik-baik saja. Mendengarkan musik dengan volume sedang dan berdoa semoga tak mendengar pembicaraan dua mbak itu. Namun, usahaku sia-sia. Lagu sendu yang mendayu-dayu menambah pilu hatiku. Tak terasa mengalir butiran bening di sudut mataku. Dengan gusar kuusap buliran itu sebelum orang lain tahu. Terlambat! Lelaki di sebelahku telah memergokinya. Tak kusangka dia bertanya,"Are you OK?" Aku hanya membalas sapaannya dengan senyum getir. Aku benci dengan keadaan seperti ini.

Selama perjalanan ke bandara, perasaanku jadi kacau. Bus ber-AC pun tak mampu membuatku nyaman. Entahlah, apa yang ku rasakan saat itu. Anganku melayang ke Indonesia. Membayangkan seandainya aku pulang, pasti mereka pun menyambutku dengan riang. Wajah-wajah yang ku rindu bermunculan. Hatiku menjadi riuh dengan seribu tanya. Aku menuju bandara, tapi bukan untuk pulang. Lalu, untuk apa aku kesana? Kenapa bukan aku yang pulang sendiri saja? Ah....

Satu jam kemudian aku telah sampai di bandara. Segera aku menelpon temanku dan mencarinya. Setelah bertemu, ku serahkan bingkisan padanya. Masih ada waktu 45 menit sebelum dia check-in. Aku duduk di ruang tunggu dan ngobrol dengan mbak buruh migran yang lain. Perasaan yang tadi menyerangku sewaktu di bus kembali hadir. Duh, Ya Allah....aku pengen nangis lagi yang kenceng. Aku berusaha sebisa mungkin menahan air mataku untuk tidak berhamburan keluar. Iseng ku goda mereka," Gimana nih perasaannya yang mau ketemu loukong (suami)? Pasti bahagia ya? ketemu keluarga, anak, orangtua, kawan dan saudara."
"Owalah mbak, aku sik ketar ketir perkara barangku iki, isa mlebu apa ora ya? mengko nek wis nek njera pesawat baru mikir bojo," salah seorang dari mereka menimpali godaanku.
Mbak BMI yang menunggu waktu terbang.
"Aku ki mau wis over 9 kilo, kenek 300 dolar. Tapi ga papa lah, sing penting aku isa ketemu keluarga, aku wis ayem," sahut yang lainnya.

Saat kami asyik becanda, datang staff Cathay Pasific, memberitahu sebentar lagi harus check in bagi yang mau terbang. Semua disuruh siap-siap. Mbak-mbak pun mengemasi barang bawaannya. Kami berpelukan dan mengucapkan selamat jalan. Begitu kawanku check-in, hatiku kembali sepi. Seakan separuh jiwaku dibawa terbang temanku. Duhhh, kapan aku bisa pulang? 

22 July 2012

Buruh Migran Indonesia Kreatif Di Hong Kong


Berbagai macam pernak pernik souvenir karya BMI-HK

"Tak ada jalan buntu bagi kreativitas. Apalagi ketika ia bertemu dengan ketekunan dan kemauan bekerja keras!"

Iseng! Keisengan tak selalu berbuntut negative. Sebuah keisengan bisa jadi membawa berkah. Dari keisengan tersebut mungkin bisa menjadi kreatifitas yang membanggakan. Dan jika ada istilah," iseng-iseng berhadiah," itulah yang terjadi pada dua orang Buruh Migran Indonesia (BMI), yang sedang mengais dolar di Hong Kong. Keisengan yang membawa berkah itu bermula dari obrolan santai ketika mereka bertemu di Victoria Park, di kawasan Causeway Bay.

Sebut saja Tri Winarni (29) dan Siti Marpu’ah (28), dua buruh migrant yang berbeda asal daerah ini, yang setiap hari minggu hanya menghabiskan waktu liburannya di Victoria Park. Suatu ketika ada seseorang yang membagi-bagikan brosur tentang tempat kursus pembuatan pernak pernik dari manik-manik. Merekapun tertarik dan mencari alamat yang tertera di brosur tersebut. Gayung bersambut, akhirnya mereka menemukan tempat kursus yang ada di kawasan Sham Shui Po, di sebuah gereja. Ongkosnya pun terbilang murah, hanya HKD 20 untuk sekali mengikuti kursus selama 2 jam waktu itu.

Akhirnya tak sampai 3 bulan, keduanya telah lihai membuat aneka pernak pernik. Semisal, gantungan kunci, tas tangan, boneka-boneka imut dan lucu pun tercipta dari tangan kreatif mereka.

“Kami sempat bingung setelah kursus, bagaimana caranya mengembangkan ilmu yang telah kami dapat? Hingga suatu hari kami kembali menemukan titik terang menuju ambang kesuksesan. Belum puas dengan ilmu yang kami peroleh, kamipun mengikuti seminar entrepreneur dari Universitas Ciputra yang dihelat oleh KJRI Hong Kong dalam rangka exit program untuk BMI,” jelas Tri atau yang akrab disapa Kutrix ini.

Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah mengikuti seminar tersebut, mereka tertantang untuk merealisasikan ide-ide yang telah ada selama ini. Dengan tekad yang kuat dan hanya bermodalkan uang sebesar HKD 200 hasil patungan per orang, kedua BMI ini nekad memulai usaha. Karena dorongan keinginan untuk mandiri, mulailah mereka merangkai aneka manik-manik. Pertama yang mereka kerjakan hanya membuat bross dan gantungan kunci. Setelah terkumpul beberapa banyak, mereka mulai mencari informasi bagaimana cara memasarkan kreasi hasil olah tangan mereka. Sampai suatu hari, ketika salah satu organisasi di Hong Kong mengadakan bazaar, merekapun mendaftarkan diri. Dari sinilah kawan-kawan BMI yang lain mulai mengenal karya-karya cantik mereka. Dan keuntungannya pun bisa dibilang lumayan untuk permulaan sebuah usaha. Dengan keuntungan yang didapat tersebut, semakin bertambahlah modal mereka. Dan semakin membuka peluang wirausaha mereka kian berkembang.

Berbagi Ilmu
Untuk memperluas dan memperkenalkan usahanya yang sudah mulai jalan, kedua BMI inipun kemudian membuka kursus bagi yang mau belajar bersama. Dan kemudian mereka menggunakan " Friend's Souvenir" untuk usaha yang tengah mereka tekuni. Dengan peralatan seadanya dan tempat di lapangan terbuka, tak menyurutkan niat mereka untuk tetap berbagi dengan kawan sesama BMI. Setiap minggu, kira-kira sekitar 10 orang BMI yang bergabung menimba ilmu. Setiap peserta hanya dibebani biaya $ 40 untuk sekali pertemuan/kursus dan bahan manik-manik telah disediakan.

“Jadi untuk satu hasil karya tangan peserta, itu sudah menjadi hak milik mereka. Kalau mereka masih ingin menambah/membuat souvenir yang lain, peserta harus membayar lagi $ 40. Peserta boleh membawa pulang bahan manik-manik untuk dikerjakan disela kesibukan kerja di rumah majikan,” terang Siti Marfu’ah BMI asal Ponorogo ini.

Tak jarang, memang ada peserta yang membawa pulang bahan manik-manik untuk dikerjakan di rumah majikan. Karena mungkin saat mengikuti kursus di hari minggu, mereka tak cukup waktu untuk menyelesaikannya sehingga mereka bawa pulang. Dan ketika mereka menemui kesulitan dalam mengerjakan, mereka boleh minta bimbingan kembali minggu depannya.

Animo BMI
“Sebenarnya banyak yang berminat mengikuti kursus ini mbak, tapi terkadang kami terkendala waktu. Banyak yang harus dikerjakan jika hari minggu seperti ini. Rasanya waktu terasa cepat sekali berputar,” ujar Kutrix sambil sesekali membimbing peserta yang tampak kesulitan.

“Mereka begitu antusias belajar dan ingin mengubah nasib menjadi lebih baik dari sekarang, karena tak selamanya kita bekerja menjadi pembantu di luar negeri kan mbak?” sambung Siti Marfu’ah. Karena tekad untuk menjadi lebih baik itulah yang memotivasi mereka gigih belajar dan berusaha mengembangkan wirausaha kecil ini.

Wirausaha kedua BMI ini rupanya telah dilirik pengusaha di Jakarta dengan memesan beberapa pernak pernik untuk dipasarkan di Indonesia. Bahkan ketika mengikuti bazaar yang di selenggarakan sebuah organisasi di Hong Kong, keduanya sempat bertemu Menteri Pemberdayaan Perempuan, Linda Agum Gumelar dan seorang tokoh bisnis di jagad kosmetika, Martha Tilaar.

“Beliau-beliau ini tertarik dan membeli beberapa souvenir kami, untuk oleh-oleh rekan-rekannya yang di Indonesia. Kemudian beliau juga berpesan, jangan lama-lama merantau di negeri orang. Selagi masih di Hong Kong, tuntutlah ilmu untuk bekal kelak jika kembali ke tanah air. Beliau juga bilang punya niat untuk mendidik atau memberikan pelatihan pada usaha kelas kecil hingga menengah,” jelas Kutrix BMI asal Trenggalek ini yang di amini oleh rekannya.

Keduanya kian bersemangat membangun dan terus berusaha bagaimana caranya menjadi pengusaha sukses. Tak surut langkah, walau masih terseok-seok dengan usaha kecil ini. Mereka selalu optimis bahwa nasib ada di tangan kita sendiri. Dari hari ke hari usaha kedua BMI ini kian maju pesat, peserta semakin banyak setiap minggunya. Order souvenir kreasi mereka pun terus meningkat.

Karena tempatnya di lapangan terbuka (Victoria Park), dan ramai lalu lalang orang yang berseliweran, tak jarang beberapa BMI yang tertarik dengan kegiatan ini. Salah satu BMI yang kebetulan lewat adalah Sugiarti (20), begitu antusias untuk bergabung. Dia langsung daftar dan langsung juga belajar dengan yang lainnya. Ternyata, di lapangan terbuka lebih menguntungkan untuk menarik minat kawan-kawan yang lainnya. Karena tidak usah menyebar brosur ataupun iklan. Jadi begitu ada yang tertarik, bisa langsung gabung.

“Silahkan siapa saja yang mau bergabung, kami tunggu. Bisa menghubungi, Siti Marfu’ah (51775358) atau Tri Winarni (61435237). Kami siap berbagi ilmu dengan kawan-kawan semua,” ujar Siti diakhir percakapan sambil tersenyum.

Ayo BMI Hong Kong, jangan takut untuk memulai usaha. Berwirausaha tidak harus bermodal jutaan. Yang terpenting tekad dan keberanian kita. Kedua BMI ini telah membuktikan. Kalau mereka bisa, kenapa kamu tidak? Tunjukkan pada dunia bahwa KAMU BISA!!!
Mereka yang kreatif dan inovatif

Ketika Sumiati Harus Melunasi Utang Temannya #Pelajaran Buat BMI-HK#


Awalnya, setiap kali bertemu dengannya, kami hanya saling melempar senyum. Karena kami memang belum kenal. Yang ku tahu, dia selalu mengantarkan makanan khas Indonesia untuk dititipkan di toko Indonesia  di kawasan Ma On Shan. Beberapa kali aku membeli makanan hasil masakannya. Terasa enak dan pas di lidah. Ketika suatu hari aku bertemu lagi dengannya, aku katakan bahwa masakannya lumayan enak.

"Masa sih mbak? kalau begitu beli tiap hari ya, biar penghasilanku bertambah," ujarnya. Lalu  kami ngobrol sejenak. Usut punya usut ternyata ibu dua anak ini tidak sengaja melakukan pekerjaan ilegal menurut peraturan perburuhan di Hong Kong. Dia berjualan makanan, walau dengan cara menitipkannya di beberapa toko Indonesia sekedar untuk menambah penghasilan karena kepepet.

Sumiati (bukan nama sebenarnya) seorang Buruh Migran Indonesia yang telah bekerja di Hong Kong selama hampir 4 tahun ini, menceritakan bahwa selama bekerja di Hong Kong,  gajinya habis buat membayar hutang-hutang pada dua buah perusahaan jasa peminjaman uang sekaligus.

"Aku ditipu teman baikku. Waktu itu dia datang kepadaku dan meminta tolong mencarikan pinjaman uang untuk biaya berobat ibunya yang sedang sakit keras di Indonesia," jelasnya. "Aku butuh uang 50 juta, tolong aku ya Mia," pinta teman baiknya sewaktu di PT  itu memohon dengan mimik yang memelas.

Karena merasa terharu dan kasihan pada Yuni (nama samaran) teman baiknya itu maka Sumiati pun berusaha mencarikan pinjaman kepada teman-temannya yang lain. Tapi uang 50 juta tidaklah sedikit. Tentu saja di antara teman-temannya tidak ada yang sanggup meminjami. Dan itu memang tidak mungkin. Akhirnya Sumiati menyerah dan mengatakan pada Yuni bahwa dia tidak bisa membantu mencarikan pinjaman.

Pada kesempatan lain Yuni, yang juga berprofesi sebagai buruh migran mengusulkan untuk meminjam uang pada perusahaan jasa financial dan Sumiati pun menyetujuinya dengan catatan dia hanya sebagai saksi dan diizinkan oleh majikannya. Sumiati yang bekerja pada keluarga Kong Mun Fai dan bertugas merawat seorang kakek yang lumpuh ini pun meminta izin pada majikannya dan kebetulan majikan dia baik hati. Izin didapat oleh Buruh Migran asal Sragen, Jawa tengah ini.

"Kebetulan waktu itu semua urusan berjalan dengan lancar dan pinjaman bisa dengan mulus didapat," terang Sumiati yang ternyata single parent ini. Dan setelah proses pinjam meminjam itu lambat laun Yuni susah di hubungi. Sebulan, dua bulan Yuni menghilang dari peredaran. Sampai bulan ketiga setelah transaksi pinjaman itu Sumiati di hubungi oleh petugas jasa financial, mereka menagih pembayaran cicilan hutang pada Sumiati. Perempuan 34 tahun ini hanya bisa melongo dan heran. "Kok bisa aku yang ditagih?" pikirnya.

Setelah petugas itu menjelaskan bahwa pihak pertama tidak bisa dihubungi dan telah jatuh tempo maka pihak kedua yang harus bertanggung jawab. Seketika itu juga Sumiati lemas tak berdaya. Dia baru tersadar kalau telah tertipu. Sumiati hanya bisa meneteskan air mata, menyesali kejadian ini. Nasi telah menjadi bubur.

Janda yang malang ini pun menceritakan nasib yang menimpanya kepada sang majikan. Sang majikan pun kaget. Namun, mereka tidak bisa berbuat banyak. Mereka hanya berpesan pada Sumiati untuk berhati-hati dalam memilih teman. Jangan mengatasnamakan setia kawan tapi akhirnya menjadi korban. Beruntung Sumiati tak di terminate oleh majikannya. Malah, Sumiati dianjurkan masak makanan Indonesia untuk dijual/dititipkan ke toko Indonesia di sekitar rumah. Menurut majikannya, Sumiati memang pandai memasak. Dan karena juga dia punya banyak waktu senggang. Praktis, ini menjadi solusi. Tapi tetap harus bertanggung jawab dengan pekerjaannya, sesuai pesan majikannya. Sumiati pun menyanggupi.      

Mulailah Sumiati melakukan aktifitas ilegal ini. Ya, semua itu terpaksa dilakukannya demi mencukupi kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya di Indonesia. Sumiati berharap tidak ada Sumiati lainnya di kemudian hari. Dan juga berpesan untuk selalu berhati-hati dalam berteman dengan orang sekitar kita. Karena, kawan pun bisa berkhianat.

21 July 2012

Bea Masuk dan KTKLN "ATM" Model Baru Untuk Melegalkan Pungutan Liar

Bea Masuk/Cukai
Beberapa minggu terakhir buruh migran dibuat kalang kabut terkait pemberitaan diberlakukannya Bea Masuk (BM) di bandara. Isu bea cukai ini begitu meresahkan bahkan menakutkan bagi beberapa buruh migran Indonesia (BMI). Ya, peraturan BM ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 188/PMK.O4/2010 tentang impor barang yang dibawa pelancong, pelintas batas, awak sarana pengangkut dan barang kiriman dari luar negeri. 

Peraturan ini berlaku sejak 29 Oktober 2010 lalu, tapi baru sekarang ramai dibicarakan. Tujuan dari peraturan ini adalah untuk meningkatkan dan menyelamatkan produk dalam negeri. Atau mungkin saja sebagai pengganti pendapatan negara atas dibebaskannya bea fiskal mulai tahun ini. Sasarannya tentu saja para Warga Negara Indonesia (WNI) yang melancong keluar tak terkecuali BMI. Dan karena ketidaktahuan dan kurangnya sosialisasi inilah (khususnya BMI) beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan situasi tersebut untuk praktek pungutan liar di bandara. 

Beberapa BMI sangat khawatir bahkan ketakutan dengan isu tersebut. Mereka khawatir akan terjadi pemerasan di bandara. Karena mayoritas BMI yang pulang ke tanah air membawa barang-barang elektronik yang mahal. Seperti handphone, laptop, dan kamera. Dan kadang barang-barang tersebut tidak cukup satu, karena bisa jadi beberapa teman menitipkan oleh-oleh untuk keluarga mereka di kampung halaman. Sebenarnya tak usahlah BMI terlalu dicekam ketakutan asal  tahu aturan-aturan yang berlaku dan tidak menyalahinya. Untuk penarikan pajak di bandara hanya berlaku bila barang bawaan melebihi di atas USD 250. Jadi dihimbau buat BMI untuk mengira-ngira barang bawaan saat pulang ke tanah air. Dan tetap berhati-hati dengan oknum yang tak bertanggung jawab yang berkeliaran di bandara. Be Smart!!

KTKLN
Belumlah usai huru hara mengenai bea cukai, muncul kembali huru hara yang lebih menghebohkan dikalangan buruh migrant. Isu tentang Kartu Tenaga Kerja Keluar Negeri (KTKLN). Kartu yang fungsinya masih dipertanyakan. Kartu yang katanya untuk perlindungan. Kalau alasannya sebagai perlindungan, perlindungan yang bagaimana? Dan dalam hal ini siapa yang paling diuntungkan? KTKLN bukanlah solusi perlindungan. KTKLN hanyalah sebuah alat untuk melegalkan praktek pungutan liar. Pada kenyataannya kartu tersebut hanya berisi biodata yang hampir sama dengan passport. Nama, tanggal lahir, alamat dan sebagainya sudah tertera dalam dipaspor. Bahkan alamat lengkap majikan yang mempekerjakannya.

Penolakan paling gencar dilakukan oleh BMI Hong Kong. Seperti yang terjadi di peringatan May Day lalu. Ribuan buruh turun  kejalan melakukan aksi penolakan KTKLN. Ironisnya, mengutip pernyataan Kepala Badan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), seperti  yang diberitakan salah satu media berbahasa Indonesia di Hong Kong, Jumhur Hidayat menyatakan untuk mendapatkan KTKLN tidak dipungut biaya alias gratis tapi harus mempunyai bukti asuransi dan Dana Pembinaan dan Penyelenggaraan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (DP3TKI). Nah lho? Katanya gratis tapi kok berbelit-belit. Apa itu tidak membingungkan? Kalau memang pemerintah mau melindungi BMI, ya jangan setengah-setengah. Anehnya, dalam undang-undang KTKLN disyahkan tahun 2004 lalu, namun gaungnya baru ramai terdengar tahun ini.dan disaat menjelang musim liburan/cuti para BMI ke tanah air. Nah! Ada permainan apa dibalik ini semua? Isu KTKLN menjadi momok tersendiri bagi BMI. Bahkan beberapa BMI HK membatalkan kepulangannya hanya karena kartu tersebut. Ajaib! Ketakutan dan keresahan BMI tersebut rupanya tercium oleh pihak-pihak yang mencari untung. Antara lain agen. Dari pihak agen menawarkan jasa pembuatan kartu tersebut dengan biaya HK$ 1200. Nominal yang tidak sedikit tentu saja dan memberatkan. Kembali BMI dihadapkan pada pilihan yang mencekik.

Lagi dan lagi. Pemerintah Indonesia selalu membuat kebijakan yang tidak pernah berpihak kepada rakyatnya. Kebijakan timpang dan memberatkan. Dan selalu yang lemahlah yang menjadi korban. Dalam hal ini BMI merasa menjadi bulan-bulanan pemerintah. Kalau memang itu untuk perlindungan BMI, mengapa perwakilan pemerintah di negara tujuan tidak mensosialisasikan pada BMI sedari awal? Supaya BMI tahu dan tidak merasa diperalat. Pengalaman beberapa BMI, dulu ketika baru datang ke Hong Kong dan memegang kartu KTKLN, oleh agen disuruh membuang kartu tersebut. Tetapi, mengapa kartu itu sekarang dicari-cari? Dan pada prakteknya pembuatan kartu tersebut tidaklah semudah yang dinyatakan oleh Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat. Untuk mengurus KTKLN hanya bisa dilakukan di tingkatan propinsi dan di kota-kota besar. Nah! Kalau seorang BMI tinggal di pelosok desa, apa itu tidak menyusahkan dan memberatkan secara biaya tidak resmi lainnya. Dan tentu saja itu sangat merugikan soal waktu khususnya bagi BMI yang sedang cuti ke tanah air, yang hanya mempunyai waktu mayoritas hanya 2 minggu.

Namun Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat berjanji pengurusan KTKLN akan dipermudah. Akankah janji Kepala BNP2TKI terwujud? Kita tunggu saja!!

KTKLN Perlindungan atau Bisnis (?)


Masalah Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN), rasanya semakin pelik dan menakutkan bagi kawan-kawan Buruh Migran Indonesia (BMI). Entah mengapa pemerintah yang seharusnya melindungi justru semakin mempersulit keadaan. UU No 39 Tahun 2004 pasal 105 ayat (2) yang berbunyi,” Selain dokumen yang diperlukan untuk bekerja ke luar negeri, TKI yang bekerja di luar negeri secara perseorangan harus memiliki KTKLN.” Dan pasal 62 ayat (1) yang berbunyi,” Setiap TKI yang ditempatkan di luar negeri, wajib memiliki dokumen KTKLN yang dikeluarkan oleh Pemerintah.” Justru UU tersebut dijadikan ladang empuk bagi orang-orang yang berkepentingan pribadi belaka.

Karena ketidaktahuan BMI akan pasal-pasal tersebut di atas, maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab untuk memeras kawan-kawan BMI. Dengan dalih untuk perlindungan maka mereka memaksa BMI untuk memilikinya. Sebenarnya tanpa dipaksapun, kalau itu sudah tertera dalam UU yang mewajibkan setiap TKI yang ditempatkan di luar negeri wajib memiliki KTKLN, sebagai warga negara yang baik pasti akan mematuhi peraturan tersebut, bila benar-benar dilaksanakan sesuai UU tersebut dan tidak merugikan. Misalkan saja seseorang yang bepergian ke luar negeri harus memiliki passport. Nah, karena passport memang diwajibkan dan memang dibutuhkan, maka dengan legawa, setiap orang yang pergi ke luar negeri pun memilikinya.

Berbeda dengan KTKLN. Dari sekian cerita pengalaman BMI yang pulang kampung, tidak satupun dari mereka yang merasa legawa mengurus KTKLN ataupun menghadapi oknum yang tak bertanggung jawabMereka membuat KTKLN pun bukan berdasarkan kesadaran yang mewajibkan memiliki KTKLN. Akan tetapi mereka membuat KTKLN karena merasa ketakutan dengan ulah oknum-oknum bandara atau mungkin hanya sekedar menyumpal mulut mereka agar diam.Dan anehnya pemerasan ini tidak hanya terjadi di bandara dan oleh orang luar, bahkan terjadi juga dalam birokrasi dan pelakunya adalah para birokrat itu sendiri. Dan ini sudah menjadi rahasia umum.

Belakangan ini banyak BMI yang ketika pulang kampung berusaha mengurus kartu tersebut. Dengan berbekal informasi yang mereka peroleh sebelum kembali ke tanah air, bahwa mengurus KTKLN bisa sehari jadi, dipermudah dan satu lagi yang digembor-gemborkan Ketua BNP2TKI, bahwa mengurus KTKLN gratis alias tidak dipungut biaya. Namun kenyataan di lapangan tidaklah begitu. Banyak BMI yang harus gigit jari, ngowoh, mangkel, nggrundel bahkan ngeyel berargumen dengan petugas pun tidak ada gunanya. Mereka terpaksa atau dipaksa (mungkin) tetap harus membayar sejumlah uang untuk segala tetek bengek persyaratan membuat KTKLN. Oh, sungguh aneh bila kartu KTKLN yang katanya untuk perlindungan tapi malah diperjual-belikan. Perlindungan adalah hak asasi bagi setiap warga negara tanpa memandang status sosial. Dan melindungi adalah kewajiban negara kepada seluruh warga.

Siapa yang lebih membutuhkan KTKLN? Pemerintah atau BMI? Jadi KTKLN itu bisnis atau perlindungan? Semua itu masih menjadi pertanyaan besar. Dan butuh kekuatan dari BMI sendiri untuk menguak rahasia besar dibalik KTKLN. Semoga!?

12 July 2012

Ngobrol Gayeng Bersama Ketua UP3TKI dan Ibu Nurul Dari LP2SDM Media Hati

Panggung gembira dari KJRI "untuk" KJRI.
Hari Minggu (8/7), saya tidak ada acara yang jelas, kosong. Begitu sampai di Causeway Bay, saya menelpon Rie Blora, kawan saya. Dia sudah ada di Victoria Park lebih awal. Segera saya menuju lapangan rumput, celingak celinguk di antara para buruh migran yang asyik dengan berbagai macam perlombaan. Ada lomba balap karung, makan kerupuk, makan jeruk dan lain sebagainya. 


Setelah bertemu dengan Rie, saya bertanya,"Acara apa ta iki Rie? kok ora ana woro-worone?" 
"Acarane KJRI, ra ngerti ye?"
"Oooo, KJRI "mantu" tah?"
Untuk acara hari minggu itu memang saya tidak tahu sama sekali. Karena biasanya pasti ada woro-woro, entah itu di situs jejaring sosial Facebook atau media berbahasa Indonesia di Hong Kong. Saya memutarkan pandangan ke segala penjuru lapangan rumput yang telah dipadati tenda. Tak ada celah kosong seperti biasanya, tenda berjajar penuh. Di antaranya tenda perbankan, UKM, dan beberapa tenda dari organisasi Buruh Migran Indonesia (BMI). Untuk memuaskan rasa penasaran, saya berkeliling dari satu tenda ke tenda yang lain. Di sebelah kiri panggung semua tenda bertuliskan UKM (Usaha Kecil Menengah) dan semua memajang baju batik. Hari itu lapangan rumput Victoria Park, disulap menjadi pasar dan arena panggung gembira. Dari arah panggung, terdengar lagu iwak peyek. Tak heran jika mbak-mbak, terhipnotis dan ikut bergoyang. Sejenak lupa beban hidup.


Tak sengaja saya bertemu manager Tabloid Apakabar, Yuni Sze. "Yan...aku wawancaranen ta," guraunya. 
"Ada acara besar begini kok ga ada woro-woro tho mbak?" tanyaku
"Sebenarnya KJRI sudah menghubungi Apakabar, dan media lain tapi masa maunya gratisan wae, katanya ndak ada budget untuk iklan,  wong mengundang UKM wae isa kok pasang iklan ga ada budget.wis jan nuemen rek.
"Ha ha ha...."
"Aja ngguyu thok, ndang melu investasi kono lho, 15-60 jutaan untuk usaha minimart."
"Byuh, kok perasaan BMI-HK semakin dijadikan ladang empuk ya Mbak Yun."
"Ha ha ha....ya wis ati-ati, aku tak mbalik ke tenda sik ya."
[masalah investasi akan saya tulis lain waktu]


Saya kehilangan jejak Rie, ternyata dia berada di depan panggung, memotret. Tiba-tiba hujan turun, kami berlari menuju ke arah 2 tenda tak berpenghuni. Membaca banner-nya yang menarik perhatian, bertuliskan tentang Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN), wah kebetulan. Saya dan Rie rie, berteduh di situ sambil sesekali motret. 
"Mbak, ini orangnya kemana ya? kok 2 tenda dibiarkan kosong?" tanyaku pada penjaga stan sebelah. Dan dia cuma angkat bahu.


Beberapa menit, muncul seorang wanita berpakaian batik menyapa kemudian memperkenalkan diri,"Ada yang bisa dibantu mbak? Saya Ibu Nurul dari Lembaga Media Hati. Juga pemilik sebuah PJTKI di Surabaya." 
"Boleh saya bertanya-tanya seputar KTKLN, Bu?"
"Silakan..." 
"Begini Bu, kenapa membuat KTKLN itu susah/ribet sekali?"
"Lewat PT mana?"
"Kalau PT saya sudah tutup Bu, ini hanya menyampaikan keluhan kawan-kawan yang bermasalah ketika membuat KTKLN. Karena saya pribadi belum pernah membuat KTKLN. Tetapi, melihat dan mendengar keluh kesah kawan-kawan BMI kok saya jadi ikutan "gemes". Apa dan bagaimana sih pembuatan KTKLN itu Bu?"
"Kamu datang saja ke kantor dengan membawa persyaratan yang telah ditentukan selanjutnya akan kami proses. Nih, baca ya..." katanya sambil menyerahkan brosur pembuatan KTKLN dan juga kartu namanya. 
"Tapi kenapa ya bu, petugas UP3TKI itu suka berbelit-belit jika dimintai informasi?"
"Maksudnya?"
"Begini, Misalkan saja kami datang ke kantor, mereka menjelaskan informasi yang sepotong-sepotong. Kenapa tidak dijelaskan secara runtut dan gamblang sehingga kami tidak harus bolak-balik. Kok kami itu seperti bola saja, dilempar ke sana sini. Itu kan memakan waktu dan biaya juga tho Bu? Sudah begitu pelayanannya sangat tidak memuaskan. Kami itu di negeri sendiri kok ndak dihargai blas ya."
"Lain kali kalau ada petugas seperti itu, catat nama, kalau perlu foto juga orangnya. Kami sudah mengeluarkan 4 orang oknum yang tak bertanggung jawab. Kami akan berusaha memaksimalkan kinerja. Untuk lebih lanjut kita tunggu saja Pak Hariyadi, ketua Unit Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (UP3TKI)."
"Terus, sosialisasi tentang  KTKLN itu kok kurang maksimal dan sepertinya KTKLN berlaku musiman saja ya."
"Siapa bilang? sekarang di Indonesia lagi ramai kok. Saya sudah kesini 3 kali, terakhir kali bersama ketua  SBMI, siapa itu? lupa namanya."
"Moch Cholily..." 
"Ya, itu. Tapi saya hanya sosialisasi di lapangan saja, bertemu langsung dengan mbak-mbak."
 "Waktu ketua SBMI ke Hong Kong, saya ada bersamanya tapi kok saya tidak melihat ibu ya? Kalau sekarang lagi ramai masalah KTKLN, ya wajar, karena  bulan 7-8  kan musim BMI  cuti. Di luar itu sepi saja kan Bu?"
"Oh, itu tidak benar. Kan sudah saya katakan tadi bahwa saya hanya di lapangan saja tidak ke shelter seperti yang dilakukan Mas Cholily."
"Berarti ibu ke Hong Kong bukan untuk sosialisasi ya? atau hanya menemui "anak-anak" ibu? kalau yang begitu banyak Bu."
Brosur Mekanisme Permohonan KTKLN.




Ibu Nurul tidak menjawab, tetapi beranjak ke stan sebelah karena datang 2 orang BMI. Bersamaan dengan itu, datanglah orang yang kami (saya dan Rie) tunggu, ketua UP3TKI Mulailah Rie beraksi. Ikuti di sini http://babungeblog.blogspot.hk/2012/07/tentang-ktkln-bersama-ketua-up3tki.html. Sesekali saya masuk ke obrolan mereka.
"Bagaimana cara menghadapi oknum yang tak bertanggung jawab itu Pak?"
"Kamu laporkan saja, pasti nanti kami tindak lanjuti."
"Bagaimana kami bisa melapor, Pak. Sedangkan masalah KTKLN biasanya muncul menjelang keberangkatan ke negara tujuan. Kan waktunya sudah mepet, yang ujung-ujungnya adalah minta uang damai. Apakah bapak tahu itu?"
'Ya, saya tahu. Kami sedang menertibkan oknum semacam itu. Malah ada yang melaporkan seorang petugas menerima uang, ketika saya konfirmasi, dia bilang kalau uang itu sebagai kenang-kenangan. Kalau begitu kan saya tidak bisa sembarangan menuduh. Dan ada lagi yang melapor katanya dimintai uang 1 juta untuk pembuatan KTKLN, lagi-lagi saya konfirmasi dan menurut petugas itu adalah biaya transport dan mengurus yang lain-lain. Jadi itu bukan biaya membuat KTKLN. Nah! iki kan laporane simpang siur, aku rek sing repot."
"Lho? bisa juga itu sebagai dalih tho Pak? Kalau uang transport dan lain-lain saja menghabiskan segitu, ya berarti boleh dibilang itu juga biaya dalam rangka mengurus KTKLN. Untuk menghindari fitnah, saat menjalankan tugas, staff/petugas mbok ya tidak menerima apa pun."
"Tanpa mbak minta, kami juga melakukan itu. Untuk menertibkan petugas dan banyaknya calo maka pembuatan KTKLN di Juanda kami tiadakan."
"Apanya yang ditiadakan Pak? KTKLN-nya? Bagus dong Pak." 
"Bukan, yang ditiadakan formulir dan mesin pembuatnya. Karena menurut pantauan kami, banyak formulir yang dijualbelikan oknum tak bertanggung jawab. Bahkan di KJRI-HK pun kami tiadakan. Jadi untuk membuat KTKLN, ya harus datang ke kantor."
"Apa sih fungsi dari KTKLN Pak?"
"Fungsinya untuk mendata tenaga kerja luar negeri."
Ketua UP3TKI, Bapak Hariyadi Budihardjo.
"Bukankah sudah ada passport Pak? Trus kalau terjadi kesalahan seperti kasusnya (Rie) bagaimana Pak?"
Kesempatan Rie bicara, terlihat antusias sambil membanting-banting HP sebagai ekspresi kekecewaannya. Aku diam sambil mengarahkan pendangan ke panggung. Kebetulan wartawan koran Suara (Abdul Razak) lewat, aku berlari mengejarnya dan menarik dia untuk ikut ngobrol. Sayang kalau berita ini lewat begitu saja. Hanya sekitar 10 menit setelah memotret moment itu, Bang Razak pergi karena masih ada tugas lainnya. Dari arah panggung group band The Changcuters berteriak-teriak ga jelas dalam cuaca yang ga jelas pula. Obrolan semakin seru tanpa titik temu. Muleg!!


Kemudian datang lagi sepasang pengusaha yang mampir ke stan di mana saya dan Rie berada. Tiba-tiba Bu Nurul berdiri dan menyalami kami dan mengucapkan terima kasih. Sebelum kami membalasnya, saya meminta kartu nama Pak Hariyadi, tetapi sigap Bu Nurul mencegahnya dengan berbahasa yang tidak kami mengerti (Perkiraan kami adalah bahasa Madura). Saya dan Rie berpandangan, membalas jabat tangan, berterima kasih kemudian pergi. Beberapa meter dari tenda, kami ngakak bersama, gemblung!!